Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 79


__ADS_3

Sudah satu minggu setelah kejadian penculikan Liska. Dan hidupnya berjalan dengan tenang untuk saat ini? Entahlah, akhir-akhir ini Aland gencar mendekatinya. Memohon maaf, dan meminta Liska untuk kembali ke sisi. Tapi setiap Aland berbicaranya maka ada Anton yang membungkam mulutnya.


Untuk masalah beberapa orang yang mempunyai masalah dengannya, karma mereka sudah berdatangan dengan sendirinya.


Saham milik keluarga Aland yang tiba-tiba mengalami kebocoran informasi dan mengakibatkan harga saham turun sebesar 4% dalam kurung waktu satu minggu.


Perusahaan keluarga Rehan yang terkena tipu dan mengalami kerugian sebesar 3,11%.


Keluarga Tama dan Adit yang mengalami kebangkrutan dan harus pindah tempat ke kawasan masyarakat menengah.


Keluarga Clesia yang terbukti melakukan korupsi, Ayahnya di penjara dan mereka di depak dari rumah. Serta semua hartanya di sita.


Ariana? Entahlah, Liska tak mendengar kabarnya setelah penculikan waktu itu.


Derana, dia di kirim ke Canada untuk di didik oleh Papinya. Kalian tahu? Papi Derana itu ambisius dan authoritarian parenting atau terlalu memaksakan kehendaknya kepada anak. Dia akan melakukan apa saja agar anaknya mematuhi keinginannya.


Sedangkan Dinda? Dia di kabarkan hilang akal dan sering memberontak. Usaha keluarganya juga mengalami penurunan. Mereka dalam kondisi masalah ekonomi.


Bukan hanya Aland, teman-temannya juga akhir-akhir ini mencoba mendekatinya. Tapi dia hanya membalas dengan dingin.


Dika? Dia di nyatakan koma, setelah menghadapi masa kritis. Satu rahasia yang baru terbongkar, Dika mempunyai penyakit nafas bawaan. Sebab itu saat kejadian di Lab. Kimia keadaan Dika lebih parah dari pada Liska.


                                ♡♡♡♡♡


Hari minggu ini Liska akan pergi bersama Anton.


Dengan tenang dia bersiap, dirinya hanya  memakai kaos putih dan celana jeans.


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya.


"Udah siap?" tanya orang di balik pintu kamar, sebelum membukanya.


"Udah, masuk aja" balas Liska sedikit keras.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dan terpampanglah sosok Anton di sana.


"Hay" sapa Anton dan berjalan mendekat ke arah Liska.


"Nanti pulang mampir ke rumah Yara ya?" tanya Liska sambil mengendong tasnya.


"Kenapa?" tanya Anton dengan raut wajah heran.


"Novel yang dia titip kemarin belum di ambil" balas Liska sambil memperlihatkan sebuah novel yang masih di segel.


"Oke" balas Anton dan menarik tangan Liska pelan.


Mereka mulai jalan keluar kamar dengan langkah tenang. Di bawah sana sudah ada Mama Liska yang berjalan keluar dari dapur.


"Udah mau jalan?" tanya Mama Liska dengan lembut.


"Iya Mah, pamit dulu" balas Liska dengan senyum senang dan berjalan ke arah Mamanya. Dia memberi kecupan ringan di pipi Mamanya.


"Saya pamit tante" ucap Anton dengan ramah dan tersenyum tipis.


"Hm, jaga anak saya" balas Mama Liska sambil menatap Anton dengan raut wajah penuh peringatan.


"Baik, selamat pagi tante. Semoga harinya menyenangkan" balas Anton dengan nada senang dan membawa Liska keluar rumah.


"Liska pamit Mah, jangan lupa sarapan!" teriak Liska sebelum hilang di balik pintu.


"Anak itu" gumam Mama Liska dengan gelengan kepala pelan. Setelahnya kembali berjalan ke arah ruang kerjanya.


Di perjalanan.


"Lis!" panggil Anton dengan cukup keras.


"Apa?!" balas Liska dan mendekat ke arah Anton.

__ADS_1


"Besok kalau udah nikah, tinggal di rumah sendiri atau gimana? Kita sama-sama anak tunggal soalnya" kata Anton dengan mata sesekali menatap Liska dari kaca spion.


"Ngomong apaan sih lu, masih lama kalik" balas Liska sambil mengeplak bahu Anton pelan.


"Kata siapa? Daddy bilang, gue bisa nikahin lu setelah lulus sekolah" balas Anton dan tersenyum di balik helmnya.


"Baru lulus SMK, gue mau kuliah!" balas Liska tak setuju.


"Kuliah setelah nikah di bolehin sayang!" ucap Anton dengan mata fokus menatap ke arah depan.


"Gue belum siap Anton, gue masih kekanakan" balas Liska dengan kepala menyender di bahu Anton.


Mereka berhenti di lampu merah, dengan lembut Anton menghentikan laju motornya.


"Banyak tuh bocil buat bocil, mereka bis- Akh! Sakit Yang!" ucap Anton saat merasakan cubitan di pinggangnya.


"Makanya ngomong yang bener!" ucap Liska dengan tak santai.


Mereka asik berdebat, hingga tak sadar akan sesuatu. Dari samping mereka ada sebuah mobil putih melaju dengan kecangnya, seperti menargetkan kedua orang itu. Jarak mobil semakin dekat, lampu yang menyorot membuat Anton dan Liska sadar, tapi ingin menghindar pun tak bisa. Karena jarak yang semakin dekat dan tanpa bisa di cegah, kecelakaan pun terjadi.


Brak!


Motor Anton terseret cukup jauh, dengan darah yang berserakan di atas kerasnya aspal. Mobil tadi menabrak pembatas jalan dengan cukup keras, hingga bagian depannya penyok.


Tubuh Liska dan Anton terbaring dengan lemah di atas Aspal. Anton yang masih sedikit sadar pun mencari keberadaan Liska. Jaraknya dengan Liska cukup jauh, membuat Anton tak bisa apa-apa. Apalagi dengan tubuhnya yang terasa sakit.


"Sorry Lis" gumam Anton sebelum kesadarannya terengut.


Di sana terjadi kekacauan, banyak orang yang syok atas kejadian itu. Beberapa orang sibuk menelfon rumah sakit dan polisi. Ada juga yang mencoba menghentikan pendarahan Liska dan Anton. Beberapa lelaki juga memeriksa kondisi orang yang membawa mobil tadi.


Lama menunggu, akhirnya beberapa ambulans datang dan membawa korban kecelakaan ke rumah sakit.


 

__ADS_1


__ADS_2