
Sesampainya di tempat tujuan, Liska mulai turun dari motor Anton dan tersenyum lembut ke arah Anton.
"Makasih" ucap Liska dengan senyum tipis.
"Iya, istirahat jangan kemana-mana. Gue pergi dulu" ucap Anton sambil menatap Liska penuh kelembutan.
"Iya, hati-hati di jalan" kata Liska dengan anggukan pelan.
"Pasti, gue cabut dulu" ucap Anton dan menarik gas motornya menjauh dari sana.
Liska menatap punggung Anton beberapa saat, hingga punggung itu hilang, di makan oleh jarak.
"Sorry, gue gak bisa istirahat untuk saat ini. Karena ada hal yang perlu gue lakuin" ucap Liska dan mulai berjalan memasuki gerbang rumah, untuk meminta sopir rumah mengatarkannya.
Mobil yang Liska tumpangin mulai berjalan menjauh dari perkarangan rumah.
Di dalam mobil, Liska sibuk dengan laptopnya, karena petunjuk arah ada di dalam laptop. Dengan teliti dia melihat ke maps, dan memberi arahan kepada sang sopir, saat akan belok atau di pertigaan jalan.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di titik tujuan. Dengan raut wajah serius Liska menatap keluar jendela.
Menatap ke arah rumah yang menjadi titik akhir di maps. Rumah minimalis dengan taman bunga yang mengiasi perkarangan.
Rumah yang cukup asing di ingatan Liska. Mata itu meneliti setiap inci rumah, hingga matanya menangkap seseorang keluar dari dalam rumah.
"Dia?" gumam Liska dengan kerutan di dahinya.
"Bukankah dia orang yang waktu itu? Siapa namanya? Gue lupa" gumam Liska dan mencoba mengingat nama gadis tadi. Tapi naas, otaknya masih saja salah menyebut namannya.
Orang tadi berjalan dengan santai ke sisi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Setelahnya taksi tadi berjalan meninggalkan lingkungan rumah tadi.
__ADS_1
"Ikuti taksi itu pak" ucap Liska kepada sopirnya.
"Baik nona" balas sang sopir dengan sopan dan mulai menjalankan mobilnya.
Di lain tempat.
Sesampainya Anton di sekolah, dirinya sudah di sambut dengan sangat baik. Baru saja turun dari motor, kerah bajunya sudah di cengkeram kuat oleh Aland.
"Dimana Liska?!" tanya Aland dengan raut wajah datar.
Anton diam membisu sambil menatap Aland dengan tajam.
"Sialan!" maki Aland dan tanpa di duga ia memukul Anton. Hingga Anton tersungkur di atas tanah.
Bhug!
"Gue tanya dimana Liska, bodoh!" maki Aland dan kembali mencengkeram kerah Anton.
"Lu-" ucap Aland terpotong dengan satu pukulan dari Anton.
Bhug!
Pukulan Anton tadi cukup keras, hingga membuat Aland berjalan mundur beberapa langkah. Anton mulai bangkit dari duduknya dan menatap Aland dengan remeh.
"Lu mau apa cari-cari Liska? Lu udah gak ada hubungan sama dia. Bukannya pertunangan lu berdua udah dia batalin?" ucap Anton dengan senyum mengejek. Menatap remeh kepada Aland yang berada tak jauh darinya.
Mereka yang menyaksikan perdebatan Anton dan Aland, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka saling tatap dan melemparkan pertanyaan dengan bisikan.
"Ton!" panggil seseorang dari arah belakang Anton.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Anton dengan malas menatap ke arah Rangga.
"Liska mana?" tanya Rangga dan berjalan mendekat ke arah Anton.
"Gue anter ke rumah, kenapa?" tanya Anton sedikit heran.
"Lu belum lihat? Semua udah kebongkar, dan mereka sedang di masa penyesalah. Gue lagi menikmati wajah menyesal itu" ucap Rangga dengan senyum sinis dan mata menatap ke arah Aland.
"Wah! Berita yang cukup bagus" balas Anton dengan senyum mengejek ke arah Aland.
Aland yang merasa di rendahkan pun mengepalkan tangan dan meninggalkan mereka, berniat menyusul Liska ke rumahnya.
"Mau ke mana? Ke rumah Liska? Lupa kalau di sana banyak anjing penjaga?" tanya Anton dengan senyum remeh.
"Gue gak peduli" balas Aland dan mulai berjalan ke arah parkiran.
"Palingan di usir" balas Rangga sambil mengangkat bahu acuh tak acuh.
Sepeninggalan Aland, ponsel Anton berdering menandakan panggilan masuk.
'Selamat pagi tuan muda Fravash, saya ingin menyampaikan jika tadi nona Pramunia pergi keluar rumah di antar oleh sopir, tanpa pengawasan pengawal' ucap orang di seberang sana dengan nada suara hormat.
"Ikuti dan kirim lokasi" balas Anton dengan datar, tanpa menunggu jawaban sang anak buah, Anton sudah mematikan panggilan itu.
"Mau ke mana lu?" tanya Rangga dengan heran saat Anton kembali menaiki motornya.
"Liska keluar rumah tanpa di kawal" balas Anton dengan datar dan pergi begitu saja meninggalkan Rangga.
"Woy! Tungguin anying!" ucap Rangga dan mulai berlari ke arah motornya. Tak lama dia melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, untuk mengejar laju motor Anton.
__ADS_1
Di balik pohon, ada sosok Adit yang menguping dan diam-diam dia juga melajukan motornya untuk mengikuti Rangga dari belakang.