
Jam sudah menunjukkan pukul 13.45 dan Aland baru bangun beberapa menit yang lalu.
Liska yang menunggu sosok Aland bangun sedari tadi pun hanya mengupat dalam hatinya.
Bisa di bayangkan dia menunggu di dalam kamar itu berapa jam? Waktunya di sini benar-benar terbuang dengan sia-sia.
Tanpa memdulikan sosok Aland, Liska membaca buku yang dia temukan tadi dengan tenang. Sedangkan Aland menatap ke Liska dengan sorot mata kesal.
"Gue laper" ucap Aland sambil menatap Liska datar.
"Panggil pelayan" balas Liska tanpa menatap Aland.
"Ck!" decak kesal Aland dan mengalihkan pandangannya dari Liska. Dengan kesal Aland memanggil salah satu pelayan di rumahnya.
"Woy! Gue laper! Buruan kirim makanan!" teriak Aland yang menggelegar di dalam rumah.
Liska yang tadinya fokus ke buku pun merasa sedikit terkejut dan menatap sosok Aland dengan sengit.
"Sopan sekali" sindir Liska sambil menatap Aland penuh permusuhan.
Mendengar perkataan Liska barusan, Aland hanya meliriknya sekilas. Enggan untuk melihat sosok Liska yang ada di depannya.
"Cih!" decih Liska dan kembali fokus ke bukunya.
__ADS_1
Tak lama dua orang pelayan datang membawa makanan untuk Liska dan Aland.
Aland yang melihat senampan makanan untuk Liska hanya bisa mengerutkan dahi tak suka. Dalam benaknya berkata, yang berteriak dia, lalu kenapa mereka juga membawakan makanan untuk Liska? Seharusnya biar dia mengambil sendiri ke bawah tak perlu di bawakan ke atas.
Kedua pelayan itu berjalan ke arah meja bundar yang berada tak jauh dari Liska. Mereka mulai menata makanan tadi di sana.
"Silahkan menikmati, kami undur diri. Selamat siang" ucap salah satu pelayan dengan sopan, setelahnya berjalan keluar dari kamar Aland.
Aland mulai bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja tadi, dengan langkah pelan. Tangannya menarik kursi kecil yang tak jauh darinya.
Dalam diam dia menikmati makan siangnya tanpa memedulikan sosok Liska yang menatap ke arahnya tanpa suara.
Liska mengamati Aland dengan sorot mata menelisik, memastikan apakah orang di depannya sudah lebih baik atau belum. Dan di lihat dari nafsu makannya, membuat Liska menyimpulkan satu hal. Aland lebih dari kata baik.
Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hingga tak menyadari beberapa pasang mata menatap ke arah mereka dengan kerutan di dahi masing-masing. Tak lupa, tatapan bingung dan heran yang mereka pancarkan.
"Mereka ada hubungan, apa bagaimana?" gumam Adit membuyarkan lamunan teman-temannya.
"Entah" balas Tama membalas ucapan Adit barusan.
"Lu berdua ada hubungan apa?" tanya Rehan kepada dua manusia di depannya.
Sedangkan orang yang di tanya merasa sedikit terkejut, karena baru menyadari kehadiran mereka di ambang pintu.
__ADS_1
Liska menatap ke arah Aland dan terlihat Aland masing menatap tak percaya ke arah teman-temannya.
"Cuma di suruh nyokap dia buat jaga anaknya" balas Liska dengan santai, tanpa beban.
"Loh? Kamu deket sama keluarganya kak Aland?" tanya seseorang yang ternyata Dinda. Tubuhnya sedikit tertutup oleh sosok Rehan.
Mendengar pertanyaan Dinda membuat Liska hanya mengangkat bahu acuh tak acuh dan kembali ke aktivitasnya yang sempat tertunda.
"Keluarga Aland sama dia udah deket dari dulu, jadi cukup wajar jika tante Lia meminta bantuannya untuk jaga Aland" jelas Rehan sambil mengelus rambut Dinda dengan lembut.
Mendengar jawaban dari Rehan membuat Dinda mengangguk paham.
Setelahnya, mereka mulai berjalan memasuki kamar Aland dan duduk di atas karpet dengan tenangnya.
Walau ada rasa sedikit canggung karena kehadiran Liska di tengah-tengah mereka. Yah, meskipun Liska hanya diam dan sibuk dengan dunianya sendiri sih, tapi tetap saja canggung.
Mereka bercanda tawa dan Aland sudah ikut bergabung dengan teman-temannya. Dia duduk di samping Dika. Dengan tenang mereka berdua menyimak gurauan dari teman-temannya. Terkadang juga ada sesi perdebatan tak berfaedah dari Adit dan Tama.
Sedangkan Liska merasa tak terganggu sama sekali oleh suara bising dari segerombolan orang tadi. Dia sibuk bermain dengan ponselnya, membalas beberapa pesan yang terkirim untuknya.
Tanpa ada yang sadar, salah satu dari segerombolan orang tadi mengamati gerak-gerik Liska dengan raut wajah rumit.
"Gue rindu canda tawa sama lu" batin orang itu dengan sorot mata rumit, dan mengalihkan pandangannya dari Liska.
__ADS_1