
Di dalam ruangan bercat putih, terlihat seorang gadis yang sedang menelefon seseorang.
"Halo" sapanya dengan raut wajah datar.
'Bagaimana?' tanya orang di seberang sana dengan nada suara serius.
"Sesuai dengan rencana, dia mulai di pandang buruk lagi" balas Clesia dengan senyum sinis.
'Bagus,' balas orang tadi dengan nada suara puas.
'Lanjutkan rencana B' ucap orang tadi dengan datar.
"Hm" gumam Clesia sebelum mematikan sambungan telepon.
Dengan sorot mata penuh akan kebencian Clesia menatap keluar jendela.
"Seorang antagonis akan kembali menjadi antagonis Liska" ucap Clesia dengan sorot mata penuh kebencian.
Di lain sisi.
"Bidak yang pandai" ucap orang tadi dengan tawa puas.
Pagi harinya.
Liska berjalan di sepanjang koridor dengan langkah pelan. Hingga sebuah suara mengejutkannya.
"Pagi Liska!" ucap orang tadi menggelegar di sepanjang koridor.
"Apa lagi ini?" ucap Liska dengan helaan nafas lelah.
Dengan langkah cepat dia berlari ke arah Liska dan merangkulnya.
"Kangen gak sama gue? Lima hari gak ketemu masa gak kangen?" tanya Anton dengan senyum manisnya.
"Lima hari? Baru sadar gue" gumam Liska dengan tenang tanpa memedulikan sosok Anton.
"Sakit hati gue" ucap Anton dengan raut wajah sedih dan menyederkan kepalanya di bahu Liska.
"Ck, emang ke mana?" tanya Liska dengan malas.
"Gue lomba basket, menang loh" ucap Anton dengan senyum senang dan menatap penuh binar ke arah Liska.
__ADS_1
"Lomba basket?" tanya Liska memastikan dan menatap ke arah Anton dengan raut wajah heran.
"Hm, turnamen Nasional" balas Anton penuh binar bahagia karena di tanyai oleh Liska.
"Juara berapa?" tanya Liska penuh tanda tanya.
"Yah, walau gak juara satu setidaknya dapet dua" balas Anton dengan senyum sedikit tak puas.
"Masih ada lomba-lomba yang lain yang bisa tim lu menangi, lagi pula Juara dua juga gak buruk" ucap Liska dengan senyum ramah dan menepuk pundak Anton beberapa kali.
"Duh, makin love gue sama elu" ucap Anton dan memeluk Liska dengan gemas.
"Akhh! Sesek Anton!" ucap Liska sedikit menepuk tangan Anton yang memeluknya.
"Hahaha, sengaja" balas Anton dengan tawa renyah. Mendengar balasan Anton seperti itu membuat Liska kesal dan menatap sinis Anton.
"Oke-oke gue minta maaf, ayo gue anter ke kelas" ucap Anton dan mulai mengajak Liska ke kelasnya. Tangannya masih bertengger di bahu Liska tanpa beban, lagi pula Liska juga tak merasa keberatan. Dengan malas Liska mengikuti langkah Anton. Tanpa memedulikan pandangan banyak siswa yang menonton mereka sendari tadi.
Di jarak yang tak jauh dari mereka, terlihat seorang remaja laki-laki yang menatap ke mereka dengan raut wajah marah dan tangan terkepal erat.
"Sial!" desisnya dengan sorot mata penuh akan ke tidak sukaan.
Jam istirahat.
Saat sosok Liska akan berjalan keluar dari kamar mandi, seseorang membuka pintu dan terpampanglah sosok Dinda di sana.
"Pasti ada sesuatu yang seru" batin Liska dan menatap ke arah Dinda dengan sorot mata santai. Bahkan dengan tenangnya dia duduk di tepi tempat pencucian tangan.
Dinda tersenyum sinis ke arah Liska dan mulai berjalan mendekati Liska.
"Hai, bagaimana kabar?" ucap Dinda dengan senyum penuh arti.
"Buta? Bisa lihat 'kan?" ucap Liska tanpa minat.
Mendengar balasan Liska barusan membuat Dinda menggeram kesal.
"Dayang lu mana? Tumben sendiri, takut kulit wajahnya terkelupas?" ucap Liska dengan senyum remeh ke arah Liska.
"Bener kata Clesia, kamu makin sombong dan keras kepala karena kak Aland perhatian denganmu" ucap Dinda dengan raut wajah tak suka.
"Benarkah?" ucap Liska dengan senyum sinis.
__ADS_1
"Yah, dan aku ingetin jangan sombong dulu! Kak Aland perhatian sama kamu itu cuma karena iba gak lebih. Dia kasihan sama kamu, bukan karena rasa sukannya," ucap Dinda sedikit tak suka.
"Satu lagi, kamu itu pembully! Gak pantas buat kak Aland yang baik!" ucap Dinda dengan tatapan sinisnya.
"Berisik" batin Liska sambil mengorek kupingnya yang terganggu dengan suara Dinda. Entah kenapa, suara yang awalnya terdengan merdu sekarang terdengar cempreng.
"Udah?" tanya Liska sambil menatap malas Dinda.
"Iya!" balas Dinda sedikit kesal.
"Sekarang gue kasih paham, karena mama gue udah bilang buat senang-senang" ucap Liska dengan senyum penuh arti.
"Lu tahu? Gue bukan pengecut yang bully orang di balik layar" kata Liska yang mulai berjalan mendekat ke arah Dinda.
"Mau lihat gue menjadi antagonis yang sesungguhnya? Ayo gue tunjukin" ucap Liska dengan senyum sinis dan secara tiba-tiba tangan Liska sudah menarik kencang rambut Dinda ke bawah hingga sosok itu terjatuh di atas tanah.
"Akhh!" jerit Dinda karena merasa sakit di kepada dan beberapa bagian tubuhnya.
Tangan Liska masih di tempat dan cengkeraman itu bertambah mengencang.
"Lu tau? Gue udah masukin elu ke daftar hitam loh" ucap Liska sambil mencengkeram dagu Dinda.
"Lu tahu end bagi mereka yang masuk ke daftar hitam gue?" tanya Liska dengan senyum penuh arti. Sedangkan Dinda menatap takut dan tak percaya ke arah Liska.
"Satu mereka menjauh sendiri atau hidup mereka suram di sekitar gue" ucap Liska dengan senyum sinisnya dan menatap tajam ke arah Dinda.
"L-lepas" ucap Di da sedikit terbatah dan meringis sakit karena cengkeraman Liska di rambutnya semakin mengencang.
Tanpa di duga Liska membeturkan kepala Dinda ke tembok tak jauh darinya dan melepaskan cengkeramannya begitu saja.
"Balasan karena buat tangan gue luka waktu itu" balas Liska dengan senyum sinis.
"Isshh!" desis Dinda saat merasakan sakit di kepalanya.
Senyum puas tercetak di bibir Liska, puas melihat kondisi Dinda saat ini. Cukup menghiburnya di waktu senggang.
"Jangan lupa bilang ke pengawal lu, gue tunggu" ucap Liska dengan tenang dan tanpa memedulikan sosok Dinda dia mulai berjalan keluar dari sana. Sebelum itu, dia menyempatkan menendang kaki Dinda karena menghalangi jalannya.
"Akhh! Awas kamu Liska! Aku aduin ke kak Rehan!" teriak Dinda sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit karena ulah Liska.
Di depan kamar mandi.
__ADS_1
"Senangnya" ucap Liska dengan senyum senang, setelahnya berjalan dengan langkah ringan ke arah kantin.