Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 59


__ADS_3

Malam harinya Liska sibuk di depan laptop. Ada sesuatu yang harus dia cari, yaitu pemilik dan alamat rumah nomor tadi.


Dengan licahnya tangan itu berselancar di keyboard laptop. Matanya juga menatap penuh teliti ke layar laptop.


Lama Liska bergulat dengan laptopnya dan perjuangannya tak sia-sia, dia menemukan titik terang dari pemilik nomor itu.


"Berguna juga otak gue" gumam Liska dengan nafas lelah.


Dengan teliti dia membaca setiap kata yang ada di layar laptopnya.


"Dia? Nama yang cukup tak asing" ucap Liska saat membaca nama pemilik nomor itu. Nama itu cukup tak asing baginya, tapi dia tak bisa mengingat siapa dia. Pemilik nomor itu terdaftar dengan nama A. Basilia Nareswari.


Merasa lelah Liska mulai mengeprint semua data-data tadi dan mengumpulkannya menjadi satu, setelahnya menyimpan di laci meja belajar.


"Waktunya istirahat" kata Liska dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Di lain tempat.


"Kau akan hancur Liska, kau akan hancur" ucap seseorang di balik kegelapan.


"Kau akan hancur sebentar lagi, dan semua kebahagiaan mu akan musnah. Semua akan musnah, kau akan sendiri dan tak memiliki  apa pun termasuk Ibumu, dia akan berpaling darimu" gumamnya seperti orang gila.


Pagi harinya.


Liska berangkat sekolah bersama Anton. Tentu Anton menjemput Liska tanpa bilang terlebih dahulu. Bisa di bilang jika Liska di paksa oleh Anton.


"Udah?" tanya Anton sambil menatap Liska dari kaca spion motor.

__ADS_1


"Hm" balas Liska dengan malas.


"Pegangan, entar jatuh gue gak tanggung jawab" ucap Anton dan menuntun Liska memeluk pinggangnya.


"Ck! Buruan jalan" ucap Liska dengan kesal.


"Iya sayang" goda Anton dan melajukan motornya. Liska yang sedikit kesal pun mencubit perut Anton.


"Akhh! Sakit Lis" ucap Anton sedikit oleng membawa motor, karena merasa terkejut dan sakit dalam waktu bersamaan.


"Ton, bawa motor yang bener, gue masih mau hidup!" ucap Liska sambil mengeratkan pelukannya, takut terjatuh.


"Makanya jangan sembarangan, kalau tadi kita jatuh gue juga yang sedih. Karena lihat tubuh lu luka karena gue" ucap Anton sambil mengelus pelan tangan Liska yang memeluk pinggangnya. Ada senyum manis tercetak indah di bibirnya.


"Mana gue tahu, gak sengaja juga" balas Liska sambil menaruh kepalanya di bahu Anton.


Banyak pasang mata menatap ke arah mereka dengan raut wajah tak percaya. Sebagian besar siswa mengatakan jika Anton dan Liska pagi itu terlihat sangat serasi, apalagi tindakan Anton yang membantu Liska melepaskan helm.


"Mau di anter?" tawar Anton sambil merapikan rambut Liska.


"Gak usah, tuh temen lu udah nunggu" ucap Liska sambil menunjuk ke arah Arka dan Dino berada.


Anton menatap ke arah yang Liska tunjuk, di sana ada sosok Dino yang menatap ke arah mereka dengan raut wajah malas dan tak berminat. Sedangkan Arka menatap santai ke arah mereka, dengan salah satu tangan di masukan ke saku celana.


"Biarin, jangan peduli 'in mereka" ucap Anton dengan santai tanpa melihat respons yang Dino keluarkan.


"Pagi-pagi mesra amat mbak, mas!" teriak Dino dengan nada suara menyindir.

__ADS_1


"Jangan tebar-tebar keromantisan terus, entar ada orang ketiga loh!" teriak Dino lagi dengan senyum puas saat melihat raut wajah kesal Anton.


"Berisik!" kata Anton sambil menatap Dino penuh peringatan.


"Santai bro, gue cuma bercanda" ucap Dino dengan senyum kikuk dan bersembunyi di belakang tubuh Arka.


Tanpa memedulikan sosok Dino lagi, Anton mulai menarik tangan Liska dengan lembut dan mengantarnya ke kelas.


Di pintu gerbang, ada sosok yang mengepalkan tangan karena emosi dan rasa panas yang tiba-tiba hadir di hatinya.


Dino yang tak sengaja menatap ke arah Aland pun tersenyum mengejek.


"Panas ya Ar" ucap Dino sambil mengibaskan tangannya ke muka. Matanya juga sesekali menatap ke arah Aland berada.


"Enggak" balas Arka dengan raut wajah polosnya.


"Si anjir! Punya temen bloon amat" ucap Dino sambil menatap Arka dengan raut wajah datar.


"Hah? Gue salah?" tanya Arka dengan raut wajah bingung.


"Enggak, lu gak salah tapi gue yang salah karena punya temen kek elu" ucap Dino dengan gemas dan berjalan meninggalkan Arka sendiri.


"Loh? Kok marah?" gumam Arka dengan heran.


"Enggak panas kok. Lagi mendung juga, panas dari mana?" ucap Arka sambil menatap langit pagi itu.


Tak ingin berpikir terlalu lama Arka hanya mengangkat bahu tak peduli dan berjalan menyusul langkah Dino.

__ADS_1


"Sial" desis Aland dan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri.


__ADS_2