
Di tengah-tengah perkelahian itu, ada sosok perempuan sedang mengendap-endap ke arah mobil Anton. Dia berjalan mendekat ke sisi Liska berada.
"Anton!" teriaknya yang menggelegar, hingga membuat Rangga dan Liska terkejut.
Anton yang merasa namanya di panggil pun menatap ke sumber suara.
"Berhenti atau gue tembak Liska!" teriaknya dengan nada suara keras dan raut wajah mengeras.
Mendengar perkataan Ariana, bukannya merada cemas, Anton hanya menatap tak berminat dan memberi satu pukulan akhir untuk lawannya.
"Tembak aja kalau mampu" balas Anton dengan santai dan menatap Ariana datar.
Ariana yang mendengar perkataan Anton tadi pun merasa tak percaya. Karena merasa tertantang, dia mulai menarik pelatuk pinstolnya. Kalian tahu apa yang terjadi? Peluru itu terjebak di kaca jendela mobil Anton.
"Mobil gue anti peluru" ucap Anton dengan senyum sinis.
Anton berjalan ke arah Ariana dengan senyum sinis dan langkah pelan. Tangannya mengambil sesuatu dari balik jaketnya.
"Mau bermain?" tawar Anton dengan tangan memegang pisau lipat dan menatap remeh ke arah Ariana.
"Berani lu mendekat, gue tembak lu!" teriak Ariana dengan raut wajah sedikit takut, karena merasa tertekan dengan aura yang di keluarkan oleh Anton.
Tangannya mulai menarik pelatuk pistol dan Anton sudah bersiap. Tapi bukannya peluru yang keluar, melainkan hanya hembusan angin kecil.
"Habis eh? Kasihan" ucap Anton dengan senyu remeh.
"Tangkap" ujar Anton sambil menatap ke arah Rangga. Melihat raut wajah perintah Anton, Rangga mulai keluar dari mobil dan berlari mengejar Ariana yang mencoba melarikan diri. Tak lama Ariana berhasil di tangkap oleh Rangga.
__ADS_1
"Lepas!" teriak Ariana dan memberontak, karena tubuhnya di kunci oleh Rangga.
Anton tersenyum puas, dan menatap ke belakangnya. Di sana anak buahnya dan Adit yang berhasil mengalahkan preman sewaan Ariana.
Melihat kondisi yang sudah aman Liska mulai keluar dari mobil dan berjalan ke arah Anton.
"Thanks" ucap Liska sambil memeluk tubuh Anton dari belakang.
Anton yang mendapat pelukan dadakan dari Liska pun tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia membalikkan badan dan mengurung Liska dalam pelukannya.
"Jadi milik gue mulai sekarang" ucap Anton di dekat telingan Liska sambil mengelus rambut Liska lembut.
"Apaan, gak-" ucap Liska terpotong oleh perkataan Anton.
"Gak ada penolakan sayang" ucap Anton dengan senyum manis dan memberikan kecupan kecil di dahi Liska.
Dari arah jam 11 terdengar suara deru kendaraan yang mendekat.
"Baru sampai? Lelet" cibir Rangga sambil menatap ke arah mereka dengan malas.
Mereka mulai turun dan berjalan mendekat, saat Rehan akan membuka suara, dengan cepat Rangga memotong.
"Tuh temen lu mau sekarat" ucap Rangga dengan tenang sambil menunjuk ke arah Adit yang sudah terbaring di atas tanah karena merasa lelah.
Mereka menatap ke arah Adit dan tanpa menunggu lama Tama mulai berjalan mendekat ke arah Adit dan membantunya berdiri.
"Lis" panggil Aland dengan mata menatap lekat ke arah Liska. Liska menatap ke arah Aland dengan datar dan tanpa minat.
__ADS_1
Dengan senyum lembut Aland menatap ke arah Liska dan ingin berjalan mendekat, tapi terhenti saat melihat Anton memeluk Liska dengan posesif dari belakang.
Anton menatap datar ke arah Aland. Sedangkan Liska yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Anton hanya menatap ke arah sang pelaku dengan raut wajah heran.
"Ada perlu apa lu sama pacar gue?" tanya Anton dengan kepala dia senderkan di bahu Liska.
Liska yang mendengar nada suara tak suka dari Anton pun tersenyum kecil dan mengelus rambut Anton sekilas.
"Kenapa?" tanya Liska dengan datar, tanpa menatap ke arah Aland. Matanya lebih berminat menatap ke arah Anton.
"Lu berdua..." ucap Aland menggantung, sambil menatap kedua orang di depannya dengan raut wajah tak percaya.
"Yah, baru aja resmi" balas Anton dengan senyum mengejek.
Aland menatap sepasang kekasih itu dengan tangan terkepal kuat dan mata menyiratkan rasa tak suka.
"Gak jadi bicara? Buang-buang waktu" kata Anton dengan malas.
Tanpa menunggu lama Anton membawa Liska untuk masuk ke dalam mobilnya. Rangga? Dia sudah masuk mobil pengawal Anton sendari tadi. Dan sosok Ariana sudah terikat kencang di belakang.
"Karma buat kita" ucap Tama dengan senyum miris, setelahnya membawa Adit ke arah mobil.
"Cabut" ucap Rehan dan berjalan mendekat ke arah motor Adit. Aland masih berdiri di tempat dengan sorot mata kosong.
"Apa hubungan gue sama Liska selesai gitu aja? Gak ada kesempatan buat gue memperbaiki semua ini?" batin Aland dengan mata menatap ke bawah dengan sorot mata kosong.
Jika di tanya, apakah dia menyesal? Jawabannya sudah pasti iya. Jika boleh, dia ingin mendapat satu kesempatan lagi dari Liska dan tak akan dia sia-siakan satu kesempatan itu.
__ADS_1