
Setelah menuangkan cairan tadi, tanpa di sangka dari dalam gelas ramuan Liska keluar asap dan tak lama ramuan tadi meledak membuat siswa-siswi di dalam sana panik dan menatap ke sumber suara.
Meja Liska yang tadinya sudah tertata rapih pun kembali berantakan bahkan semakin kacau.
Liska pun tak kalah terkejut atas apa yang terjadi, sedangkan Dinda tersenyum senang melihat sosok Liska walau dirinya juga sedikit terkena imbas.
Saat Liska akan membuka suara, sesuatu tak terduga terjadi. Ledakan susulan terjadi, bahkan lebih dasyat.
"Semuanya keluar!" teriak sang guru pembimbing dan menyuruh semua siswa keluar dari sana.
Banyak siswa yang mulai berlari keluar dari dalam laboratorium. Dinda juga tak kalah panik, tak pernah terpikir olehnya juka akan terjadi deperti ini. Dia hanya berpikir, mungkin akan ada ledakan sedikit dari hasil ramuan Liska.
Semua siswa mulai berlari keluar ruangan, sedangkan Liska masih berdiri mematung di tempat. Dirinya masih ada sedikit trauma tentang kejadian yang menimpanya sebelum tersesat di sini. Telinganya berdenging dengan cukup keras, menulikan pendengaran dari jerit-jeritan siswa yang berlari keluar laboratorium. Bahkan dia sempat lupa caranya bernafas, karena mengingat rasa sakitnya waktu itu.
Di luar ruangan.
Yara menghembuskan nafas lega karena bisa keluar dari dalam ruangan. Matanya menatap ke sekeliling, mencari sosok Liska. Tapi matanya tak menemukannya di mana pun.
"Lu tahu Liska di mana?" tanya Yara ke salah satu siswa di sampingnya.
"Mana gue tahu" balas siswa tadi dengan sinis dan berjalan menjauh dari Yara.
"Santai dong! Gue nanya baik-baik juga!" balas Yara dengan raut wajah kesal.
"Lu lihat Liska, Yar?" tanya Rangga yang sudah berdiri di belakang Yara.
__ADS_1
"Ini gue juga lagi nyari!" balas Yara sedikit membentak.
"Santai elah, ngegas amat mbak" kata Rangga sedikit terkejut dengan suara Yara.
"Sama elu gue gak bisa santai!" balas Yara dengan raut wajah sinis.
"Serah, sekarang kita cari dulu keberadaan Liska. Gue ke sana lu ke situ" kata Rangga dan tanpa menunggu lama dia berjalan mencari sosok Liska ke sisi bagiannya.
Melihat tingkah Rangga, Yara hanya bisa berdecak kesal dan mulai mencari sosok Liska ke sisi yang lain.
Beberapa menit kemudian mereka kembali ke titik awal dengan raut wajah cemas.
"Liska gak ada" ucap Rangga dengan deru nafas sedikit memburu.
"Sama! Gue juga gak lihat Liska!" ucap Yara yang mulai panik.
"Liska mana?!" tanya Dika sedikit panik.
"Gak tahu, udah kita cari tapi gak ketemu!" balas Yara yang sudah terlihat panik.
"Sial!" gumam Aland dengan mata menatap ke sekelilingnya, tapi naas sosok Liska memang tak terlihat.
Dika menatap ke dalam ruangan tadi dengan raut wajah rumit, dalam benaknya berkata jika Liska masih di dalam. Tanpa mengatakan apapun, Dika mulai berlari menebus beberapa guru yang berjaga. Dirinya nekat masuk ke dalam laboratorium untuk mencari sosok Liska. Beberapa guru meneriaki nama Dika dan menyuruh Dika untuk keluar, karena keadaan Lab. Kimia yang masih belum stabil, apa lagi banyaknya bahan kimia di dalam membuat kemungkinan-kemungkinan buruk bisa terjadi tanpa di duga.
"Liska!" teriak Dika dengan mata menatap ke sekelilingnya dengan teliti, karena asap yang menutupi penglihatannya.
__ADS_1
"Sial!" desis Dika saat matanya tak bisa melihat dengan jelas kondisi di sekelilingnya, apa lagi bau menyengat di dalam ruangan. Dengan cekatan tangannya mengambil sapu tangan di kantong baju dan sapu tangan itu dia gunakan untuk menutupi hidungnya, agar dia tak terlalu banyak menghirup asap di dalam laboratorium.
Dika mulai berjalan tak tentu arah, hingga cukup lama matanya menangkap sosok berdiri tak jauh darinya.
"Liska?" gumam Dika dan mulai berjalan mendekat. Semakin dekat, dapat dia lihat bahwa itu benar Liska. Dengan langkah cepat, Dika mulai berlari ke arah Liska dan memberi tepukan pelan di pipinya.
"Hey! Lis!" panggil Dika sambil menepuk pipi Liska pelan.
"Hah?" kejut Liska dan menatap ke sekelilingnya dengan raut wajah panik. Yang tadinya dia lupa untuk bernafas karena traumanya, pun mulai bernafas dan sedikit merasa sesak di dada karena gas asing yang dia hirup.
"Tenang oke? Ada gue, sekarang ayo kita keluar" ucap Dika dengan lembut dan mulai membawa sosok Liska keluar dari laboratorium. Tak lupa dia menaruh sapu tangannya tadi ke hidup Liska.
Mereka mulai berjalan ke arah pintu keluar, membutuhkan waktu sedikit lama. Karena lama kelamaan langkah Dika semakin memberat, matanya juga mulai memburam. Sedangkan Liska, dadanya mulai terasa sesak saat bernafas.
Saat sampai di pintu keluar sosok Dika sudah tak mampu bertahan dan dengan keras tubuhnya menghantam lentai.
"Dika!" teriak Liska dengan terkejut dan berjongkok menatap Dika cemas.
Mendengar teriakan Liska tadi membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya dan mereka juga terkejut saat melihat sosok Dika pingsan di sana. Beberapa guru menyuruh siswa laki-laki untuk mengotong Dika dan membawa Liska menjauh dari sana. Liska dan Dika di beri alat bantu pernafasan, setelahnya mereka di bawa ke rumah sakit dengan mobil sekolah.
Di lain sisi.
Terlihat sosok Dinda yang meremas jari-jemarinya dengan cemas. Apalagi saat melihat kondisi Dika saat itu, membuatnya bertambah cemas, takut jika ketahuan dialah dalang dari kejadian ini.
"Bukan, bukan ini maksudku. Aku harus bagaimana? Aku takut, takut di benci. Enggak, gak ada orang yang tahu bahwa aku yang melakukan itu. Yah, gak ada yang tahu" ucap Dinda dengan postur tubuh resah.
__ADS_1
Tanpa Dinda sadar, ada sepasang mata yang menatap ke arahnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumamnya sambil mereka ponselnya dengan bimbang.