Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 68


__ADS_3

Aland berjalan tak tentu arah, karena di tinggal oleh sang Ayah membuat Aland mau tak mau harus berjalan sampai ke rumah.


Lama dia berjalan hingga langkahnya terhenti di depan taman yang cukup sepi.


Kakinya mulai berjalan memasuki taman, dirinya berhenti di pojok belakang taman.


"Sial! Dia mutusin pertunangan?" ucap Aland dengan kekehan garing di akhir kalimat.


"Dia mutusin pertunangan dengan alasan perbuatanku kepadanya selama ini? Omong kosong!" teriak Aland dengan mata menatap tajam ke arah depan.


Tanpa di duga otaknya mengulang semua perbuatannya kepada Liska selama ini.


"Gue ngelakuin itu juga karena dirinya sendiri, tindakan gue gak salah" ucap Aland menepis kebenaran.


Di lain sisi.


Setelah makan malam tadi, Ayah Aland benar-benar marah. Rencananya gagal karena tindakan bodoh anaknya itu.


"Keparat!" ucapnya sambil membanting barang yang ada di meja kerjanya.


Dia diam beberapa saat hingga ingat akan satu hal.


"Mereka sudah merencanakan ini, wanita-wanita lemah sialan!" ucap Ayah Aland dengan guratan marah di wajahnya.


"Sial hancur sudah rencanaku, jika wanita itu berani membuat siasat seperti ini, maka tak ayal, dia bisa kapan saja  mencabut sahamnya di perusaanku. Habis sudah perusahaanku jika itu terjadi!" katanya dengan marah dan mengebrak meja kerjanya dengan keras.

__ADS_1


"Semua ini tak akan terjadi jika anak bodoh itu mengikuti perkataanku!" desisnya dengan tangan terkepal kuat.


"Mas" panggil sang istri dengan raut wajah takut.


"Apa?!" bentak suaminnya sambil menatap tajam ke sumber suara.


"Maaf, tapi Aland belum pulang" balas Bunda Aland dengan raut wajah takut.


"Bukan urusanku, gara-gara anak itu rencanaku untuk mengikat keluarga mereka, gagal!" balas sang suami dengan dingin. Setelahnya berjalan ke luar ruangan dengan langkah tegap.


"Dia mati pun, saya tak peduli. Bahkan itu lebih baik dari pada dia hidup dan menjadi beban" kata Ayah Aland dengan datar saat berada di samping istrinya. Matanya melirik sejenak respons sang istri, setelahnya berjalan menjauh dengan senyum sinis.


Bunda Aland masih berdiri di tempat dengan raut wajah kaku.


Di lain tempat.


"Waw! jahat sekali dia" gumam Liska saat melihat salah satu video yang memperlihatkan sosok Dinda yang di ikat dan di tutup matanya, setelah itu dia di bully secara fisik.


Video-video yang lain juga kurang lebih seperti itu. Dinda di bully tanpa tahu siapa yang membullynya.


"Mereka bagaikan penjahat yang haus akan menyiksa seseorang" gumam Liska dengan gelengan kepala pelan.


Beberapa menit berlalu dan Liska sudah cukup lama berkutat dengan laptopnya, akhirnya pekerjaannya selesai juga.


"Beres" kata Liska dengan senyum puas, sebelum dia ingat akan sesuatu.

__ADS_1


"Ah iya, orang itu" ucap Liska dan kembali sibuk berselancar di laptop tapi dengan gambar layar yang berbeda. Masih ingat nomor yang Liska curi dari ponsel Clesia? Dia sedang mencari alamat pemilik dari nomor itu.


Matanya sibuk menatap ke layar dan tangan itu juga sibuk di keyboard laptop.


"Jl. Cempaka no.3?" ucap Liska dengan raut wajah heran. Liska masih sibuk di depan laptopnya, entah apa yang dia cari.


Di lain sisi.


"Lu beneran suka Liska?" tanya seorang pemuda dengan raut wajah heran.


"Tindakan gue selama ini kurang jelas?" tanya Anton balik tanya dengan raut wajah malas.


"Enggak sih, tapi gue masih heran. Kenapa harus Liska?" tanya Dino dengan raut wajah penasaran.


"Dia beda" balas Anton dengan senyum penuh arti.


"Beda gimana?" tanya Dino tak paham dengan perkataan Anton.


"Dia berbeda dari yang lainnya" balas Anton dengan ambigu.


"Serah, pusing gue sama jawaban lu yang bertele-tele" kata Dino yang mulai kesal dengan Anton, dan menyibukkan diri dengan gamenya.


"Dia beda, karena nolak pesona gue" lanjut Anton dengan senyum menjengkelkan.


"Bangkek lu" ucap Dino sambil melemparkan bantal sofa ke arah Anton.

__ADS_1


Melihat kekesalah Dino membuat Anton tak bisa menahan tawanya.


__ADS_2