
Liska berjalan menyusuri koridor dengan raut wajah datar dan sorot mata kesal.
"Gila mereka," gumam Liska dengan nada suara tersirat kekesalan.
Kakinya terus berjalan, hingga ada seseorang yang menarik lengannya dan tanpa bisa di cegah sebuah tamparan hinggap di pipinya. Tamparan itu cukup keras hingga wajah Liska sampai tertoleh ke kiri.
"Kamu keterlaluan Liska! Kamu yang ngunciin Dinda di gudang 'kan?! Kamu tahu tidak, Dinda itu takut di ruang gelap dan pengap! Dia memiliki trauma!" teriak seorang gadis dengan raut wajah marah dan dada yang naik-turun karena amarahnya.
Beberapa siswa menghentikan aktifitasnya dan menatap ke mereka berdua dengan raut wajah berminat.
Liska masih memalingkan wajahnya, bahkan wajah itu tertutup oleh rambut panjangnya.
Dengan pelan dia menatap ke sang pelaku. Tangan kanannya menyentuh bekas tamparan orang tadi dan menatap sang pelaku dengan dingin serta senyum sinis.
"Lu cari masalah" ucap Liska penuh akan tekanan. Dia paling benci dengan seseorang yang berani main tangan dengan dirinya. Karena di kehidupannya dulu, dia di besarkan di keluarga yang menjunjung tinggi norma, tak ada perkataan saling merendahkan dan bermain tangan. Orang tuanya saja, menasehatinya dengan lemah lembut saat dia melakukan kesalahan. Lalu siapa gadis ini yang berani mengangkat tangan kepadanya?.
Melihat respons Liska yang di luar dugaan membuatnya sedikit terkejut, tapi dia tepis jauh-jauh.
"Dia masih Liska yang sama, perempuan bodoh dan lemah" batinnya menyakinkan dirinya sendiri.
"Kamu kira aku takut?!" ucapnya dengan nada suara menantang.
Perdebatan mereka berdua memincu perhatian banyak siswa-siswi, bahkan sudah banyak murid yang menonton perdebatan itu. Bahkan ada yang diam-diam merekamnya.
__ADS_1
"Benarkah?" ucap Liska dengan senyum mengejek dan berjalan mendekati sosok di depannya. Dengan raut wajah mengejek Liska menatap orang itu, apalagi saat melihat lawan bicaranya berjalan mundur.
"Mau a-apa kamu?! Jangan mendekat!" ucapnya dengan raut wajah cemas.
"Cih!" decih Liska dan menatap name tag perempuan di depannya.
"Clesia?" ujar Liska dengan senyum misterius. Dia tahu siapa Clesia, di dalam novel di ceritakan Clesia adalah teman dekat Dinda, yang selalu seenaknya sendiri kepada Liska yang dulu.
Clesia yang merasakan perubahan di Liska pun mulai cemas dan waswas. Takut hal yang di luar nalar menimpanya.
Baru saja Clesia ingin memasang sikap sianga, tapi dia sudah kecolongan. Secara tiba-tiba Liska mencengkeram rahang Clesia dengan kasar. Kukunya memang tak panjang, tapi rahang Clesia terasa sakit dan kaku.
"Punya bukti apa lu nuduh gue?" desis Liska sambil menatap tajam Clesia.
"Mau cari perhatian eh?" bisik Liska di dekat telingan Clesia membuat lawan bicaranya tak tenang dan menatap ke arah Liska dengan sorot mata tak percaya.
"Lu yang cari masalah dan awal permainan di mulai stupid" ucap Liska dan melepaskan cengkeraman tadi dengan kasar, hingga membuat Clesia terjatuh di atas lantai dengan kerasnya.
"Issh!" ringis Clesia saat merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
Dalam sekejap raut wajah Liska berubah, dia menjadi lebih tenang dan tanpa emosi.
"Ada bukti? Apa alasan lu nuduh gue?" ucap Liska dengan raut wajah tenang dan menatap datar Clesia.
__ADS_1
"L-letak gudang d-deket sama kelas lu" ucap Clesia sedikit gugup karena tatapan mengancam dari Liska.
"Alasan yang tak masuk di akal. Jadi jika letak gudangnya berada di samping kelas lu, bisa jadi elu yang ngelakuin 'kan?" tanya Liska dengan senyum mengejek.
"Tidak! Mana mungkin!" balas Clesia dengan cepat dan mulai bangkit dari jatuhnya.
"Lalu?" ucap Liska dengan senyum mengejek.
"Aku yakin kamu pelakunya, karena kamu iri dengan Dinda!" ucap Clesia dengan nada suara percaya diri.
"Iri? Apa yang gue iri 'kan darinya?" ucap Liska dengan nada suara remeh.
"Karena Dinda pacarnya kak Rehan dan dekat dengan mereka, sedangkan kamu tak bisa. Padahal kamu sudah mencoba mendekati mereka sendari dulu!" ucap Clesia dengan cepat.
"Cih! Tak masuk di akal. Dari segi mana pun gue yang lebih baik dari pada Dinda. Dari segi keluarga, prestasi, kebahagiaan, dan jangan lupakan dari segi materi" ucap Liska dengan raut wajah tenang.
Clesia yang mendengar perkataan Liska barusan, hanya bisa menatap ke arah Liska dengan geram dan mengepalkan tanganya kuat.
"Dan untuk gue ngejar mereka, bukannya sebelum datangnya Dinda gue yang lebih dulu kenal mereka dan dekat dengan mereka? Semua orang tahu itu" ucap Liska dengan senyum remeh.
"Seharusnya lu tahu posisi Dinda bukan?" ucap Liska dengan senyum sinis.
Setelah mengatakan itu tanpa menunggu lama Liska mulai berjalan menjauh dari sana, sebelum itu dia sedikit menyenggol bahu Clesia hingga membuat Clesia mundur beberapa langkah. Dia tak memedulikan tatapan dari beberapa murid untuknya.
__ADS_1
"Sial" desis Clesia dengan tangan terkepal erat, menyalurkan rasa kesalnya.