
Liska menunggu di samping pos satpam, dengan tangan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Hingga mata itu menangkap satu DM di akun Instagram miliknya.
Awalnya dia sedikit heran hingga matanya melihat foto profil orang itu, rasa herannya pun sirna dalam sekejab dan di ganti dengan kejengkelan.
"Gak ada kerjaan" gumam Liska sedikit kesal. Tanpa berminat Liska mengabaikan DM tadi.
Tak lama sosok Rangga pun datang dengan motor kesayangannya.
"Woy! Pulang kagak!" ucap Rangga yang sudah berhenti di depan pagar dengan raut wajah menjengkelkan.
"Iya" balas Liska dan memasukkan ponselnya. Saat dia akan berjalan menghampiri Rangga, tiba-tiba suara deru motor masuk ke indera pendengarannya. Dari samping, terlihat sosok Rehan dan Dinda yang melewatinya begitu saja.
"Cih, songong amat!" gumam Rangga yang masih bisa Liska dengar.
Rangga benar-benar tak suka dengan kedua pasangan itu. Rasanya ingin dia bantai saat itu juga.
"Udahlah, ayo pulang" ucap Liska sambil menepuk pundak Rangga pelan, setelahnya menaiki motor dengan bantuan bahu Rangga.
Setelah Liska duduk di jok belakang, Rangga mulai melajukan motornya meninggalakan perkarangan rumah Aland.
Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang menatap ke arah mereka sendari tadi.
Dari arah belakang orang tadi datang seseorang dengan senyum mengejek.
"Kenapa? Cemburu?" tanya Dika dengan senyum penuh arti.
"Buat apa?" tanya Aland tanpa minat dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Cih! Gengsinya terlalu besar" decih Dika dengan senyum puas, puas melihat raut wajah tak sedap di wajah Aland.
Di lain tempat.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Dia mulai berubah, tak mudah untuk di permainkan lagi" gumam seorang gadis dengan raut wajah cemas dan tak lupa kuku jari yang di gigit untuk melampiaskan rasa cemasnya.
"Tidak! Pasti ada cara lain untuk kembali merundungnya. Hidupnya tak boleh tenang" ucapnya dengan sorot mata penuh akan kebusukan.
Setelehanya, gadis tadi tersenyum sendiri seperti orang gila pada umumnya. Karena otaknya itu mendapatkan sebuah rencana baru.
Pagi harinya.
Hari ini Aland memutuskan untuk berangkat sekolah. Dia itu tipekal murid rajin, maklum ketua OSIS SMK Merdeka.
Dengan perasaan sedikit berbeda dia berjalan keluar rumah. Entah kenapa pagi ini perasaanya begitu indah, berbeda dari hari-hari biasanya. Seperti ada dorongan untuknya agar segera sampai di sekolahan.
Dia mengendarai motor dengan kecepatan sedang, tak terlalu cepat atau lambat. Sambil menikmati udara pagi yang sudah tercemari oleh polusi kendaraan.
Sesampainya di area sekolah, dirinya langsung berjalan ke arah ruang OSIS. Karena ada tugas yang harus dia emban setiap paginya. Apa lagi kalau bukan mengawasi murid-murid dengan aktributnya.
Pertama dia absensi terlebih dahulu atas kehadirannya hari ini. Setelah itu dia berjalan dengan tangan sibuk memakai topi sekolah.
Langkah kaki membawanya ke arah gerbang, dengan postur tegap dia berada di samping gerbang dengan mata yang jeli melihat satu persatu siswa. Di gerbang sudah ada beberapa anggota OSIS yang bertugas hari itu.
Dirinya masih tenang, sebelum melihat sosok yang amat dia kenal. Sosok yang kemarin menemaninya saat sakit hingga pulang.
"Sial!" desis Aland dengan tangan terkepal erat.
__ADS_1
Entah kenapa dia merasa tak suka dan kesal saat melihat Liska berangkat bersama cowok itu. Salah satu persaingnya yang cukup hebat, hanya berselisih satu tingkat darinya.
Dengan sorot mata tajam Aland menatap ke duanya. Dapat dia lihat dengan jelas raut wajah bahagia dari Anton.
Benar-benar pagi yang sial, mood yang tadinya bagus tiba-tiba berubah jadi buruk. Dan lagi, dia masih tak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Memang sangat pintar dalam urusan tugas sekolah tapi sangat bodoh dalam urusan perasaan.
Di lain sisi.
Liska menatap malas ke arah Anton. Tadi pagi, entah bagaimana caranya dia sudah sampai di depan rumahnya dan mengaku kepada mama Liska jika mereka berdua sudah jinjian berangkat bersama pagi ini.
Benar-benar membuat darah tinggi di pagi hari.
Berbeda dengan Liska, Anton tersenyum bahagia karena pagi ini dia berhasil berangkat bersama Liska.
"Besok-besok gak usah ada acara jemput" ucap Liska sambil menatap sinis Anton.
"Gak janji" balas Anton dengan senyum manisnya, setelah itu dia pergi meninggalkan Liska dengan langkah ringan.
"Ck!" decak kesal Liska sambil menatap sengit ke arah Anton. Tak memedulikan beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya dengan sorot mata tak suka.
Banyak bisik-bisik yang di tunjukkan untuk Liska dan Anton. Mereka berpikir jika sosok Liska dan Anton memiliki hubungan tanpa di ketahui banyak orang.
Tanpa memedulikan bisik-bisik itu, Liska mulai berjalan ke arah kelasnya.
Tanpa di sadari banyak orang, ada seseorang yang menahan rasa kesalnya. Apa lagi ada yang mengatakan jika Liska dan Anton mempunyai hubungan.
"Sial!" desisnya tanpa suara, dengan langkah penuh akan tekanan dia berjalan meninggalkan tempatnya berdiri.
__ADS_1