
Seperti hari senin pada umumnya, saat ini SMK Merdeka sedang melaksakan upacara mingguan.
Di tengah-tengah lapangan sudah ada petugas upacara yang melaksanakan tugasnya, dan para siswa-siswi yang fokus ke kegiatan di depan mereka. Upacara pagi ini terlihat berjalan dengan hikmat.
Di tengah-tengah barisan tadi terlihat salah satu siswi dengan wajah pucatnya. Dengan tubuh sedikit berayun dia mencoba mempertahankan posisinya. Kepalanya terasa berat dengan telinga yang berdenging, apalagi pagi itu matahari terlihat cukup terik.
Di belakang siswi tadi ada seorang temannya yang terlihat cemas. Dia menatap ke arah sosok di depannya dengan sorot mata cemas.
"Lu gak apa-apa Lis?" tanya Yara dengan nada suara khawatir sambil menepuk pundak Liska pelan.
"Yah, gue oke" balas Liska dengan lirih, takut jika suaranya terdengar oleh petugas upacara atau guru.
"Lu yakin? Tadi wajah lu pucet banget loh Lis. Ayo gue anter ke UKS" ucap Yara dengan nada suara sedikit memelan.
Liska hanya diam, karena tak mendengar secara jelas perkataan Yara tadi. Dia terlalu fokus dengan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Sakit di kepalanya begitu terasa saat ini, keringat dingin pun mulai membanjiri dahinya. Kerutan-kerutan halus mulai menghiasi di dahinya. Tak membutuhkan waktu lama, tubuhnya mulai limbung ke depan.
"Liska!" teriak Yara karena merasa terkejut saat melihat Liska terjatuh di depannya.
Mendengar jeritan Yara barusan membuat banyak pasang mata menatap ke arahnya dan mereka sedikit terkejut saat melihat ada seseorang terjatuh pingsan.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, salah satu di barisan depan mulai berlari ke arah sosok itu dan sekali angkat dia membawa sosok Liska ke dalam gendongannya.
Semua orang menatap ke arahnya dengan sorot mata tak percaya. Dalam benak mereka bertanya, bagaimana mungkin sosok kaku seperti Aland cemas kepada seorang gadis terutama sosok itu yang dulu dia benci?.
Aland berlari ke arah UKS dengan raut wajah datar tapi sorot matanya menyiratkan kecemasan, apa lagi melihat wajah pucat Liska.
Di lapangan.
Sepeninggalan Aland, petugas upacara dan beberapa guru kembali menertibkan barisan. Setelah itu upacara yang tadinya sempat tertunda kembali di lanjutkan.
Banyak siswa yang melanjutkan kegiatan upacara dengan prmikiran heran dan bertanya, dalam benak mereka bertanya tentang sikap Aland barusan.
Tak jauh berbeda dengan yang lain, Yara juga merasa terkejut dengan tindakan Aland tadi. Sedangkan Anton berdiri di barisannya dengan tangan terkepal erat.
"Dasar bodoh" makin Anton dengan nada suara pelan untuk dirinya sendiri.
"Kecolongan lu" ucap Dino dengan senyum mengejek.
"Berisik!" ucap Anton dengan nada suara tersirat penuh akan kekesalam.
__ADS_1
Melihat reaksi Anton seperti itu membuat Dino tak kuat menahan tawanya. Dengan sekuat tenaga dia menahan suara tawa agar tak terlalu keras.
Arka yang melihat tingkah Dino hanya menggelengkan kepala pelan, setelahnya dia kembali fokus ke kegiatan upacara.
Di lain sisi.
Aland duduk di samping tempat tidur Liska dengan salah satu tangan menggenggam tangan Liska erat. Dan yang satunya sibuk untuk mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Liska. Hanya membawanya ke dekat hidung Liska, untuk pemancing Liska cepat sadar.
Beberapa saat kemudian Liska mulai memberi tanda-tanda akan sadarkan diri. Melihat itu Aland tanpa sadar mengucapkan syukur dan tersenyum lega.
"Emm.." gumam Liska saat merasakan sakit di kepalanya. Dengan pelan tangannya memijat pelipisnya.
"Masih ada yang sakit?" tanya Aland dengan cemas.
"Pusing" balas Liska dengan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Aland.
Mendengar perkataan Liska barusan membuat Aland berinisiatif memijat pelan kepala Liska.
Merasakan pijatan dari tangan Aland membuat Liska menatap Aland penuh keheranan, tapi tak ayal di juga merasa nyaman, kerutan di dahi Liska juga mulai berkuran.
__ADS_1
Aland masih memijat pelipis Liska hingga Liska kembali tertidur.
"Cepet sembuh" bisik Aland di dekat telinga Liska dan mengelus rambut tunangannya dengan lembut.