Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 64


__ADS_3

Ke dua orang tua Dika mulai berjalan keluar dari ruang kerja sang dokter. Baru saja keluar, mereka sudah di kerubungi oleh Aland dan teman-temannya.


Sedangkan di sisi Liska ada sosok Anton, Rangga dan Yara. Sebenarnya tadi Ada Arka dan Dino, tapi Arka di telfon oleh Mamanya untuk segera pulang, karena dia anak penurut, ya langsung pulang. Sedangkan Dino hanya ikut Arka.


"Tan bagaimana?" tanya Rehan dengan raut wajah cemas.


Mami Dika yang di tanya seperti itu bukannya menjawab, malah kembali menangis di dalam pelukan sang suami.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Papi Dika dengan datar.


"Semua ini gara-gara dia om, Dika masuk rumah sakit karena nyelametin dia!" ucap Adit sambil menatap Liska dengan sorot mata tajam.


Mami dan Papi Dika menatap ke arah tunjuk Adit, dan mata mereka sedikit bergetar saat melihat sosok Liska di sana.


"Liska sayang?" panggil Mami Dika dengan lembut.


Mendengar namanya di panggil membuat Liska menatap ke sumber suara dan saat matanya menatap wajah Mami Dika yang teduh membuatnya merasa tak asing. Liska menatap lamat wajah Mami Dika hingga sebuah ingatan tanpa izin memasuki otaknya.


"Akhh!" jerit Liska tertahan dan memegang kepalanya dengan erat, itu benar-benar sakit.


Beberapa orang yang melihat itu pun merasa cemas. Kecuali Aland dan teman-temannya. Sebenarnya Aland cemas tapi entah mengapa, hatinya enggan untuk mengakui itu dan lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Liska.

__ADS_1


"Hey, are you okay?" tanya Anton dengan lembut dan berjongkok di depan Liska, sambil mengusap lembut tangan Liska.


Tak mendapatkan respons dari Liska  Anton mulai bangkit dan membawa Liska ke dalam dekapannya, mengusap kepala Liska pelan.


"Jangan buat gue cemas Lis" bisik Antom dengan raut wajah khawatir. Tangan Liska yang di pergunakan untuk menjambak rambutnya sendiri, Anton pindahkan untuk mencengkeram bajunya.


Sedangkan Liska masih menahan sakit di dalam dekapan Anton. Liska memeluk tubuh Anton dengan erat, bahkan sampai Anton merasakan cubitan di punggung bagian belakang.


Mami dan Papi Dika menatap ke arah mereka dengan pandangan rumit. Mereka saling pandang dan saling melemparkan pertanyaan dari tatapan mata. Mami Dika mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Aland, untuk melihat respons Aland terhadap pemandangan di depannya.


"Apa hubungan Aland dan Liska tak sebaik yang ku kira? Kenapa bukan Aland yang menenangkan Liska, tapi malah remaja laki-laki itu?" batin Mami Dika sambil menatap ke arah Aland dengan rumit.


Beberapa menit setelah melewati rasa sakit yang menyerang  Liska mulai tenang dalam dekapan Anton. Mami Dika yang melihat itu sedikit tenang, dan memerharikan interaksi mereka dalam diam.


"Ini" kata Yara sambil menyerahkan air minum ke arah Anton. Anton menerimanya dengan baik dan tersenyum kecil ke arah Yara, sebagai ucapan terima kasih.


"Mau minum?" tawar Anton dengan salah satu tangan menepuk punggung Liska pelan, dan yang satunya untuk memegang air tadi.


Liska mulai menjauhkan dirinya dari Anton dan mengambil air yang di sodorkan Anton. Dia minum beberapa teguk, hingga matanya menatap ke arah Mami Dika berada.


"Mami" panggil Liska dengan raut wajah sedih dan sorot mata penuh kerinduan.

__ADS_1


"Sudah ingat Mami? Mau peluk sayang?" tawar Mama Dika sambil membuka tangannya dengan senyum teduhnya.


"Mami!" panggil Liska dan mulai berlari menubruk tubuh Mami Dika. Dalam dekapan itu Liska tangis Liska tak bisa di bendung lagi.


"Anaknya Mami sudah besar dan cantik" ucap Mami Dika dengan nada suara bergetar sedih.


"Kenapa kau baru sekarang mendapatkan ingatanmu?" batin Mami Dika dengan raut wajah menahan tangis.


Papi Dika yang tahu kondisi hati sang istri pun memeluk kedua sosok itu dan memberi usapan pelan di punggung istinya.


"Bang Dika Mam" ucap Liska dengan lirih.


"Dika akan baik-baik saja, tak perlu cemas" ucap Papi Dika sambil melepas pelukannya dan mengusap kepala Liska pelan.


Mereka yang melihat interaksi antara keluarga Dika dan Liska menatap dengan  raut wajah bingung.


"Tan, Dika masuk rumah sakit karena dia" ucap Adit dengan raut wajah rumit.


"Bukan salahnya, Dika berkorban untuk adiknya. Sebagai sosok abang, tindakan Dika benar" balas Mami Dika dengan senyum paksa dan mengusap pipi Liska pelan.


"Maksud tante?" tanya Tama tak paham.

__ADS_1


"Kalian tak tahu? Dika mengenal Liska sendari kecil dan karena sebuah insiden Liska melupakan semua ingatan tentang Dika semasa kecil" balas Mami Dika dengan senyum manisnya.


Mendengar penjelasan dari Mami Dika membuat mereka tak percaya, apalagi teman-teman Dika. Dalam benak mereka bertanya, kenapa Dika tak pernah cerita atau memberi tahu mereka jika dia sudah mengenal Liska lebih lama?.


__ADS_2