
Beberapa hari setelah kejadian itu, hidup Dinda bagaikan seorang antagonis. Yang di tatap sinis dan tak suka oleh beberapa siswa.
Apalagi di dukung oleh Clesia, untuk mencari gara-gara dengan Liska, dan bodohnya lagi Dinda mengikutinya dengan patuh. Dengan mudah dia percaya, bahwa rencana Clesia tepat untuknya. Tanpa tahu jika rencana itu membawa pengaruh buruk untuknya di lingkungan sekitar. Gara-gara rencana itu, Dinda semakin di pandang sinis oleh banyak siswa dan di cap bermuka banyak serta tak tahu malu.
Apalagi melihat pacarnya yang seperti menjaga jarak darinya, membuatnya bertambah gencar mencari gara-gara dengan Liska. Buktinya sudah beberapa hari ini Rehan tak menemuinya dan menenangkannya. Terakhir Rehan datang menenangkannya saat kejadian Liska terjatuh dari tangga. Itu pun hanya bertanya tentang kejadian dari sudut pandang Dinda, setelahnya dia menenangkan Dinda sebentar dan pergi entah ke mana.
Saat ini Dinda dan Clesia sedang berada di gudang, gedung belakang.
"Ini bagaimana Cles? Aku di pandang buruk sekarang" ucap Dinda dengan raut wajah cemas.
"Tenang Din, kalau kamu panik gak akan menyelesaikan masalah" ucap Clesia sambil menatap Dinda tenang. Tapi di dalam hatinya begitu senang, karena situasi yang Dinda hadapi saat ini.
"Nikmati peran baru lu Din, karena yang cocok buat gantiin posisi Liska itu elu bukan gue" batin Clesia dengan senyum sinis tanpa Dinda sadari.
"Kak Rehan juga jaga jarak dari aku, kenapa mereka jauhin aku Cles?" tanya Dinda dengan raut wajah sedih.
"Itu semua gara-gara Liska, mungkin dia yang ngehasut mereka buat berpihak lagi sama dia" ucap Clesia sambil menyentuh pundak Dinda.
"Tapi-" ucap Dinda sedikit tak yakin.
"Lu gak yakin? Mungkin aja dia ngehasut mereka saat lu lengah. Seperti contoh waktu dia jatuh dari tangga, bisa aja di UKS dia nyalahin lu di depan Dika dan Aland" ucap Clesia dengan raut wajah meyakinkan. Tapi emang dasarnya Dinda yang polos-polos babo pun percaya begitu saja.
__ADS_1
"Anjing bodoh" batin Clesia saat melihat respons Dinda atas perkataannya tadi.
"Sekarang lu mau diem aja? Gak mau balas dendam?" tanya Clesia dengan senyum penuh arti.
"Maksud kamu?" tanya Dinda dengan raut wajah tak paham.
"Ck, balas dendam. Lakuin sesuatu untuk balas perbuatan Liska, karena dia kak Rehan dan teman-teman yang lain jauhin elu" ucap Clesia sedikit kesal dengan kelemotan Dinda.
"Babo!" batin Clesia dengan perasaan jengkel.
"Ah? Bagaimana caranya?" tanya Dinda dengan bodohnya.
Clesia tersenyum penuh arti dan mulai membicarakan rencananya untuk Liska.
Saat ini kelas Liska sedang bersiap akan ke laboratorium. Yara dengan lesu berjalan di samping Liska.
"Gue males kelas kimia, kenapa setiap kelas kimia harus ke laboratorium? Otak gue yang gak seberapa 'kan jadi menguap kayak gas" ucap Yara dengan raut wajah lesu.
"Makanya ganti otak lu sama otak simpase" ucap Rangga dengan santai, yang datang entah dari mana. Dengan tenang dia merangkul bahu Liska dan menambah laju jalannya, sedangkah Liska hanya mengikuti langkah Rangga. Jika tidak dia akan jatuh nyungsep di atas lantai.
"Sialan lu Rang! Awas lu!" ucap Yara dengan kesal dan berlari mengejar langkah Rangga.
__ADS_1
"Lis gue tinggal dulu, spesies simpase ngamuk!" ucap Rangga dan meninggalkan Liska di sana sendirian. Terjadilah kejar-kejaran antara Yara dan Rangga.
Liska menatap kedua temannya dengan raut wajah tanpa emosi dan tak ingin ikut campur. Dengan langkah pelan dia berjalan lebih dulu ke arah laboratorium.
Sesampainya di dalam laboratorium, ternyata guru kimia sudah menunggu di dalam. Tak menunggu lama kegiatan belajar mengajar pun terlaksana. Sang guru menjelaskan secara ringkas dan tak lama menyuruh murid-muridnya untuk pratek di bawah pengawasannya. Setiap meja di isi oleh satu orang dan Liska berada di meja yang dekat dengan lemari penyimpanan bahan-bahan kimia.
Dengan konses mereka mulai fokus mencampur-campurkan cairan kimia sesuai takaran yang tertera di papan tulis.
Beberapa jam kemudian, akhirnya pelajaran kelas kimia akan usai, dan cairan yang tadi di hasilkan beberapa murid di kumpulkan untuk di ambil nilai.
Saat mereka beres-beres, adik kelas telah memasuki ruang kimia. Mungkin akan memakainya.
Di perkumpulan adik kelas tadi, ada sosok Dinda yang menatap ke sepenjuru ruangan.
Semua adik kelas mulai memilih meja yang akan di pakai dan Dinda berjalan mendekat ke arah Liska.
Liska tak tahu jika ada sosok Dinda berjalan ke arahnya, karena dia sibuk membersihkan mejanya.
Dinda semakin mendekat dan tangan itu mengambil asal cairan di atas meja Liska dan tanpa takaran dia menuangkan cairan tadi ke dalam ramuan yang sudah Liska buat.
"Kamu akan gagal di pratek kali ini Liska, kamu akan mengulang materi" batin Dinda dengan senyum penuh puas.
__ADS_1
Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat tindakan Dinda.