Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 60


__ADS_3

Jam istirahat, Liska menaiki anak tangga dengan langkah pelan. Matanya juga fokus menatap ke arah depan, hingga mata itu menangkap sosok yang membuatnya kesal. Siapa lagi kalau bukan Dinda.


"Akan ada drama menanti" gumam Liska saat melihat senyum penuh arti dari Dinda.


Liska menghentikan langkahnya di tengah-tengah anak tangga dan menatap datar ke arah Dinda. Semakin dekat, Liska semakin curiga karena wajah itu benar-benar tak bisa berbohong.


"Bermain sedikit tak masalah bukan?" batin Liska dengan senyum penuh arti.


Hal yang di tunggu Liska pun terjadi, Dinda menyengol tubuhnya. Sebelum Dinda berakting jatuh, sosok Liska sudah limbung dan terjatuh mengelinding ke bawah.


"Akh! Sakit juga ternyata, padahal cuma beberapa anak tangga" batin Liska setelah mendarat di lantai dasar. Tapi matanya masih terpejam, mencoba mendalami akting yang sedang dia perankan.


Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka dengan syok, bahkan menatap sosok Liska dan Dinda dengan raut wajah tak percaya.


"Apa sekarang pergantian peran?" ucap salah satu siswa membuyarkan lamunan mereka.


Salah satu dari mereka mulai mendekat ke arah Liska dan memastikan keadaan sosok Liska yang terbaring di sana.


"Dia pingsan!" teriaknya saat melihat Liska tak sadarkan diri.


"Gue bawa dia ke UKS, panggil temennya dan suruh ke UKS!" teriak lelaki tadi dan mulai membawa sosok Liska ke gendongannya. Salah satu di antara mereka mulai berlari ke arah kelas Liska, dan saat berpapasan dengan sosok Dinda dia menatap rendah sosok itu. Banyak juga pasang mata yang menatap Dinda dengan raut wajah mencemooh.


Sedangkan Dinda masih mematung di tempat, tangannya juga bergemetar takut apalagi melihat tatapan tak suka untuk dirinya dari semua orang.


Di lain sisi.


Siswa tadi masih berlari hingga berpapasan dengan kelompok Aland.


"Eh! Kenapa lu? Ada maling?" tanya Adit dengan raut wajah kepo.


"Bukan, Dinda sama Liska-" ucapnya terpotong oleh perkataan Rehan.


"Sialan emang tuh cewek, udah berkali-kali gue bilang, jangan ganggu cewek gue" ucap Rehan dan bangkit dari duduknya ingin mencari sosok Dinda dan melihat kondisinya.


"Bukan! Dinda dorong Liska dari anak tangga sampai pingsan, sekarang di bawa ke UKS" ucap siswa tadi dengan raut wajah panik saat Rehan akan beranjak dari tempatnya.


"Gue duluan, mau kasih tahu si Rangga" lanjut siswa tadi dan kembali berlari ke arah kelas Liska berada.


Aland dan teman-temannya masih berdiri di tempat dan mencerna perkataan orang tadi. Hingga salah satu di antara mereka beranjak dari tempatnya, berlari ke arah UKS.


"Woy Dik!" teriak Tama sambil menatap sosok Dika, dengan raut wajah bertanya. Tak lama sosok Aland juga berlari menyusul langkah Dika.


Tama dan Adit menatap penuh tanya satu dengan yang lain, sedangkan Rehan sudah beranjak beberapa detik yang lalu untuk mencari Dinda.

__ADS_1


"Menurut lu gimana?" tanya Adit meminta pendapat Tama.


"Entah, gue gak tahu" balas Tama dengan raut wajah bingung.


"Mau jadi detektif?" tanya Adit dengan senyum penuh arti.


"Boleh" balas Tama dan membalas senyum Adit. Setelahnya mereka berjalan ke TKP.


Kalian jangan mengira mereka akan menjadi detektif yang seperti di film-film. Detektif yang mereka maksud adalah bertanya dan berumpi seperti ibu-ibu desa.


Di lain sisi.


Sesampainya di UKS, tanpa mengatakan apa pun Dika membuka pintu UKS dengan kasar.


Matanya menatap ke arah sosok yang terduduk di atas tempat tidur. Dengan langkah sedikit berlari dia menuju ke arah Liska.


"Lu gak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Dika dengan raut wajah cemas.


"Sejak kapan lu perhatian sama gue? Dan kenapa lu ke sini?" ucap Liska sambil menatap tak suka ke arah Dika.


"Gue cemas, makanya gue ke sini" balas Dika dengan sedih.


"Cih! Gue gak butuh, perhatian lu telat" ucap Liska tak memedulikan Dika dan mulai turun dari ranjang UKS.


"Keluar, enek gue sama elu" balas Liska dan menarik tangannya kasar. Setelahnya berjalan keluar UKS, tanpa menengok ke arah Dika sedikit pun.


Dika menatap sosok Liska dengan raut wajah sedih dan menyesal.


Liska berjalan keluar dari UKS dengan langkah tenang. Baru saja dia berjalan beberapa langkah dari pintu UKS, sosok Aland sudah hadir di depannya.


"Lu gak apa-apa?" tanya Aland dengan sorot mata khawatir.


"Gue belum mati, keberuntungan masih perpihak sama gue," balas Liska dengan tenang.


Aland masih diam di tempat, dan menatap Liska rumit.


"Nyatanya dari dulu lu berniat nyelakain gue, tapi gue masih oke-oke aja" balas Liska dengan senyum sinis dan berjalan melewati sosok Aland. Tapi terhenti saat tangannya di cekal oleh Aland.


"Gue mau bicara sama elu" ucap Aland dengan raut wajah serius.


"Gue sibuk" balas Liska dan menari tangannya kasar.


"Ini penting Liska!" ucap Aland sedikit meninggi.

__ADS_1


"Sorry, urusan gue sama elu udah berakhir beberapa hari yang lalu. Jadi jauh-jauh dari gue, soalnya gue alergi sama nafas lu" balas Liska dengan sorot mata sinis dan berjalan melewati Aland tanpa minat.


Aland diam di tempat dan menatap ke depan dengan raut wajah rumit. Tak lama dia sadar dan berbalik badan, ingin mengatakan sesuatu.


"Gu-" ucap Aland terpotong oleh kehadiran seseorang.


Sosok itu langsung memeluk Liska dengan erat. Dan memejamkan matanya untuk mengontrol deru nafasnya yang memburu. Liska yang mendapat serangan seperti itu hanya diam mematung, seperti orang linglung.


"Jangan buat gue khawatir" gumamnya dengan mata yang masih terpejam.


"Ada yang luka? Inget gue 'kan? Mau ke rumah sakit? Ayo ke rumah sakit!" ucapnya tanpa memberi kesempatan Liska untuk menjawab, bahkan dengan sorot mata cemas dia menatap Liska dengan teliti.


Liska yang merasa kesal pun menutup paksa mulut Anton dengan kedua tangannya.


"Diem, gue baik-baik aja. Masih sehat!" ucap Liska sambil menatap tajam Anton dan di balas oleh Anton dengan anggukan kepala ringgan.


Melihat Anton yang mulai tenang Liska mulai menjauhkan tangannya dari mulut Anton.


"Yakin gak apa-apa?" tanya Anton masih cemas.


"Hm, sekarang anter gue ke kelas" balas Liska dengan anggukan kepala mantap.


"Yakin?" tanya Anton yang masih tak yakin.


"Iya Anton! Sekarang jongkok, gue minta gendong" ucap Liska sambil memaksa tubuh tinggi Anton jongkok di depannya.


"Baik nyonya" balas Anton dengan pasrah. Dan mulai berjongkok di depan Liska, dengan senyum tipis.


"Gitu dong, jadi babu harus nurut" balas Liska dengan senyum geli dan mulai menaiki punggung Anton.


"Ayo babu jalan" ucap Liska sambil memukul pundak Anton pelan. Setelah itu Anton bangkit dari jongkoknya dengan Liska di punggungnya.


"Mimpi apa gue semalem bisa gendong bidadari" gombal Anton dengan senyum manisnya dan mulai berjalan menuju ke arah kelas Liska berada.


Di belakang mereka ada sosok Aland yang menatap interaksi kedua orang di depannya dengan tangan terkepal erat dan rahang yang sudah mengeras.


"Liska gue belum selesai bicara sama elu!" teriak Aland yang menggelegar di sepanjang koridor. Tapi hanya di anggap angin lalu oleh Anton dan Liska.


"Akhh!" marah Aland sambil menendang dinding di sampingnya karena mendapatkan pengabaian dari Mereka.


"Lagi-lagi gue gagal bicara sama elu Lis, itu pun dengan alasan yang sama" batin Aland dengan tangan terkepal erat. Yah, sudah beberapa kali Aland mencoba mengajak Liska bicara tapi selalu ada penghalang. Seperti Anton atau Rangga yang tiba-tiba hadir dan mengajak Liska pergi, atau Yara dengan suara emasnya.


Dika yang melihat kejadian tadi hanya menatap Aland prihatin. Dia berjalan mendekat ke arah Aland dan menepuk pundaknya beberapa kali.

__ADS_1


"Gue saranin lu buat mundur" ucap Dika dan berjalan meninggalkan Aland begitu saja. Aland yang mendengar perkataan Dika tadi, menatap ke arah sahabatnya dengan tajam dan murka. Setelahnya berjalan berbalik arah dari langkah Dika.


__ADS_2