Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 56


__ADS_3

Di sinilah Liska sekarang, di taman sekolah bersama dengan Anton.


Anton menatap lamat wajah Liska hingga tangan itu terulur dan mengelus pipi Liska pelan.


"Sakit?" tanya Anton dengan lembut.


"Enggak! Udah tahu lebam, ya pasti sakitlah!" balas Liska dengan tak santai.


"Haha, sorry gue cuma masti 'in" balas Anton dengan tawa renyah dan tangan masih mengelus pipi Liska.


"Mau gue bantu bales?" tawar Anton dengan senyum manisnya.


"Gak perlu, gue bisa sendiri" balas Liska dan menjauhkan tangan Anton dari pipinya.


Di lain sisi.


Aland berjalan ke arah UKS, di dalam sana sudah ada teman-temannya sedang mengelilingi Dinda.


Dengan isakan-isakan kecil Dinda menangis di dalam pelukan Rehan.


"Sssttt, udah ya" ucap Rehan mencoba menenangkan Dinda.


"T-tapi aku takut" ucap Dinda dan semakin memeluk erat sosok Rehan di depannya.


"Lu yakin Liska yang bully?" tanya Dika secara tiba-tiba dan menatap lekat ke arah Dinda.


"Maksud lu apa? Lu nuduh cewek gue bohong?" tanya Rehan tak terima.


"Entah" balas Dika sambil mengangkat bahunya acuh tak acuh dan keluar dari UKS begitu saja. Di ambang pintu Dika berpapasan dengan Aland dan berkata,


"Gue sarani jangan berpatokan sama hal-hal di depan mata, setidaknya buka mata dan cari tahu kebenarannya. Sebelum satu hubungan kembali terputuskan" ucap Dika di dekat Aland dan kembali berjalan tanpa memedulikan reaksi Aland.


"Karena gue udah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bodohnya lagi gue masih membisu dan malu buat minta maaf" batin Dika dengan raut wajah datar. Kemarin dia menyuruh salah satu anak buah Papanya untuk mencari tahu kebenarannya dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui sebuah fakta. Selama ini yang membully Dinda bukan Liska melainkan Derana dan satu sosok misterius.


"Sorry Lis, gue terlalu bodoh untuk memahami elu" gumam Dika dengan raut wajah penuh penyesalan.


Malam harinya.


Saat ini Liska sedang berjalan-jalan di sekeliling komlpek rumahnya.

__ADS_1


Dengan raut wajah tenang, Liska berjalan menyusuri jalan. Hingga dirinya sampai di taman yang cukup familier. Langkahnya semakin mendekat dan sampailah dia di depan taman itu, tanpa di duga sebuah ingatan menghampirinya.


"Akhh!" ucap Liska saat merasakan sakit di kepalanya.


Beberapa menit kemudian rasa sakitnya mulai mereda dan Liska menatap ke depan dengan sorot mata kosong.


Tadi dia mendapatkan ingatan tentang dirinya bersama Dika, tapi ada satu yang membuatnya bingung. Ada satu gadis lain di sana, gadis yang tak pernah dia temui atau dia lihat. Di dalam ingatannya tadi, mereka sedang bercanda riang di taman. Dan taman itu adalah taman yang saat ini berada tepat di depannya.


"Apa tadi? Apa tadi ingatan yang belum gue dapet?" gumam Liska dan mulai berjalan mendekat ke arah taman.


Langkah Liska berhenti di depan pohon cukup lebat. Tak jauh dari pohon tadi ada sebuah batu dengan cap tangan. Tiga cap tangan kecil, cat itu sudah mulai luntur dan berlumut. Petanda betapa lamanya cetakan tangan itu di buat.


Tangan Liska mulai menyentuh salah satu cap tangan itu. Hingga sebuah suara mengejutkannya.


"Liska?" panggil seseorang dari arah belakangnya. Dengan gerakan cepat Liska menatap ke sumber suara dan matanya menatap heran sosok tadi yang ternyata Dika.


"Lu udah inget tentang pohon dan batu itu?" tanya Dika dengan datar tanpa memedulikan raut wajah bertanya dari Liska.


"..." Liska masih diam membisu dan menatap ke arah Dika dengan penuh tanya.


"Sepertinya tidak" balas Dika sedikit kecewa dengan respons yang di berikan Liska.


"Lu tahu, memory itu gak pernah gue lupa. Setiap malam gue ke sini buat mengenang, tapi sayang cuma gue yang ke sini" ucap Dika dengan senyum miris.


"Buang-buang waktu" batin Liska dan berniat berjalan menjauh tapi langkahnya terhenti karena cengkeraman tangan Dika.


"Sorry," ucap Dika sambil menundukkan kepala, tak berani menatap respons Liska saat ini.


"Maaf, gue bener-bener minta maaf. Gue bodoh, gue bener-bener bodoh Lis. Gue ngeragui elu dan percaya omongan orang lain dengan mudahnya. Gue salah" ucap Dika dengan nada suara sedikit bergetar.


"Lu tahu kesalahan lu?" tanya Liska sambil menatap ke arah Dika dengan datar.


"Yah, gue tau dan gue minta maaf" ucap Dika dan menatap wajah Liska ragu. Dirinya terlalu malu untuk menatap wajah di Liska.


"Meminta maaf memang mudah Dik, tapi gue gak sebaik itu, yang dengan mudahnya memaafkan orang lain" balas Liska dengan nada suara tanpa emosi dan melepaskan cengkeraman Dika di tangannya.


Dika yang mendengar perkataan Liska hanya bisa menatap Liska penuh sesal, bahkan matanya sedikit berkaca-kaca.


"Lu tahu? Sikap lu selama ini kelewatan" ucap Liska dengan senyum sinis.

__ADS_1


Mendengar perkataan Liska barusan membuat Dika heran.


"Gue udah dapet beberapa ingatan dan dari semua ingatan itu gak ada nilai posisitif buat lu" ucap Liska dan menunjuk wajah Dika. Sorot matanya penuh akan kebencian.


"Lu inget waktu terakhir kali gue minta tolong sama elu? Saat itu pula sosok Liska yang lu kenal udah mati Dik!" bentak Liska tanpa sadar karena merasa emosi saat mengingat kejadian itu.


"Gara-gara elu, Liska hampir di lecehin preman bego!" teriak Liska sambil mendorong bahu Dika kasar.


"Gara-gara elu yang gak mau ngasih dia tumpangan" ucap Liska dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh Dika.


Dika yang mendengar perkataan Liska pun tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya.


"Lis-" ucap Dika yang terpotong oleh perkataan Liska.


"Stop! Gue muak denger suara lu, menjauh dari gue! Lu sama kayak mereka, sama-sama bego!" ucap Liska sebelum berlari menjauh dari sana.


"Yah, gue bego, benar-benar bego" gumam Dika sambil menatap punggung Liska yang mulai menjauh.


"Bego!" teriak Dika sambil memukul kepalanya dan luruh di atas tanah dengan raut wajah penyesalan.


"Maaf" gumam Dika dengan sorot mata penuh sesal.


Di lain sisi.


Rehan mengendari motornya dengan kecepatan sedang, dia baru pulang dari rumah Dinda.


Di pertengahan jalan, secara tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depannya. Secara mendadak Rehan menghentikan laju motornya.


Dari dalam mobil, keluar seseorang dengan masker dan topi yang menghalangi Rehan untuk mengenali siapa dia.


Rehan mulai turun dari atas motor dan melepas helmnya. Matanya menatap penuh selidik ke arah orang tadi.


"Siapa lu dan mau apa?" tanya Rehan dengan datar.


Tanpa mengatakan apa pun orang tadi mulai menerjang sosok Rehan. Rehan yang belum siap dengan serangan itu pun sedikit kualahan, tapi tak lama dia mulai bisa mengimbanginya.


Di tempat itu, terjadilah adu pukul antar mereka. Perkelahian itu terlihat sangat sengit. Lawan Rehan menyerangnya dengan bruntal. Beberapa kali Rehan mendapatkan pukulan dari orang misterius itu.


Beberapa menit kemudian, sosok Rehan sudah tumbang di atas aspal dengan lebam di wajahnya. Nafasnya juga terlihat tak beraturan, karena rasa lelah dan sakit yang melebur menjadi satu.

__ADS_1


Lawan Rehan menatap ke arahnya dengan kilatan dingin, tanpa mengatakan apa pun dia mulai berjalan ke arah mobilnya. Setelah memasuki mobil, dengan kasar dia membuang topi dan maskernya ke jok samping.


"Itu akibat, nyentuh cewek gue" gumamnya dengan senyum sinis, setelahnya pergi meninggalkan sosok Rehan di keheningan malam.


__ADS_2