Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 14


__ADS_3

Liska duduk di bangku kantin dengan mata fokus ke arah ponselnya. Memperhatikan setiap inci ponsel miliknya, apakah ada kerusakan yang parah atau tidak.


"Lu kenapa Lis?" tanya Yara dengan raut wajah heran. Saat melihat sosok Liska yang tengah sibuk membolak-balikan ponsel di genggamannya.


"Enggak" balas Liska singkat dan meletakkan ponsel tadi di atas meja.


Dengan malas Liska meminum jus miliknya. Matanya sibuk menatap ke arah layar ponsel dan tangan sesekali meluncur di layar, untuk melihat setiap gambar yang ada.


"Kenapa galery ponsel di penuhi oleh foto-foto dia?" batin Liska sambil menatap ke satu persatu foto Aland di ponselnya.


Kemarin dia tak berpikir untuk mengecek ponsel ini, tapi setelah melihat isi galery ponsel yang seperti ini membuatnya berubah pikiran, sepertinya dia harus mengecek semua aplikasi yang ada.


Tangannya mulai sibuk memilih gambar-gambar yang akan di hapus. Yara yang tak sengaja melihat Liska menghapus semua foto Aland pun menatap tak percaya ke arah Liska.


"Lu yakin hapus semua itu Lis?" tanya Yara dengan raut wajah tak percaya.


"Hm, menuhin memory" balas Liska dengan mata menatap Yara sekilas setelahnya kembali fokus ke arah ponselnya.


"Entar nyesel lu kalau udah inget perjuangan buat dapet semua gambar itu" balas Yara sambil meminum minumannya.


"Gak peduli" balas Liska dengan santai dan masih sibuk dengan kegiatannya.


"Serah lu deh" ucap Yara dan mengalihkan pandangannya dari Liska.


Yara menatap ke sekelilingnya, hingga mata itu menangkap sosok yang tak asing di matanya. Sosok itu berjalan ke arah meja yang saat ini mereka tempati.

__ADS_1


"Mau apa mereka?" gumam Yara yang masih bisa di dengar oleh Liska.


Liska yang mendengar gumangan Yara tadi, mulai menatap ke arah pandang Yara. Di sana ada sosok Dinda dan teman-temannya. Tapi mata Liska terhenti di sosok yang tak asing baginya. Sosok yang berjalan dengan kepala menunduk dalam dan tangan saling bertautan karena gugup.


Mereka terus berjalan hingga sampailah di meja yang Liska dan Yara tempati.


"Maksud lu apa?! Sehari gak ganggu kita gak bisa?!" ucap Clesia dengan nada suara tinggi dan menatap Liska dengan marah.


"Wih wih, ada apa ini kawan?" ucap Yara yang mulai bangkit dari duduknya. Tak terima teman baiknya di bentak di depan umum.


"Jangan ikut campur lu, gue gak bicara sama elu" ucap Clesia sambil menatap Yara dengan sinis.


"Santai elah, gue cuma tanya" balas Yara dengan raut wajah malas.


Melihat Clesia yang mulai bungkam, membuat Dinda berinisiatif untuk membuka suara.


"Maksud kamu apa Liska? Kenapa kamu bully Aisin?" tanya Dinda dengan nada suara lembut tapi tersirat ke tidak sukaan di dalamnya.


"Hah?" bingung Liska dengan raut wajah tak paham.


"Kapan gue bully dia?" batin Liska sambil menatap Dinda dengan raut wajah heran.


Matanya beralih ke arah Aisin, Aisin yang melihat arah pandang Liska pun menyembunyikan diri di belakang tubuh Dinda. Dinda yang merasakan tubuh ketakutan Aisin mulai menatap kesal ke arah Liska.


"Jangan tatap Aisin, Liska! Dia takut sama kamu!" bentak Dinda yang membuat banyak orang terkejut tak terkecuali Liska, karena suaranya begitu keras membuat gendang telinganya berdenging.

__ADS_1


"Sebentar, bisa jelaskan maksud dari kata bully?" ucap Liska dengan raut wajah tak paham.


"Jangan pura-pura gak tahu deh lu. Gagal bully Dinda, buat lu beralih ke Aisin 'kan?!" tuduh Clesia dengan raut wajah merah padam, mulai merasa kesal.


"Alasanya apa?" tanya Liska sambil menatap Clesia datar.


"Yah mana gue tau!" balas Clesia dengan raut wajah marah.


"Dih! Nuduh-nuduh tanpa bukti" cibir Yara sambil menatap mereka bertiga remeh.


Mendengar perkataan Yara tadi membuat Clesia terpancing emosi. Terbukti dari tangannya yang terkepal erat.


"Ngaku aja kamu Liska, kamu 'kan yang buat Aisin nangis dan tangannya merah?!" ucap Dinda dengan nada suara tak sabaran.


"Sifat aslinya mulai kelihatan ya bund" ucap Yara tanpa menatap ke arah Dinda. Sedangkan Dinda yang mendengar perkataan Yara tadi, membuatnya mulai kesal.


"Mana gue tau" balas Liska menjawab perkataan Dinda barusan.


"Tadi Aisin yang bilang sendiri!" ucap Dinda sambil menatap kesal ke arah Liska.


"Gini ya, gue gak tau apa-apa. Kalau soal tangannya yang merah mungkin itu karena dia gak sengaja tabrakan sama gue di koridor lantai dua. Soal dia nangis mana gue tau" balas Liska dengan datar.


Mendengar pekataan Liska tadi masih membuat Dinda tak puas. Dengan kesal dia berjalan keluar dari kantin, karena merasa malu atas tatapan orang lain untuk dirinya.


"Awas aja kamu Liska, aku akan bongkar kedok kamu!" batin Dinda penuh tekat. Entah apa yang akan dia bongkar dari Liska.

__ADS_1


__ADS_2