
Di dalam ruang putih yang kosong, tak ada pintu keluar atau apa pun. Hanya ada ruang putih tak berujung.
Terlihat ada satu orang yang menatap ke sekelilingnya dengan raut wajah heran. Hingga suara nyaring terdengar menggema di dalan ruangan tadi.
Dia menatap ke sekelilingnya dan matanya menangkap satu kata yang ada di atasnya. Kata yang membuatnya heran dan bertanya, yaitu kata 'TAMAT'.
"Tamat?" gumamnya dengan raut wajah heran. Tak lama, kata tadi hilang dan tubuhnya terasa tersedot ke lubang tanpa titip.
"..ia"
"Fi.."
Samar dia mendengar seseorang berkata, dengan sekuat tenaga dia mencoba mengfokuskan diri untuk mendengar apa yang orang tadi katakan. Hingga suara seseorang mengejutkannya.
"Fia!" panggil Disa dengan keras di dekat telinga Fia.
Fia bangun dengan raut wajah terkejut dan menatap ke sekeliling dengan linglung.
"Di mana?" batin Fia dengan raut wajah bingung.
"Akhirnya bangun juga, kamu tuh tidur atau simulasi mati? Dari tadi gak bisa di bangunin. Untung aja setelah istirahat, jam kosong sampai pulang" ucap Disa dengan kesal.
Mata Fia menatap Disa dengan penuh tanda tanya. Banyak pertanyaan yang hinggap di pikirannya.
__ADS_1
"Apa? Gak mau pulang? Ya udah, aku tinggal" ucap Disa dan berjalan menjauh dari sana dengan langkah kesal.
Fia yang di tinggal sendiri masih berdiam diri di tempat. Matanya menatap ke arah depan dengan tanda tanya besar.
"Tadi hanya mimpi?" tanya Fia dengan raut wajah tak paham.
"Jika mim-" ucap Fia terpotong saat matanya menatap ke arah sela-sela tangannya. Di sana ada sebuah novel yang tak asing baginya.
"Novel ini? Bukankah seharusnya kosong tanpa judul? Kenapa sekarang ada judul dan ukiran?" gumam Fia dengan raut wajah rumit.
"Apa tadi bukan mimpi?" tanya Liska lagi dengan raut wajah bingung.
"Jika tadi hanya mimpi, kenapa terasa nyata dan kenapa hatiku terasa kosong? Seperti ada yang hilang dari tempatnya?" gumam Fia dengan pandangan rumit.
"Fia! Ayo pulang!" teriak Disa dari arah pintu kelas dan berjalan ke arah Fia dengan langkah kesal.
>>>>>>>♡♡♡♡<<<<<<<
Sudah hampir dua minggu setelah kejadian itu, dan sikap Fia pun sedikit berubah. Fia semakin menjadi sosok yang penyendiri dan murung.
"Fi, kamu kenapa?" tanya Disa dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Hah? Enggak apa-apa kok Dis" balas Fia mencoba untuk tersenyum. Karena dia juga merasa bingung dengan apa yang dia rasa dua minggu terakhir ini.
__ADS_1
Rasanya seperti kosong dan ada yang hilang, tapi dia tak tahu apa. Untuk masalah kejadian dua minggu kemarin dia juga masih tak paham itu mimpi atau nyata. Bahkan novel misterius itu masih dia bawa sampai sekarang.
Jam istirahat.
Fia berjalan menuju kantin bersama Disa di sampingnya. Nyawanya sedang tak ada di raga, sebab itu dia membutuhkan bimbingan Disa untuk berjalan hingga ke kantin.
Saat sedang sibuk dengan lamunannya. Tanpa di ketahui ada seseorang di depannya. Tanpa sengaja Fia menabrak punggu belakang orang tadi, dan entah sejak kapan pegangan Disa di tangannya sudah terlepas. Terlebih lagi dia tak ada di dekat Fia.
"Ishh" ringis Fia merasakan sakit.
"Eh? Maaf, gak apa-apa?" tanya orang tadi dengan raut wajah datar.
"Gak apa-apa" balas Liska sedikit bingung, karena secara tiba-tiba merasakan debaran yang cukup asing di dadanya.
Dia menatap lelaki di depannya dengan
Penuh tanda tanya dan di balas senyum manis oleh lelaki di depannya.
"Fia!" panggil Disa membuyarkan tatapan keduanya.
"Lain kali hati-hati" ucap lelaki tadi dengan senyum manis dan berjalan menjauh dari sana.
"Kamu tuh ya, di suruh nunggu aku yang mau iket tali sepatu dulu, malah pergi menjauh" ucap Disa dengan kesal dan menarik tangan Fia ke arah kantin. Sedangkan orang yang di tarik masih menatap ke belakang dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Siapa dia?" batin Fia dengan raut wajah bertanya.
"Aku menemukanmu sayang" batin orang itu dengan mata menatap lekat wajah Fia.