Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 57


__ADS_3

Di lain tempat.


Di dalam kamar bertema gelap, terlihat seorang remaja laki-laki sedang menatap gelapnya langit malam dengan satu putung rokok di tangannya.


"Apa maksud dari perkataan Dika siang tadi?" gumamnya sambil menatap ke arah depan dengan raut wajah bingung.


"Kebenaran apa yang Dika maksud?" gumamnya lagi dengan raut wajah tak paham.


Beberapa menit dia diam dan memikirkan ucapan Dika kepadanya tadi siang tapi naas otaknya tak bisa berpikir.


Dia mulai menyesap rokoknya dan menghembuskan asap dari mulut serta hidungnya.


"Satu hubungan kembali terputus?" ucap Aland sambil mengingat perkataan Dika.


"Hubungan apa?" gumanya sambil menatap ke depan dengan penuh tanda tanya.


Setelahnya diam dan kembali menyesap rokoknya hingga satu nama terlintas di otak.


"Liska? Hubungan gue sama Liska?" tanya Aland kepada dirinya sendiri.


Dia diam sambil menyambungkan perkataan Liska tempo lalu dan perkataan Dika tadi siang.


"Ingin membatalkan pertunangan dan satu hubungan kembali terputus?" ucap Aland setelah mendapatkan pencerahan.


"Sial! Dika tahu sesuatu yang gue gak tahu" ucap Aland dan bangkit dari duduknya.


Setelahnya dia berjalan ke dalam kamar dan membuat sisa putung rokok tadi ke atas lantai. Dengan kasar dia menginjaknya hingga padam.


Dengan kasar dia mengambil ponsel dan tangannya sibuk mencari nama Dika setelah itu menelfonnya.


"Angkat bego!" desis Aland sambil menjambak rambutnya pelan.

__ADS_1


"Sialan lu Dik!" teriak  Aland tertahan sambil mencengkeram ponselnya erat.


                                    •●•


Siang ini Liska berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan tenangnya. Di sampingnya ada Yara yang menemani. Tujuan mereka saat ini adalah koperasi sekolah.


Di pertengahan jalan, secara sengaja ada seseorang menabrak bahu Liska.


"Ups, sorry gak sengaja" ucapnya dengan raut wajah pura-pura terkejut.


"Wih! Mata lu udah bermasalah?" ucap Yara tak santai.


"Mata gue masih normal ya, jangan asal bicara!" ucap Clesia dengan raut wajah kesal.


"Masih normal tapi gak lihat orang segede ini? Oh, atau lu kalau jalan suka nabrak-nabrak orang? Atau kaki lu sengklek sebelah, makanya suka oleng?" tanya Yara tanpa memdulikan raut wajah kesal dari Clesia.


Liska yang mendengar perkataan Yara barusan hanya bisa tersenyum geli.


"Diem lu! Bilangin sama temen lu itu, stop bully temen gue!" ucap Clesia yang sengaja di keraskan agar memancing perhatian banyak orang.


"Cih! Lemah" gumam Liska yang masih bisa di dengar oleh Yara.


"Apaan dah, di bully kayak gitu doang pulang-pulang sakit, itu badan atau tahu? Lembek amat" balas Yara tak mau kalah.


"Bukan temen gue yang lembek, tapi temen lu yang kelewatan batas!" kesal Clesia sambil menatap Yara permusuhan.


"Tem-" perkataan Yara terhenti karena seseorang memegang lengannya.


"Baru juga awal, masa udah roboh?" tanya Liska dengan senyum sinisnya.


"Wah! Topengnya udah lepas. Ngaku lu sekarang, kalau selama ini lu yang bully Dinda" ucap Clesia dengan raut wajah pura-pura marah.

__ADS_1


"Kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa?" ucap Liska dengan senyum sinis dan berjalan mendekat ke arah Clesia.


"Gue udah ada bukti siapa yang bully Dinda. Semisal gue sebar, menurut lu siapa yang bakal gantiin posisi gue?" bisik Liska di dekat telinga Clesia dengan senyum remeh.


Mendengar perkataan Liska barusan membuat Clesia bungkam dan diam membisu.


"Hati-hati kalau mau melangkah, atau gue bikin lu yang gantiin posisi gue saat ini atau mungkin lebih?" ucap Liska dengan senyum penuh arti dan mulai menegakkan badannya.


Sebelum pergi menjauh Liska menepuk pundah Clesia beberapa kali dengan sedikit tekanan.


"Selamat berpikir" ucap Liska dan sedikit mendorong tubuh Clesia, entah mungkin karena Clesia masih terkejut membuatnya terjatuh di atas lantai dengan raut wajah linglung. Setelahnya Liska berjalan menjauh dari sana dengan senyum puas, di belakangnya ada sosok Yara yang mengikutinya dengan senyum manis.


Beberapa siswa yang melihat respons Clesia, mulai bertanya-tanya. Apa yang Liska bisikan di telingan Clesia hingga membuatnya diam membisu?.


Di lain sisi.


Aland mentap ke arah orang di depannya dengan raut wajah serius.


"Apa maksud dari perkataan lu kemarin?" tanya Aland dengan datar.


"Apa?" tanya Dika pura-pura tak tahu akan maksud Aland


"Jangan mancing emosi gue Dika, kesabaran gue gak banyak" ucap Aland dengan geram.


Dika diam dan menatap lekat ke arah Aland, setelah ya berkata.


"Lu beneran suka Liska?" tanya Dika dengan raut wajah serius. Mendengar pertanyaan Dika barusan membuat Aland heran.


"Perkataan lu gak nyambung sama pertanyaan gue tadi" balas Aland tak berminat.


Dika yang melihat respons Aland seperti itu hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


"Kalau lu cuma main-main sama Liska mending lu mundur, dia berhak bahagia. Batalin pertungan gila itu dan cari cewek lain yang bisa lu mainin sesuka hati lu," ucap Dika sambil menatap ke arah Aland dengan raut wajah serius.


"Kalau gue denger lu mainin perasaan Liska, lu berhadapan sama gue Aland" ucap Dika tak main-main, setelahnya berjalan meninggalkan Aland dengan tanda tanya di benaknya.


__ADS_2