Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 31


__ADS_3

Liska mulai berpikir, bagaimana cara dia untuk membayar makanan ini. Jika menunggu sosok Aland kembali, dia cukup ragu. Bisa-bisa dia menunggu hingga pagi datang.


Sangking fokus memikirkan bagaimana cara  membayar makanannya, dia hingga tak sadar, pesanannya sudah datang dan tersaji di atas meja dengan rapih.


"Silahkan Nona" ucap sang pelayan dengan senyum ramah dan di balas Liska dengan anggukan sekilas.


Tak lama pelayan tadi pergi dan Liska mulai menikmati makanannya dengan tenang. Bukankah mubazir jika di buang atau tak dia makan? Lagi pula berpikir juga memerlukan asupan.


Saat suapan ke tiga dia mendapatkan ide, dengan senyum penuh arti Liska mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


'Kenapa?' tanya orang seberang sana tanpa minat.


"Lu ada waktu? Bisa temui gue di Restauran xxx?" tanya Liska dengan senyum tipis, karena dia tahu orang ini tak mungkin menolak permintaanya.


'Ya bisa, lagi pula gue juga berada gak jauh dari sana' balasnya dengan nada suara santai.


"Oke, gue tunggu" balas Liska dengan senyum mengembang indah.


Setelah panggilan itu, Liska kembali memakan makanannya dengan tenang, sambil menunggu datangnya orang tadi.


Tak lama, sosok yang dia kabari tadi sudah berada di pintu masuk Restaurant dan menatap ke sekeliling, guna mencari keberadaan Liska.


Liska yang melihat penyelamatnya pun tersenyum senang, dengan senyum manis dia memanggilnya.


"Rangga!" panggil Liska dengan senyum mengembang indah.


Rangga yang melihat senyum Liska sedikit merasa curiga dan waswas.


"Perasaan gue gak enak" gumam Rangga sambil menatap curiga ke arah Liska.


Dengan langkah sedikit berat dia berjalan mendekat ke arah Liska.


"Kenapa?" tanya Rangga dengan sorot mata penuh kecurigaan.

__ADS_1


"Bawa uang?" tanya Liska pada intinya.


"Bawa?" balas Rangga dengan nada suara heran.


"Bagus deh, duduk dan makan" ucap Liska dengan senyum mengembang indah dan kembali melanjutkan acara makannya, yang sempat tertunda.


Rangga kembali bingung dan tak lama dia berpikir, hingga paham apa yang di maksud oleh Liska.


"Oh, gue paham. Lu nyuruh gue buat bayar makanannya 'kan?" ucap Rangga sambil menatap Liska dengan sorot mata penuh tuduhan.


"Yap, seratus buat lu" balas Liska dengan tenang dan tersenyum manis.


"Ogah!" balas Rangga dengan raut wajah jahilnya. Terbesit di otaknya untuk menjahili Liska sedikit.


"Lu gak mau?" tanya Liska sambil menatap Rangga dengan senyum sinis.


Melihat respons Liska yang berbeda dengan dugaanya membuat Rangga sedikit waswas.


"Iya" balas Rangga, mencoba melanjutkan rencananya.


"Loh? Gue cuma bercanda Lis, janganlah sebar aip gue" balas Rangga dengan raut wajah memohon.


"Lu bayar ini, aip lu aman di tangan gue" balas Liska dengan senyum manisnya.


"Oke, gue juga cuma bercanda tadi, sensi amat lu" balas Rangga dengan raut wajah sedikit lega, mendengar jawaban daru Liska barusan.


"Oh, cuma bercanda? Habis ini ajak gue jalan-jalan cari ice coklat" ucap Liska dengan santai tanpa memedulikan reaksi Rangga sama sekali.


"Loh, kok ngelunjak?!" ucap Rangga tak terima dengan perkataan Liska barusan.


"Aip lu kesebar" ucap Liska membungkap mulut Rangga yang ingin kembali terbuka.


"Oke, Fine!" balas Rangga dan duduk di bangku depan Liska dengan cukup kasar.

__ADS_1


"Habisin tuh, di luar sana banyak orang yang kurang makan" ucap Liska sambil menunjuk makanan di hadapan Rangga.


"Iya-iya" balas Rangga dengan pasrah dan mulai memakan makanan di depannya.


Beberapa menit kemudian makanan mereka sudah habis tak tersisa.


Rangga memanggil palayan untuk membayar pesanan mereka, atau pesanan Liska? Entahlah, yang pasti dia juga ikut memakan bukan?.


"Berapa?" tanya Rangga sambil mengeluarkan dompetnya.


"Ini bill-nya Tuan" balas sang pelayan dengan ramah dan meletakan secarik kertas di hadapan Rangga.


"Hah? Makanan kayak gini harganya 3 juta?!"  kejut Rangga sambil menatap tak percaya ke arah bill di depannya.


"Entar gue ganti" ucap Liska yang paham arti dari raut wajah Rangga.


"Yang bener?" tanya Rangga tak percaya.


"Iya, buruan bayar" balas Liska dengan malas.


"Awas gak lu ganti uang gue" balas Rangga sambil menyerahkan kartu miliknya ke arah pelayan.


Sang pelayan yang mendengar perdebatan antara Liska dan Rangga hanya tersenyum geli. Setelah menerima kartu debit Rangga, sang pelayan mulai berjalan menuju kasir. Tak lama dia datang dengan senyum ramahnya.


"Ini kartunya, terima kasih atas kunjuangannya" ucap sang pelayan dengan senyum hangat.


"Iya" balas Rangga dan mulai bangkit dari duduknya di ikuti oleh Liska. Mereka mulai berjalan keluar Restaurant dengan langkah beriringan.


"Jadi beli ice coklat?" tanya Ranga sambil menatap Liska yang berada di sampingnya.


"Enggak, anter pulang aja" balas Liska sambil menatap Rangga dengan lelah.


"Oke, ayo" balas Rangga dan mengiring Liska ke arah motornya terparkir.

__ADS_1


Tak lama, mereka mulai meninggalakan restaurant tadi dengan suasana tenang.


__ADS_2