
Saat ini mereka sedang menunggu di depan ruang ICU. Menunggu kabar dari sang dokter yang menangani Dika. Mereka benar-benar cemas akan kondisi Dika saat ini.
Di salah satu kursi ada sosok Liska yang menatap ke arah lantai dengan sorot mata kosong.
Tak membutuhkan waktu lama, seorang dokter keluar dari dalam ICU dengan raut wajah frustrasi.
"Dok, bagaimana kondisi teman saya?" tanya Tama membuka suara.
"Ada orang tua pasien?" tanya sang dokter dengan raut wajah serius.
"Sedang dalam perjalanan" balas Aland dengan datar.
"Kondisi teman kalian sedang tak baik, jika orang tua pasien sudah datang, tolong sampaikan kepada mereka untuk keruangan saya. Terima kasih" ucap sang dokter dengan raut wajah serius, setelahnya berjalan ke arah ruang kerjanya berada.
"Dika kritis?" tanya Adit memastikan kondisi Dika saat ini.
"Kurang lebih seperti itu" balas Rehan dengan raut wajah tak percaya.
"Sial!" desis Aland sambil memukul tembok yang ada di belakangnya.
"Kalau bukan karena nyelamatin elu Dika gak mungkin di kondisi saat ini. Semua ini gara-gara elu! Dari dulu elu emang ceroboh dan nyusahin!" marah Adit sambil menunjuk ke arah Liska dengan raut wajah permusuhan.
__ADS_1
"Gue setuju sama Adit, kalau bukan gara-gara elu Dika masih baik-baik aja" ucap Tama menimpali perkataan Adit.
"Kalian gak bisa nyalahin Liska kayak gini dong, Liska juga gak tau akan masa depan!" teriak Yara yang tak terima dengan perkataan Adit dan Tama.
"Tapi pemincu ledakan, dari meja dia!" ucap Rehan sambil menatap Yara tajam.
"Yah, itu di luar kendali Liska bego!" ucap Yara kembali membela sosok Liska.
"Tetep aja, semua ini salah temen lu! Kalau dia gak kejebak di dalam, Dika gak mungkin nerobos ke dalem dan masuk rumah sakit!" teriak Rehan sambil menatap tajam Yara.
Mendengar bentakan Rehan barusan membuat Yara diam membisu, karena kehabisan kata-kata.
Liska semakin menunduk dalam, dirinya masih syok dan trauma dengan apa yang terjadi.
"Cih!" decih Aland dengan tangan terkepal erat. Matanya juga terpancar akan kemarahan.
Beberapa menit kemudian orang tua Dika datang, dan saat ini mereka sudah berada di dalam ruang kerja dokter yang memeriksa kondisi Dika tadi.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Mami Dika dengan raut wajah cemas.
Mendengar pertanyaan dari orang tua pasiennya membuat sang dokter menghela nafas lelah.
__ADS_1
"Cukup buruk, saat di dalam laboratorium dia terlalu banyak menghirup gas beracun dan mengakibatkan paru-parunya bermasalah," jelas sang dokter dan memberi jeda beberapa saat untuk melihat respons sepasang suami, istri di depannya.
"Untuk saat ini saya belum bisa memastikan kondisi ke depannya, pasien membutuhkan perhatian yang ekstra, karena bisa kapan saja kondisinya down dan maut bisa datang kapan saja" jelas sang dokter sambil menyerahkan berkas kondisi Dika saat itu.
Mendengar penjelasan dari sang dokter membuat Mami Dika menangis tanpa suara, dirinya terlihat sangat rapuh.
Sang suami mencoba menenangkan istrinya, dengan pelan membawa tubuh rapuh itu ke dalan dekapannya dan membisikkan kata-kata penenang.
"Semua akan baik-baik saja, jika perlu kita bawa Dika ke luar negeri untuk pengobatannya" ucap sang suami sambil mengelus pundak istrinya dengan lembut, sesekali dia juga memberi kecupan ringan di dahi sang istri.
"Tapi..." ucap Mami Dika yang tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Jangan cemas, anak kita kuat. Dia pasti akan sembuh dan baik-baik saja" balas sang suami sambil mengeratkan pelukannya. Dirinya menenangkan sang istri tanpa memedulikan jika dirinya juga membutuhkan itu.
Sang dokter yang melihat interaksi sepasang suami-istri di depannya, hanya bisa diam membisu dan memikirkan bagaimana tindakannya selanjutnya untuk pasiennya kali ini.
Di lain tempat.
Saat ini Dinda terduduk di atas ranjang dengan raut wajah takut.
"Enggak, semua ini bukan salahku, tapi salah Liska" ucap Dinda dengan sorot mata kosong.
__ADS_1
"Yah, salah Liska bukan salahku" ucapnya lagi sambil menggerakkan tubuhnya ke depan dan kebelakang.
"Bukan salahku" gumamnya lagi dengan raut wajah kosong.