
Selesai bersih-bersih, tangan Liska sibuk berselancar di layar ponselnya. Tak lama kegiatannya tadi telah selesai, dengan senyum penuh arti Liska menatap ke arah cermin.
"Apa yang lu minta udah gue penuhin Liska" gumamnya dengan senyum puas.
"Sekarang tahap akhir, menangkap dalang yang sesungguhnya" kata Liska dengan datar.
Liska menatap pantulan dirinya di cermin, mengamati hoodie milik Anton yang sedang dia pakai dengan senyum kecil. Tak lama, Liska mulai berjalan keluar dari kamar mandi dan di sambut oleh Anton di luar.
"Udah?" tanya Anton dengan senyum lembut.
"Hm" balas Liska dengan anggukan kepala pelan.
"Ya udah, ayo ke kelas" ajak Anton dan menggenggam tangan Liska lembut. Saat akan melangkah, pergerakan Anton berhenti saat merasakan Liska masih berdiri di tempat.
"Boleh gue bolos kali ini? Gue mau pulang" ucap Liska dengqn raut wajah memohon.
Mendengar permintaan Liska barusan membuat Anton diam beberapa saat, menatap Liska dengan seksama, setelahnya tersenyum dengan lembut.
"Hm, gue anter" ucap Anton sambil mengelus pipi Liska pelan.
Mereka mulai berjalan ke arah parkiran. Berjalan ke arah motor Anton terparkir, tak lama motor itu mulai melaju keluar dari area parkir dengan kecepatan sedang.
Di lain sisi.
Saat ini, sekolah di hebohkan dengan sebuah berkas yang terkirim di forum sekolah. Banyak siswa-siswi yang menatap tak percaya kepada beberapa gambar dan video yang ada di sana.
"Wah, ini bener?"
"Selama ini kita salah nilai orang?"
"Jadi Lab. Kimia itu ulah Dinda?"
__ADS_1
"Wah! Mereka kok gini sih, bikin orang salah nilai Liska aja"
"Kok bisa ya, gue kira dia polos loh, ternyata licik"
"Si Dinda itu polos atau bodoh sih? Mau-maunnya di manfaatin Clesia"
"Anjay, gila sih ini"
"Pasti Aland sama temen-temennya nyesel"
"Hm, dan akan drama baru"
Begitulah kurang lebih bising-bising yang ada di sepanjang koridor.
Di dalam ruang kelas Aland dan teman-temannya juga tak kalah heboh. Mereka juga sesekali melirik ke arah Aland serta teman-temannya berada.
Sedangkan mereka sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing. Aland menatap kosong ke arah viedo yang sedang terputar di layar ponselnya. Adit dan Tama mengingat kejadian tak lama ini. Adit mengingat sorot mata penuh kebencian dari Liska, sedangkan Tama mengingat sosok Liska yang dia tumpahi oleh cairan busuk tadi, dia mengingat tatapan permusuhan yang Liska arahkan kepadanya. Rehan? Dia sedang menatap ke arah tangannya dengan kosong. Dengan kedua tangannya itu, dia sering melakukan kekerasan kepada Liska.
Tanpa mengatakan apa pun Aland bangkit dari duduknya dan berlari keluar kelas untuk mencari keberadaan Liska. Adit mulai luruh ke atas lantai dengan raut wajah sulit di jelaskan. Sedangkan Tama? Dia mencengkeram sisi meja dengan kuat, menyalurkan rasa emosinya. Karena merasa di bodohi selama ini.
Tama yang melihat Rehan berjalan keluar kelas dengan raut wajah marah pun mengikuti dari belakang. Tinggalah Adit sendirian di dalam kelas, yang sedang merutuki kebodohannya.
~▪︎~
Aland berlari ke arah kelas Liska, dia benar-benar bodoh selama ini dan dirinya tak bisa mengelak lagi.
Di sepanjang koridor banyak siswa-siswi yang menatap ke arahnya. Tapi Aland bodo amat, tujuannya sekarang Liska dan Liska.
Dengan kasar Aland membuka pintu ruang kelas yang tertutup. Mendengar suara pintu yang di buka secara kasar membuat penghuni kelas menatap ke sumber suara. Mereka memandang sosok Aland dengan raut wajah berbeda-beda.
Mata Aland menatap ke sana dan kemari tapi sosok yang dia cari tak ada di dalam kelas. Dengan langkah penuh ancaman Aland berjalan ke arah Rangga, yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.
__ADS_1
"Dimana Liska?" tanya Aland dengan datar.
"Kenapa? Nyesel? Mau minta maaf? Atau mau mohon-mohon sambil nangis?" ucap Rangga dengan senyum mengejek.
"Dimana Liska?!" kata Aland dengan kesabaran yang tipis.
"Gak tau" balas Rangga tanpa minat.
"Jangan cari gara-gara sama gue Rangga, dimana Liska?!" tanya Aland dengan tangan terkepal kuat dan mata menyorot tajam Rangga.
"Ck, lu lihat Liska di sini gak? Enggak 'kan? Terus mana gue tahu dia di mana" balas Rangga dengan santai dan menatap tak suka ke arah Aland.
Bhug!
Tanpa mengatakan apa pun Aland memukul rahang Rangga, hingga sosok Rangga terjatuh menimpa meja kelas. Melihat tindakan Aland barusan, membuat penghuni kelas terkejut.
"Gue tanya sekali lagi, dimana Liska?!" tanya Aland dengan tangan mencengkeram kerah Rangga kuat.
"Gue kagak tahu bego!" maki Rangga dengan raut wajah menahan sakit.
"Ck, buang-buang waktu!" desis Aland dan melepaskan cengkeramannya dari kerah Rangga dengan kasar.
Setelahnya Aland berjalan keluar kelas dengan kekesalan yang meluap. Kakinya berjalan ke tempat-tempat di sekolah, yang mungkin di kunjungi oleh Liska saat ini.
Di lain sisi.
"Sakit Rang?" tanya Yara sambil menatap Rangga dengan iba.
"Pakek tanya lagi, bantui gue berdiri!" kata Rangga tak santai dan menatap Yara dengan kesal. Tangannya memegang bekas pukulan Aland tadi, pukulan Aland benar-benar tak main, terasa nyeri dan sakit.
"Kasihan" ucap Yara sambil mengulurkan tangannya dan di terima oleh Rangga.
__ADS_1
Rangga menatap Yara penuh permusuhan, tapi di balas Yara dengan tawa renyah.
Mendengar suara tawa dari Yara membuat Rangga dongkol, dengan langkah lebar dia berjalan keluar kelas untuk mencari Liska. Jangan sampai Aland yang lebih dulu menemui Liska. Sebenarnya dia ada firasat jika Liska bersama dengan Anton, tapi dia harus membuktikannya dulu, sebelum bernafas lega.