Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 66


__ADS_3

Jam istirahat Liska duduk sendirian di dalam perpustakaan. Dengan tangan sibuk berselancar di layar ponselnya.


Di sela-sela kesibukannya, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya. Awalnya dia kira itu Anton, tapi saat melihat siapa orangnya, membuat kerutan di dahinya bermunculan.


"Lu.." ucap Liska menggantung sambil mengingat nama orang di sampingnya ini.


"A-aku Aisin, t-temennya Dinda dan Clesia" ucapnya sedikit gugup dan tak berani menatap wajah Liska.


"Oh? Ada keperluan apa?" tanya Liska dengan heran.


"A-aku cuma mau ngasih ini ke kakak" ucap Aisin sambil menyerahkan ponselnya ke arah Liska.


"Gue masih punya ponsel" balas Liska dengan datar.


"B-bukan, tapi video yang ada di dalam ponselku" ucap Aisin dan menatap wajah Liska sebentar lalu kembali menuduk takut.


Liska yang penasaran pun mulai membuka ponsel Aisin, atas seizin orang yang punya. Matanya fokus menatap ke arah video yang sedang berputar di layar ponsel itu.


"Lu dapet dari mana?" tanya Liska dengan senyum penuh arti.


"Kemarin aku ambil, ada rekaman suaranya juga. Waktu itu aku gak sengaja denger pembicaraan mereka," balas Aisin sudah sedikit tenang.


"Kenapa lu ngelakuin ini? Mereka temen lu bukan?" tanya Liska dengan raut wajah heran.


"Mereka memang temen aku, tapi apa yang mereka lakuin itu salah dan kata Umi kita gak boleh membela orang yang salah" balas Aisin dengan raut wajah polosnya.


Mendnegar perkataan Aisin barusan membuat Liska tersenyum tipis dan mengusap rambut Aisin pelan. Aisin yang merasakan usapan di kepala, menegang untuk beberapa saat sebelum menatap ke arah Liska.


"Lu baik, gue bawa dulu ponsel lu gak apa-apa?" tanya Liska dengan lembut.


"I-iya" balas Aisin dengan kepala mengangguk cepat.

__ADS_1


"Gue tinggal, satu pesan dari gue, hati-hati sama kedua temen lu" ucap Liska sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Iya!" balas Aisin dengan semangat dan senyum cerah.


Liska menatap Aisin sekilas dan beralih menatap ke arah ponsel di tangannya. Bibirnya tercetak senyum indah, karena fase yang mendebarkan akan segera di mulai.


Sepeninggalan Liska, Aisin tersenyum senang.


"Kepala Aisin di usap kak Liska!" teriak Aisin tertahan dan tersenyum cerah. Dia juga lompat-lompat ringan di tempatnya.


"Ternyata yang di katakan Clesia tentang kak Liska salah, kak Liska gak jahat kok" ucap Aisin dengan pelan dan menatap ke arah depan dengan sorot mata penuh binar.


Di lain tempat.


"Pion-pion yang pintar, lihatlah tatapan tak suka mereka untuk Liska. Sangat memuaskan" ucap seseorang dengan senyum penuh arti.


Di lain sisi.


Di dalam kamar, terlihat seorang gadis dengan penampilan yang cukup berantakan. Apa lagi kamar yang dia huni, sudah tak berbentuk seperti kamar karena beberapa barang yang berserakan di atas lantai.


Dinda terduduk di atas ranjang dengan tangan memeluk lututnya dengan sorot mata kosong. Mungkin depresi, takut jika tindakannya itu ketahuan.


Sedangkan Clesia saat ini sedang menikmati masa-masa berjayanya. Merasa menang karena membuat Liska kembali di pandang buruk dan Dinda yang depresi karena tindakannya sendiri.


"Sungguh kebetulan yang menyenangkan. Dari kebetulan itu dua burung gugur dalam satu tembakan" gumam Clesia dengan senyum senang.


Kembali ke Liska.


Saat ini Liska berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang. Hingga seseorang mengatakan sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.


"Wah, pembawa sial lewat" ucap Derana dengan raut wajah pura-pura takut.

__ADS_1


Liska menatap Derana dengan datar, setelahnya tersenyum sinis.


"Kalau gue pembawa sial terus elu apa? Ratunya antagonis atau muka bertopeng tebal?" ucap Liska dengan senyum sinis.


"Cih! Lempar batu sembunyi tangan!" desis Liska sebelum berjalan meninggalkan Derana yang masih berdiri di sana.


"Memangnya apa yang lu tahu?!" teriak Derana dan itu berhasil membuat langkah Liska kembali terhenti. Liska menatap Derana sinis, setelahnya tersenyum penuh arti.


"Mau gue sebutin Derana? Yang mana dulu ya? Ah iya, elu yang bully Dinda selama ini bukan? Ah, atau lu yang nyebarin kalau gue yang bully Dinda? Atau elu yang bersengkongkol dengan Clesia buat ngejatuhin gue, dengan mengalihkan fakta bahwa gue yang bully Dinda?" ucap Liska dengan senyum sinis di akhir kalimat.


Derana diam sejenak setelah mendengar perkataan Liska barusan, hingga senyum cerah menghiasi wajahnya.


"Oh, udah tahu? Bagus lah, gue kira lu gak bakal tahu" balas Derana dengan senyum puas.


"Gue gak sebodoh itu, rencana lu yang terlalu berbelit" ucap Liska dengan raut wajah santai.


Derana mengepalkan tangannya kuat dan menatap ke arah Liska penuh akan permusuhan.


"Lu itu munafik Liska, gue benci elu!" ucap Derana dengan raut wajah menahan marah.


"Gue munafik?" tanya Liska dengan raut wajah tak paham.


"Gak usah pura-pura polos! Lu ngerebut semuanya, mulai dari popularitas, perhatian banyak orang ke elu, banyak orang yang suka sama elu sedangkan gue? Di pandang dengan tak suka! Dan lagi, lu dengan mudahnya deket sama cowok yang gue suka!" teriak Derana dengan sorot mata penuh akan kebencian.


"Oh, ceritanya lu iri sama gue?" tanya Liska dengan senyum mengejek.


"Yah! Gue iri sama kehidupan lu. Dengan mudah lu dapet semuanya, sedangkan gue? Gue butuh berjuang buat dapetin semua itu! Gak adil bukan?" ucap Derana dengan senyum getir.


Liska yang melihat itu hanya menggelengkan kepala pelan.


"Introspeksi diri gih, lihat diri lu. Emang apa yang udah lu lakuin sampai berpikir diri lu layak dapet semua yang gue dapet? Tingkah lu di sekolah aja udah buat banyak orang gak suka" balas Liska dengan malas dan pergi meninggalkan Derana begitu saja.

__ADS_1


"Gue layak! Gue bersikap kayak gini juga karena mereka!" teriak Derana menyuarakan emosinya.


__ADS_2