Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 73


__ADS_3

Liska masih mengikuti taksi tadi dan sampailah mereka di depan perkarangan rumah yang tak terawat.


Mata Liska menatap ke sekeliling dengan cermat, karena merasa tak asing dengan lokasinya saat ini.


Di depan sana, sosok tadi sudah keluar dari taksi dan berjalan memasuki rumah rapuh yang tak jauh darinya.


Melihat itu, entah kenapa kakinya juga ikut melangkah keluar, tapi dengan tujuan yang berbeda. Kakinya berjalan menuju ke arah pohon besar tak jauh darinya.


"Pohon ini?" gumam Liska dengan heran.


Tangannya mulai terangkat dan menyentuh permukaan kulit kasar itu. Saat menyentuh pohon tadi, suara-suara asing memasuki gendang telingannya.


"Iska! Ayo kejar Ria!"


"Ria larinya jangan kenceng-kenceng dong, Iska jadi susah nangkepnya!"


"Iskanya aja yang lelet"


"Iska gak lelet, Ria aja yang terlalu cepet!"


"Iska Lihat deh, ada anak anjing kelindas truk!"


"Kita bantuin yuk, kasihan"


"Gak mau, Ria mau beli permen!"


"Ria lihat deh, Iska di beliin boneka sama Papa!"


"Bonekanya jelek!"


"Ria Lihat deh, abang Dika buatin mahkota bungan buat Iska!"


"Jauh-jauh! Bunganya bau busuk!"


"Ria lihat deh! Mama buatin makanan buat kita!"


"Ck! Kamu udah gendut jangan makan terus! Jadi ini buat Ria semua!"


"Papa! Lihat teman-teman Iska datang!"


"Abang Liska mau coklat!"


"Abang Awas!"


Brak!


"Papa!!"

__ADS_1


"Papa kamu meninggal gara-gara kamu Iska! Lihat Mama kamu, dia murung di dalam kamar karena ulahmu"


"Tapi, abang Dika bilang bukan karena aku Ria"


"Dika bohong, kamu penyebab Papamu kecelakaan. Kalau kamu gak ngeyel minta coklat sama Dika, semua itu gak akan terjadi"


Begitulah suara-suara itu terus terdengar di telingannya, hingga kepalanya menjadi pusing dan telingannya lama-lama berdengung kencang.


"Akhh!" jerit Liska merasakan sakit di kepalanya.


Sang sopir yang melihat kondisi nonanya pun mulai keluar dari mobil dan berlari mendekat ke arah Liska.


"Non!" panggil sopir Liska dengan raut wajah cemas.


"Akhh! Sakit!" teriak Liska mulai tumbang ke bawah.


Sang sopir yang melihat kondisi Liska yang seperti itu pun berniat akan membawa Liska pulang. Tapi baru saja dia berjalan mendekat ke arah Liska, sesuatu yang keras mengenai kepala bagian belakangnya.


Sopir Liska luruh ke atas tanah dan pingsan dalam sekejab, tak lama sosok Liska juga ikut pingsan karena rasa sakit yang menghampirinya.


"Sebelum gue pancing tikusnya, udah datang sendiri" ucapnya dengan senyum sinis.


Setelahnya, dia memberi aba-aba kepada beberapa orang di belakangnya, untuk membawa sosok Liska memasuki mobil. Mobil itu berjalan menjauh dari sana, meninggalkan sopir Liska sendirian.


Di lain tempat.


"Liska, gue mohon keluar. Gue mau bicara!" teriak Aland lagi dengan raut wajah frustrasi. Bahkan dia mendorong-dorong gerbang rumah hingga mengeluarkan bunyi gaduh.


"Liska gue salah, gue minta maaf!" teriaknya dan masih menatap ke pintu utama.


Mendengar keberisikan yang Aland perbuat, membuat beberapa penjaga rumah berjalan mendekat.


"Berhenti! Anda mengganggu ketenangan komplek ini" ucap penjaga itu dengan datar.


"Lalu?! Gue mau ketemu Liska, suruh dia keluar!" ucap Aland dengan nada suara memerintah.


"Tidak bisa" balas Sang pengawal dengan datar.


"Sebelum Liska keluar, gue gak akan berhenti!" teriak Aland sambil mendorong gerbang itu dengan bruntal.


"Nona tak ada di rumah" balas sang penjaga masih mencoba sabar.


"Bohong! Tadi si keparat Anton antar dia pulang bukan?!" murka Aland dan menatap tajam ke arah sang penjaga.


Melihat kekeras kepalaan Aland membuat penjaga tadi memijat kepala pelan dan menghenbuskan nafas panjang.


"Yah, dan setelah tuan muda Fravash pergi, nona juga pergi di antar oleh sopir" balas sang penjaga dengan lelah.

__ADS_1


"Omong kosong! Cepet suruh Liska keluar!" ucap Aland yang masih tak mempercayai perkataan penjaga rumah Liska.


"Terserah padamu, menghadapimu hanya membuatku bertambah tua" balas sang penjaga dan pergi menjauh dari sosok Aland.


"Woy! Buka dulu gerbangnya!" teriak Aland dengan raut wajah kesal.


"Sial!" maki Aland dan menatap penjaga tadi dengan tajam.


Di lain sisi.


Anton mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Bahkan Rangga pun sedikit kualahan mengikuti laju motor Anton.


Sesampainya di tempat tujuan, Anton langsung turun dan membuang helmnya sembarang arah saat melihat sopir Liska terbaring pingsan di bawah pohon. Rangga juga berlari mengikuti kangkah Anton, walau dia tak paham akan situasi saat ini, tapi dia tahu bahwa Liska sedang dalam bahaya.


"Air!" teriak Anton kepada Rangga, dan dengan panik Rangga mencari apa yang Anton minta. Jujur saja, Rangga sedikit takut dengan Anton yang saat ini. Dia terlihat benar-benar berbeda.


Rangga memberikan sebotol air dan tanpa berpikir panjang Anton menuangkan semua air tadi ke arah wajah sopir Liska. Rangga yang melihat tindakan Anton itu sedikit syok.


Atas tindakan Anton barusan sang sopir berhasil sadar dengan keadaan basah kuyup, dan jangan lupakan deru nafasnya yang seperti ikan kehabisan air.


"Dimana Liska?" tanya Anton dengan datar.


Sang sopir yang masih syok pun tak bisa langsung menjawab, hingga membuat Anton geram dan mengulang pertanyaannya.


"Dimana nonamu bodoh?!" ucap Anton sambil menarik kerah orang di depannya.


Sang sopir yang mendapat tanda bahaya pun mulai menjawab dengan cepat.


"Tidak tahu, tadi nona Liska kesakitan dan saya di pukul. Setelahnya saya tak tahu!" ucap sang sopir dengan mata tertutup rapat. Takut jika terkena pukulan dari Anton.


Mendengar jawab tak memuskan dari sang sopir, membuat Anton menambah cengkeramannya di kerah orang di depannya. Hingga membuat membuat sopir Liska sesak napas.


"Ton, lu bisa bunuh orang" ucap Rangga memperingati dan menatap ke arah sopir Liska dengan raut wajah prihatin.


"Sial!" desis Anton dan melepaskan cengkramannya dengan kasar. Dia bangkit dan menelfon seseorang.


"Lacak keberadaannya! 5 menit tidak lebih!" ucap Anton dengan dingin, setelahnya mematikan panggilan tadi secara sepihak.


"Akhh! Sial!" teriak Anton sambil memukul pohon di depannya.


Bhug!


Rangga? Dia sedang menenangkan sang sopir dan memberikannya minum.


Di jarak yang tak jauh dari mereka ada sosok Adit yang mengintip di balik semak-semak. Mendapatkan sebuah berita penting, dia mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya. Setelahnya kembali fokus mengamati Anton.


"Dia benar-benar menggila karenamu Liska" gumam Adit dengan senyum getir.

__ADS_1


__ADS_2