Dunia Novel

Dunia Novel
Bab 80


__ADS_3

Koridor UGD terlihat begitu sibuk. Beberapa suster dan dokter hilir mudir memasuki UGD. Di depan UGD ada beberapa orang yang menunggu dengan cemas.


Yara duduk di samping Mama Liska, sambil mencoba menenangkan Mama sahabatnya yang menatap ke arah depan dengan kosong.


"Tante mau minum?" tawar Yara dengan lembut.


"Saya mau Liska" balas Mama Liska dengan senyum getir, karena mengingat wajah bahagia anaknya saat berangkat tadi.


Yara yang mendengar perkataan Mama sahabatnya, hanya bisa menunduk dalam.


Dari ujung koridor terdengar suara langkah kaki yang saling bersahutan.


"Yar! Gimana kondisi Liska?!" tanya Rangga dengan raut wajah khawatir. Di belakangnya ada sosok Dino dan Arka yang mengikuti.


"Masih di tangani dokter" balas Yara dengan kepala menunduk dalam.


Di dalam UGD terjadi kekacauan, karena salah satu pasien mengalami penurunan kondisi dan sedikit mengejang. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba menyelamatkan pasien.


"Kondisi pasien semakin menurun dok! Detak jantung pasien tak stabil" ucap salah suster dengan cemas.


"Siapkan alat kejut jantung!" balas sang dokter dengan keringat dingin di dahinya.


Mendengar perintah dari sang dokter, membuat beberapa suster langsung melaksanakannya.


Mereka memasangkan beberapa alat di tubuh pasien.


"I am clear, You clear, Everybody clear" ucap sang dokter yang sudah bersiap memberi pacu jantung ke pasiennya. Mendengar perkataan sang dokter tadi para suster menganggukkan kepala mantap, karena sudah siap.


"120 joule" ucap sang dokter dengan serius dan di laksakan oleh seorang suster yang bertugas di sekitar alat kejut jantung.


Sang dokter memberi satu kejutan dan detak jantungnya masih sama, bahkan semakin melemah.


"200 joule" ucap sang dokter dengan raut wajah datar dan di laksanakan oleh sang suster.


Setelah mendapatkan kejut jantung yang ke dua kalinya, detak jatung pasien masih melemah.


"Detak jantung pasien semakin melemah dok" lapor salah satu suster dengan raut wajah serius.

__ADS_1


"360 joule" ucap sang dokter dan bersiap memberi kejut jantung. Satu tekanan sang dokter memberi kejut jantung ke pasien.


Tittt...


Suara Monitor Holter dan hanya ada garis lurus di layar.


Tenaga medis yang melihat itu hanya diam membisu. Sebelum suara dari sang dokter memecahkan keheningan.


"Catat waktunya, pukul 10.01 hari minggu" ucap sang dokter sambil melihat ke arah jam yang ada di pojok ruangan.


"B-baik" balas salah satu suster dan mencatatnya di buku.


"Bersihkan tubuh pasien" ucap sang dokter dan mulai berjalan keluar UGD.


Di luar.


Mereka menunggu dengan raut wajah cemas. Sudah banyak orang yang menunggu di depan. Bahkan Daddy Anton yang sibuk pun sudah duduk dengan sorot mata dingin.


Suara pintu terbuka membuat mereka mengalihkan fokus dan menatap ke arah sumber suara.


"Bagaimana kondisi pasien dok?" tanya Rangga dengan cepat dan berjalan mendekat ke arah dokter.


"Maaf, tapi kami sudah melakukan yang terbaik. Tuhan berkehendak lain, pasien dengan nama Liska Pramunia di nyatakan meninggal dunia" ucap sang dokter dengan raut wajah sedih.


Mereka yang mendengar itu syok dan menatap ke arah depan dengan kosong.


"Bohong lu, mana ada temen gue meninggal!" bentak Rangga tak terima dengan jawaban sang dokter.


"Sekali lagi maaf" ucap sang dokter dengan kepala menunduk, setelahnya berjalan menjauh dari sana. Merasa gagal menyelamatkan satu nyawa.


"Liska" gumam Yara dengan air mata yang mulai menetes melewati pelupuk matanya begitu saja.


Rangga luruh di tempat dan menatap ke arah depan dengan kosong, tak jauh berbeda dengan yang lainnya.


Mama Liska? Jangan di tanya, dia yang paking terpukul. Bahkan dia masih diam tak memberikan respons apa pun, membuat Arka sedikit cemas.


"Tan" panggil Arka dan berjalan mendekat, belum genap 3 langkah. Tubuh Mama Liska sudah terjatuh pingsan.

__ADS_1


Dengan cekatan Arka menangkap sosok itu dan membawanya ke salah satu ruangan, setelah mendapat saran dari sang suster.


Dino membawa Rangga duduk di samping Yara. Dia sedikit panik, karena harus menenangkan Rangga dan Yara yang sedang menangis memanggil nama Liska.


Di tempat yang tak jauh dari mereka ada sosok Aland berserta teman-temannya menatap kejadian itu dengan raut wajah kosong. Hingga suara Aland membuat mereka sadar.


"Akhh! Liska!" teriak Aland sambil menjambak rambutnya frustrasi dan luruh ke atas lantai.


Daddy Anton menatap mereka dengan raut wajah datar, tak ayal. Dia juga merasakan kehilangan dan cemas akan kondisi putra satu-satunya.


Tak lama berangka yang membawa jasad Liska keluar dari UGD. Rangga dan Aland langsung bangun, menatap ke arah tubuh yang tertutupi kain putih itu dengan sorot mata kesedihan. Aland dan teman-temannya menatap dengan raut wajah kesedihan dan sorot mata penyesalan.


Mereka mulai berjalan mengikuti arah brankar tadi. Meninggalakan sosok Yara, Dino dan Daddy Anton.


"Gak mau lihat?" tanya Dino dengan lembut.


Yara menatap ke arah Dino dengan wajah sembab dan mengangguk pelan. Dengan bantuan dari Dino dia mulai bangkit dan berjalan mengikuti langkah teman-temannya.


Sebelum semakin menjauh suara seseorang membuat langkah mereka terhenti.


"Dengan kerabat pasien?" tanya sang suster dengan raut wajah bertanya.


"Yah?" balas Dino dengan raut wajah bingung.


"Ini beberapa barang bawaan pasien, mohon di terima" ucap sang suster dengan senyum ramah.


Mendengar itu Dino mengulurkan tangaannya dan menerima barang-barang itu.


"Terima kasih" ucap Dino dengan senyum paksa.


"Sama-sama, jika begitu saya permisi" ucap sang suster dengan senyum ramah dan mulai berjalan menjauh.


"Ayo" ucap Dino dan kembali menuntun langkah Yara. Karena barang bawaan yang cukup banyak membuatnya sedikit susah sendiri dan salah satu barang jatuh di atas lantai.


Bruk!


Yara menatap ke arah barang tadi dan tangannya terulur untuk mengambilnya. Tanpa bisa di cegah air matanya kembali mengalir dengan deras. Benda tadi adalah novel titipan Yara, cover novel tadi ada beberapa bercak darah Liska yang menempel di sana.

__ADS_1


"Liska..." gumam Yara dan luruh di atas lantai dengan memeluk novel tadi dengan erat. Dia benar-benar merasa kehilangan sosok Liska.


__ADS_2