
Di depan ruang kepala sekolah, terlihat sosok Anton yang baru saja keluar dari ruangan itu.
Dengan langkah pelan dia berjalan menyusuri koridor hingga bisik-bisik segerombol siswa menghentikan langkahnya.
'Lu lihat tadi? Wajah Rehan nyeremin' ucap siswa A dengan raut wajah berdigik takut.
'Iya, gue denger-denger dia cari Liska' balas si B dengan raut wajah serius.
'Loh? Kenapa?' tanya si A kepo.
'Katanya gara-gara si Dinda yang di bully Liska di kamar mandi. Sampai Dinda masuk UKS loh' balas si B menjelaskan.
'Terus?' tanya si A bertambah kepo.
'Entah, si Rehan lagi mau nemui Liska di kantin. Gue jamin bakal ada kejadian yang menghebohkan setelah ini' balas si B dengan senyum cerah. Maklum senang karena akan ada bahan gosipan baru.
Setelah merasa cukup mendengar Anton mulai berlari ke arah kantin, dirinya cemas dengan sosok Liska.
"Sial!" maki Anton karena jarak antara ruang kepala sekolah dan kantin yang cukup jauh. Kakinya masih berlari menyusuri koridor dengan langkah cepat.
Sesampainya di sana, Anton bisa mendengar suara pukulan. Dengan tak sabaran Anton membela kerumunan dan melihat kejadian di depannya dengan raut wajah tak percaya.
Di sana, dia lihat sosok Liska yang sedang beradu mulut dengan Rehan.
Anton berdiri di sana untuk mencerna keadaan saat ini dan setelah mendengar bisikan dari beberapa orang di belakangnya, Anton mengerutkan dahi tak percaya.
"Liska mukul Rehan?" gumam Anton tanpa mengeluarkan suara, dengan raut wajah sedikit tak percaya.
Kembali ke sisi Liska.
Liska masih berdiri di tempatnya dengan senyum remeh.
Dari arah belakang Rehan terlihat sosok Adit yang sudah geram dan mulai berjalan ke arah kedua orang itu dengan sorot mata tajam.
"Lu bener-bener berubah Liska, ke mana Liska yang gue kenal dulu? Ke mana hilangnya Liska temen gue yang dulu?!" bentak Adit dengan tangan terkepal erat.
__ADS_1
"Sebelum gue jawab, lu tanya sama diri lu sendiri, ke mana Adit yang gue kenal dulu?" ucap Liska sambil menatap Adit dengan datar.
"Lu tahu Dit? Gue bener-bener kecewa sama lu semua. Kehadiran satu perempuan ngerubah sikap lu semua sama gue. Dan lagi, dengan mudahnya lu semua percaya sama mereka ketimbang temen lu sendiri? Temen yang udah lu kenal 3 tahun? Dan begonya gue selalu diem dan berharap lu bakal kembali kayak dulu lagi" ucap Liska dengan senyum miris di akhir kalimat.
Adit yang mendengar perkataan Liska barusan sedikit terenyuh dan menatap ke arah Liska dengan sorot mata bingung.
"Jangan mengalihkan topik Liska" desis Rehan dengan sorot mata tajam.
"Gue gak mengalihkan pembicaraan" balas Liska dengan senyum tipis.
"Sekarang ikut gue, lu harus minta maaf sama Dinda dan bertanggung jawab atas apa yang lu lakuin ke Dinda" ucap Rehan, dengan paksa menarik tangan Liska keluar kantin.
"Liska!" teriak Yara saat melihat sosok Liska di bawa paksa oleh Rehan.
Sedangkan Aland? Jangan terlalu berharap, dia masih diam membisu. Masih belum tahu yang benar siapa dan yang salah siapa, karena pangkatnya itu dia tak bisa memihak kepada orang yang salah. Sebab itu dia memilih dia. Dika? Dia hanya mengepalkan tangan dan berdiri di tempatnya dengan kaku.
Saat mereka akan melewati sosok kerumunan siswa, tanpa suara tangan Anton mencengkal satu tangan Liska yang bebas.
Rehan menatap tangan Anton dengan nyalang. Karena menghentikan langkahnya.
Anton masih menggenggam tangan Liska tak memedulikan perkataan Rehan barusan.
Tanpa mengatakan apa pun Anton menarik sosok Liska hingga pegangan Rehan di tangan Liska terlepas. Setelah terlepas, Anton membawa Liska ke belakang tubuhnya.
"Jangan sentuh cewek gue!" desis Anton sambil menatap tajam ke arah Rehan.
"Cewek lu harus tanggung jawab atas perbuatannya" ucap Rehan dengan raut wajah mengeras.
"Emang apa yang cewek gue lakuin sama cewek lemah lu itu?" tanya Anton dengan santai dan masing menyembunyikan Liska di balik tubuhnya.
"Dia bully cewek gue Anton!" marah Rehan dengan tangan terkepal erat.
"Rehan nampar Liska dan mukul Rangga!" sela Yara sebelum Anton mengangkat suara.
"Lu nampar cewek gue?! Jadi impas bukan? Sekarang lu pergi dari sini!" ucap Anton dengan nada suara memberat. Karena mendengar Liska di tampar oleh cowok brengsek seperti Rehan.
__ADS_1
"Nyentuh cewek gue, berarti harus siap bertanggung jawab" batin Anton dengan sorot mata tajam.
"Udah Han, mending lu ke Dinda" ucap Dika mengangkat suara. Tanpa menunggu reaksi Rehan, Dika membawa Rehan keluar dari kantin.
Tama dan Adit menatap sinis ke arah Anton setelahnya berjalan menyusul langkah Dika. Tinggalan Aland sendirian di sana.
Dengan langkah pelan Aland berjalan mendekat ke arah kedua orang tadi dan berniat menarik Liska ke sisinya. Tapi pergerakan tangannya di hentikan oleh Anton.
Mereka berdua saling melempar tatapan penuh permusuhan hingga Aland membuka suara.
"Lepas" ucap Aland dengan datar.
"Lu gak ada hak buat nyentuh dia" ucap Anton sambil melempar tangan Aland dengan kasar.
"Gue ada hak, karena gue tunangannya" ucap Aland sambil menatap ke arah Anton dengan sorot mata penuh peringatan.
"Tunangan? Tunangan mana yang diem aja ngelihat ceweknya di kasarin? Udahlah mundur aja dari sisi Liska, gue siap gantiin elu" balas Anton dengan senyum remeh.
"Jangan kelewatan batas Anton!" ucap Aland yang terpancing emosi dan menarik kerah Anton kasar.
"Aland!" teriak Liska dengan marah dan mendorong kasar tubuh Aland, hingga tubuh itu berjalan mundur beberapa langkah. Dengan dingin Liska menatap ke arah Aland.
"Stop cari masalah, gue muak sama sikap lu yang gak ada dewasanya!" ucap Liska dengan dingin dan aura permusuhan.
Aland menatap datar ke arah Liska, hingga matanya menatap ke arah pipi Liska yang lebam karena tamparan Rehan tadi. Tangannya terulur berniat ingin mengelusnya, tapi di tepis kasar oleh Liska.
"Jangan sentuh gue" kata Liska dengan datar. Aland menatap Liska dengan raut wajah penuh peringatan.
Tanpa memedulikan sosok Aland, Liska menarik tangan Anton untuk keluar dari kantin.
"Akhh!" teriak Aland sambil mengacak rambutnya frustasi. Sudah dua hari Liska menjauh darinya, setiap kali dia ingin berbicara dengan Liska, pasti di sana ada Rangga atau Anton. Saat dia ke rumah Liska, dirinya di usir oleh penjaga, yang entah sejak kapan di pekerjakan.
Dan satu lagi, sikap Liska yang benar-benar seperti menolak kehadirannya. Selalu menatapnya dingin dan datar, serta tak suka.
"Apa gue salah?" batin Aland dengan raut wajah frustrasi. Dia kembali goyah dengan pendiriannya, bahwa dia tak melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Gak, gue gak ada salah sama dia. Semua yang gue lakuin itu sesuai tingkah dia selama ini" ucapnya dengan datar dan mulai berjalan keluar kantin dengan langkah pelan.