
Di ruangan yang gelap dengan cahaya yang minimalis, terlihat ada seorang gadis terikat di bangku dengan mata tertutupi kain dan mulut di sumpal dengan kain pula.
Tanda-tanda kehidupan mulai terlihat di gadis itu.
"Eghh!" gumamnya sambil mengangkat kepalanya pelan. Merasakan tak nyaman di tubuh membuatnya berusaha membuka mata tapi sulit, seperti ada sesuatu yang menghalangi matanya untuk terbuka.
"Emmm!" teriaknya yang tak jelas dan menjadi gumangan karena sumpalan di mulutnya.
"Akhh! Situasi macam apa ini?!" teriak Liska dalam hati dan dengan tubuh meronta di dalam ikatan.
Di ambang pintu, ada seseorang yang menatap ke arah Liska dengan senyum puas. Dengan langkah pelan dia mulai berjalan mendekati Liska, dan tanpa suara dia berjalan ke arah Liska dan dengan kasar dia menampar pipi Liska.
Plak!
Wajah Liska tertoleh ke samping, dengan raut wajah terkejut.
"Hai, Iska" bisik orang tadi di dekat telinga Liska dan tersenyum mengejek.
Liska yang mendengar bisikan tadi sedikit tak percaya.
"Iska, nama panggilan dari gadis kecil itu dan Dika" batin Liska dengan raut wajah tak percaya.
"Bagaimana rasanya hidup menjadi seorang antagonis?" tanyanya dengan senyum mengejek.
"Gue suka sama elu yang menjadi antagonis secara suka rela. Tapi sayang akhir-akhir ini lu gak asik" ucapnya sambil menenggakan badan dan menatap ke arah Liska dengan raut wajah pura-pura sedih.
Raut wajah itu tak bertahan lama. Secara cepat wajahnya menjadi datar dan menatap Liska dengan sorot mata tak suka.
"Seharusnya lu itu nurut, menjadi tikus yang baik!" bentaknya sambil menjambak rambut Liska kasar.
__ADS_1
"Ck! Gara-gara elu yang berubah, semua yang gue susun hancur!" ucapnya dan melepas jambakannya dengan kasar.
Dengan raut wajah sinis dia menyisir rambut depannya ke belakang.
"Pion-pion gue juga bodoh," ucapnya dengan sorot mata tajam.
"Ck! Mereka benar-benar bodoh dan bertindak tanpa arahan. Sayang sekali mereka terlalu gegabah, mungkin setelah ini mereka akan di hukum penjara setelah umur 18 tahun atau hidup mereka hancur? Sepertinya opsi ke dua lebih tepat" ucapnya dengan raut wajah malas. Dia diam beberapa saat, dan menatap Liska dengan sorot mata menilai.
"Kau tahu siapa itu Anton? Ck, gue cukup terkejut waktu tahu siapa dia" lanjutnya dengan mata menatap Liska dengan raut wajah tenang. Sedangkan Liska masih diam dan mendengarkan, mau membalas perkataannya pun tak bisa. Mulutnya masih tersumpal dan tubuhnya terikat dengan cukup kuat.
"Dia anak tunggal dari keluarga Fravash! Beruntung sekali dirimu, tak mendapatkan emas tapi di ganti oleh berlian" ucapnya dengan raut wajah kesal.
"Hah, dari dulu hidupmu indah, Iri 'nya" ucapnya dengan raut wajah malas.
Setelah mengatakan itu, dia menatap Liska datar, tangannya juga terkepal kuat.
"Lu itu gak cocok buat bahagia Liska! Cewek lemah kayak elu itu gak cocok bahagia!" teriaknya di depan wajah Liska dan menampar wajah Liska dengan kasar.
Tanpa mengatakan apa pun dia menarik pengikat mata Liska dengan kasar.
"Emmh!" teriak Liska karena merasa sakit bercampur terkejut.
"Buka mata lu bego!" teriaknya sambil menjambak rambut Liska kasar.
Liska mulai membuka matanya, walau penglihatannya masih buram. Dengan fokus dia menatap wajah di depannya dan berangsur penglihatannya mulai jelas.
"Dia?!" kejut Liska dengan sorot mata terkejut. Dia gadis yang tak lama ini Liska ikuti.
"Why? Terkejut?" ucapnya dengan senyum sinis, saat melihat raut wajah Liska.
__ADS_1
"Emhh!" gumam Liska sambil memberontak di dalam ikatannya.
"Ah, sepertinya kau akan menyampaikan sesuatu" ucapnya dan menarik kain yang menyumpal mulut Liska.
"Siapa kau?! Apa mau mu?!" bentak Liska dengan raut wajah menatapnya dengan tajam.
"Haha, respons yang berbeda dari yang ada di pikiranku" ucapnya dengan tawa renyah.
"Gue? Gue Ariana Basilia Nareswari atau Ria? Iya 'kan Iska?" ucap Ariana dengan senyum mengejek. Liska diam beberapa saat, sambil menatap ke arahnya ddngan sorot mata sulit di artikan.
"Ck! Seharusnya elu udah gila" ucap Ariana sambil menatap Liska dengan raut wajah tak suka.
"Dengan mental lemah, seharusnya dua preman buat ngelecehin elu itu lebih dari cukup!" bentak Ariana dengan murka.
"Wanita gila, jadi elu yang ngirim dua biada itu?!" ucap Liska dengan emosi.
"Yah" balas Ariana dengan santai dan tersenyum sinis.
"Lu tahu? Bukan cuma preman, yang nyebapin Papa lu meninggal juga gue. Dengan sengaja gue dorong Dika ke tengah jalan biar ketabrak, tapi sayang Papa lu terlalu baik, jadi dia berkorban deh" ucap Ariana dengan raut wajah pura-pura sedih.
"Ck, kenapa Dika selamat? Kenapa gak mati juga sama Papa lu? Terus kenapa Mama lu masih sayang sama elu?!" ucapnya dengan kesal.
"Gila! Lu gila!" teriak Liska tak habis pikir dengan orang di depannya.
"Yah gue gila, karena ngelihat elu bahagia di dalam keluarga, sedangkan gue? Hidup menderita di dalam panti asuhan, sendirian dan gak ada orang tua atau pun keluarga! Lu gak pantas buat bahagia! Gak sama sekali!" teriak Ariana dengan nada suara marah.
"Gue juga anak baik, tapi kenapa Tuhan gak adil? Dia lebih sayang ke elu yang lemah, di banding gue yang tangguh!" marah Ariana dan menendang kursi yang di duduki Liska, hingga membuat sosok Liska terjatuh di atas lantai dengan kasar.
"Cih!" decih Ariana dengan malas dan menatap Liska dengan dingin. Setelahnya bibir itu tersenyum sinis ke arah Liska. Dengan langkah tenang dia berjalan keluar dari sana, tak ada niatan untuk membantu Liska berdiri. Dengan kasar dia membanting pintu.
__ADS_1
"Jadi, penghancur di kehidupan Liska adalah gadis yang menjadi teman di masa kecilnya?" gumamnya dengan raut wajah lelah, lelah karena situasinya saat ini. Dia memang berhasil memecahkan teka-teki siapa dalang dari kehancuran hidup Liska, tapi apa harus dia terjebak dalam situasi yang tak menguntungkan ini?.