
Sepulang sekolah, Fia sedang membereskan beberapa alat tulisnya dengan tenang.
Disa baru saja pulang, karena jemputannya sudah menunggu sebelum kelas selesai.
Setelah semuanya masuk ke dalam tasnya, ia mulai berjalan keluar kelas dengan langka pelan.
Di pertengahan koridor, tanpa di sadar ada sebuah bola mendarat tepat di kepalanya.
Bhug!
Hantaman yang cukup keras, membuat kepalanya sedikit pusing.
"Gak apa-apa?" tanya seseorang dengan lembutnya.
"Hm" balas Fia dengan tangan memegang kepalanya yang terasa sakit.
Melihat gerak-gerik Fia membuat lelaki tadi merasa bersalah, dia hendak membawa Fia ke UKS tapi sudah di dahului oleh seseorang.
"Eh?!" kejut Fia sambil melingkarkan tangannya di leher sang pelaku. Dan anehnya lagi, degub jantungnya berjalan tak normal.
Fia menatap cowok tadi dengan lamat. Dia benar-benar tak mengenal siapa orang ini, tapi kenapa saat berdekatan dengannya membuat Fia ingat akan seseorang? Rasa ini tak asing baginya.
Mereka sampai di taman belakang, dengan hati-hati cowok tadi meletakkan sosok Fia di bangku taman.
"Siapa?" tanya Fia dengan heran.
Bukannya menjawab, dia malah menatap lamat wajah Fia. Dan tanpa mengatakan apa pun dia membawa Fia ke dalam dekapannya.
"Kangen" ucapnya dengan masih memeluk sosok Fia.
Fia yang di perlakukan seperti itu pun bingung, perasaannya bimbang. Hati kecilnya bilang untuk membalas pelukan lelaki di depannya, tapi pikirannya bilang untuk mendorong lelaki itu menjauh.
__ADS_1
"Jangan pergi jauh-jauh" ucapnya dengan kepala ia senderkan di bahu Fia dan dapat Fia rasa, pundaknya mulai basah.
Fia mulai memberontak dan berhasil terlepas dari pelukan lelaki tadi.
"Siapa sih? Jangan kurang ajar!" ucap Fia dengan sedikit membentak.
"Masa lupa? Apa aku tambah jelek gara-gara masuk ke tubuh ini?" gumamnya dengan raut wajah imut.
"Gue tanya sekali lagi, lu siapa?!" ucap Fia sedikit meninggi.
"Yang! Ini aku Anton Fravans, masa lupa sama pacar sendiri?!" ucapnya dengan raut wajah di tekuk.
Fia yang tak percaya dengan pendengarannya pun menatap ke arah lelaki di depannya dengan raut wajah tak santai.
"Gak usah ngacok lu" ucap Fia mencoba menepis pemikirannya.
"Aku gak ngacok, jiwa aku Anton dan tubuh yang aku tempatin ini Frash" balasnya dengan raut wajah meyakinkan.
"Buku, bukan maksud aku novel yang ada di kamu itu. Alurnya sesuai dengan kisahmu di duniaku bukan?" ucap Anton dengan raut wajah meyakinkan.
"Gak masuk akal. Gue cuma mimpi dan kebetulan mimpi itu sesuai dengan alur novel itu" balas Fia dengan raut wajah tak percaya.
"No, itu bukan mimpi sayang" ucapnya dengan lembut.
"Jika benar bukan mimpi, apa buktinya kalau elu itu Anton?" tanya Liska dengan raut wajah serius.
Mendengar pertanyaan Fia tadi membuat Frash tersenyum lembut.
"Banyak, mau ku sebutkan satu persatu hm?" tanya Frash dengan tangan menyelipkan rambut Fia di balik telinga.
"Pertama, kamu penyuka coklat dan makanan manis. Ke dua, kamu begitu unik hingga hanya beberapa orang saja yang memahami dirimu dan yang ke tiga, aku menyukaimu dengan tulus, sebab itu di mana pun kamu berada di situ ada aku" ucap Frash dengan senyum lembut.
__ADS_1
Fia sedikit tak percaya dengan apa yang dia dengar, perkataan Frash tadi seperti perkataan Anton setiap dia tanya, kenapa menyukainya.
"Bagaimana mungkin?" ucap Fia dengan raut wajah tak percaya. Karena kalimat yang di katakan Frash barusan tak tertera di dalam novel, kata-kata itu hanya di ketahui mereka berdua.
"Apa hm?" balas Frash dan kembali memeluk tubuh Fia dengan lembut.
"Bagaimana mungkin kau di sini? Dan bagaimana mungkin kau tahu jika aku yang mengendalikan tubuh Liska di sana?" tanya Fia tak paham.
"Entah, yang aku ingat. Aku keluar dari ragaku setelahnya berpindah ke tempat putih kosong, hingga ada suara yang menjelaskan tentang apa yang kau alami, setelahnya dia berkata bahwa aku bisa bertemu denganmu lagi, tapi ada sesuatu yang harus ku bayar. Jadi tanpa pikir panjang, aku menyuruhnya untuk mengirimku ke tempatmu," ucap Frash sambil menatap Fia dengan lembut.
"Karena dulu aku anak baik jadi dia mengabulkannya" ucap Frash dengan senyum bangga.
Mendengar perkataan Frash tadi, membuat Fia menatap datar lawan bicaranya. Merasa salah dengan perkataan lelaki di depannya.
"Lu gak marah?" tanya Fia dengan raut wajah heran.
"Marah kenapa? Merasa di tipu karena kamu gak jujur? Enggak tuh, yang terpenting aku bisa memelukmu lagi, rasanya masih sama. Tak peduli dengan apa yang kita alami. Yang pasti kau takdirku, di mana pun kau berada maka ada aku di sana" ucap Frash dan kembali mendekap tubuh Fia.
Fia yang mendengar perkataan Frash tadi hanya bisa tersenyum lembut dan membalas pelukan itu.
Dalam diam mereka saling menyampaikan rasa rindu dan saling memberi rasa nyaman.
"Lalu apa bayarannya?" tanya Fia dengan raut wajah heran.
"Hanya menjadi anak broken home" balas Frash dengan santai.
"Sesimpel itu?" ucap Liska tak percaya.
"Hm, walau sedikit mendapat kekerasan, tapi gak apa-apa, yang terpenting ada gadisku di sisiku," ucap Frash sambil menatap Fia dengan sungguh-sungguh.
"Udah jangan di pikirin. Yang terpenting kamu dan aku selalu bersama" balas Frash, dengan lembut mencium dahi Fia.
__ADS_1