
Di sinilah Liska sekarang, di dalam ruang olahraga. Untuk mengambil beberapa bola untuk pelajaran hari ini.
Moodnya saat ini sangat down, bagaimana tidak? Pagi tadi Aland merecoki harinya. Pria satu itu benar-benar keras kepala dan batu. Ingin rasanya dia cepat-cepat memutuskan hubungan dengan Aland, tapi tak mungkin. Masih ada satu hal yang harus dia lakukan saat ini. Jika dia memutuskan tanpa alasan yang jelas, sudah pasti hubungan keluarga yang terjalin bertahun-tahun bisa hancur dan mungkin bisa bermusuhan. Jadi dia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan bukti. Bukti jika sikap Aland selama ini tak cukup baik dengannya.
Dengan santai Liska mengambil beberapa bola dan tanpa angin atau hujan. Di belakangnya sudah ada seseorang berdiri menjulang dengan raut wajah tak suka.
"Liska" panggilnya dengan nada suara tersirat ke tidak sukaan.
Liska menatap ke sumber suara dan di sana dia melihat sosok Dinda dengan raut wajah angkuh. Dengan kerutan di dahinya Liska menatap ke arah Dinda.
"Apa?" balas Liska dengan raut wajah santai.
"Kamu merencanakan apa? Jangan cari gara-gara sama aku Liska!" ucap Dinda dengan raut wajah tak suka.
"Lu ngelindur? Gue gak paham" balas Liska dengan raut wajah malas.
"Jangan pura-pura gak paham Liska, aku tahu kamu berniat merebut mereka dariku 'kan?" tuduh Dinda dan berjalan mendekat ke arah Liska.
"Lu kalau ngomong yang jelas! Mereka siapa yang mau gue rebut?!" ucap Liska dengan raut wajah sedikit kesal.
"Kak Rehan dan teman-temannya, kamu mau merebut mereka lagi 'kan? Itu
Alasan kenapa kamu berubah dan pura-pura lupa ingatan? Kamu penipu!" ucap Dinda dengan tangan terkepal erat.
__ADS_1
"Gue mau ngerebut mereka? Sorry gak minat. Ambil aja kalau butuh, udah gue buang soalnya" balas Liska dengan raut wajah tak berminat.
"Kamu kok gitu? Mereka bukan barang yang bisa di buang sembarangan!" ucap Dinda dengan kesal.
"Lu tuh bener-bener bego atau gimana? Dasad otak udang" balas Liska dengan sinis. Setelahnya dia berjalan melewati sosok Dinda yang sedang menahan kesal.
"Aku bukan otak udang!" ucap Dinda dengan kesal dan tanpa di duga Dinda melemparkan bola basket tepat ke kepala Liska. Lemparannya memang tak kencang tapi itu cukup sakit.
Liska menatap ke arah Dinda dengan sinis.
"Gue tahu bukan lu dalangnya, tapi kalau lu cari gara-gara sama gue jangan salahin gue kalau gue juga bales" ucap Liska dengan tajam, tanpa menunggu lama Liska melemparkan bola di tangannya ke arah Dinda dengan kuat. Membuat sosok lemah itu terjatuh di atas tanah.
"Akh!" teriak Dinda dengan raut wajah kesakitan.
Saat Liska akan berjalan ke arah Dinda, tangannya sudah di cekal oleh seseorang dengan kuat. Bukan cekalan pada umumnya, ini benar-benar erat dan sakit.
Tak menunggu lama sosok itu mendorong Liska hingga terbentur oleh meja bekas.
Tak memedulikan sosok Liska lagi, Rehan mulai berjalan ke arah Dinda dan membantunya untuk berdiri.
"Ck" decak malas Liska, dalam batinya berkata murahan sekali drama ini.
"Hampir aja gue mau minta maaf, ternyata topengnya kebongkar lagi" ucap Adit dengan senyum sinis.
__ADS_1
"Topeng? Lu mau gue lepas topeng yang mana?" ucap Liska dengan senyum sinis. Sudah cukup kesabarannya, dia benar-benar muak berpura-pura tenang dan sabar di depan mereka.
"Wah! Ternyata bener, hampir aja gue ketipu" ucap Tama dengan sorot mata tak santai.
"Yah, tunggu aja tanggal mainnya, gak lama lagi kok" ucap Liska dengan senyum sinisnya.
Liska menatap datar ke arah Aland , setelahnya tersenyum sinis dengan penuh arti dan di balas dengan dingin oleh Aland.
Tanpa menunggu lama, Liska mulai berjalan melewati mereka dan kembali ke lapangan dengan satu bola di tangannya.
Saat tubuhnya melewati sosok Aland langkahnya terhenti.
"Gue pastiin pertunangan ini bakal batal secepatnya" ucap Liska tersenyum sinis dan menatap Aland sekilas setelahnya berjalan menjauh dari sana.
Respons Aland? Tentu saja marah dan geram. Dia lelaki yang penuh akan obsesi dan sedikit labil. Jadi apa kalian kira Aland akan membiarkan itu terjadi? Tentu saja tidak.
Tanpa di sadari oleh semua orang ada satu orang yang menatap Liska dengan lekat. Setelahnya menatap ke arah Dinda, sekilas dia melihat Dinda yang tersenyum puas dalam pelukan Rehan.
"Dia... sial!" ucapnya tanpa suara sambil menatap ke arah Dinda dengan raut wajah rumit.
"Gue salah, gue bela orang yang salah. Gue kenal Liska lebih dulu bahkan sebelum Aland ketemu Liska. Gue tahu Liska kayak gimana, tapi kenapa bisa gue salah bela orang? Gimana bisa gue juga ikut adil buat ngehakimi Liska? Bego lu Dika!" batin Dika memaki dirinya. Menyesal? Jangan di tanya, ingin marah? Tak perlu di ragukan tapi kepada siapa?.
Beberapa minggu lalu diam-diam dia memerhatikan sosok Dinda. Dan dia kerap kali melihat raut wajah tak suka dan sorot mata penuh akan kebencian yang Dinda berikan untuk Liska. Dika awalnya ragu jika Dinda yang polos menjadi sosok yang licik tapi setelah kejadian ini dia sadar, ternyata dia salah.
__ADS_1
Dia diam di tempat dengan sorot mata kosong dan linglung. Otaknya memutar semua kenangan yang pernah dia lakukan kepada Liska.
"Sial!" desis Dika dan tanpa menunggu lama dia berjalan menjauh dari teman-temannya.