
"Kenapa harus aku, jika boleh memilih aku bahkan tak pernah ingin berada dalam situasi seperti ini"
"are you okay?".Della menatap Yuda yang hanya diam sedari tadi. ia mengerti apa yang pria ini alami. namun tak tak jua harus berbuat apa. yang biasa ia lakukan hanya ada disampingnya.
"always,".Yuda menatap Della dengan pandangan sayu. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini mungkin hanya dia dan tuhan yang tau.
"kalo kamu pengen nangis, nangis aja gak ada salahnya kamu ungkapin apa yang saat ini ada di pikiran kamu".Sontak saja Yuda memeluk Della dengan erat. ia menenggelamkan wajahnya di area leher Della. Dan betul saja tak lama setelahnya Della merasakan area lehernya basah. Yuda menangisi tanpa suara, ia seakan mengulang detail kejadian kejadian masa lampau, mengingat setiap momen dengan keluarga mulai dari ia kecil hingga saat ini.
Merasakan perbedaan yang begitu kental, dulu ia juga disayang dan jadi prioritas utama orang tuanya, apa yang ia inginkan pasti akan ia dapatkan, saat ia terluka bahkan hanya luka kecil kedua orang tuanya akan khawatir dan membawanya ke rumah sakit. satu satunya permintaan yang sampai saat ini Yuda sesali adalah, kehadiran seorang adik. Ya awalnya ia memang bahagia dengan kehadiran adiknya, namun lambat laun semua hal yang rasanya selama ini menjadi miliknya mulai berpindah satu persatu ke adiknya.
"gpp, ada aku, kamu punya aku".ucap Della dengan mengelus elus rambut lebat milik Yuda. Yuda hanya diam tidak membalas perkataan Della. tapi yang pasti saat ini ia merasa beruntung, ternyata Tuhan masih memberikan dirinya sebuah kesempatan untuk merasakan yang namanya bahagia.
setelah acara menangis Yuda selesai, ia tertidur dalam pelukan hangat milik Della. membenarkan posisi tidur Yuda agar terlihat nyaman, ia menambahkan selimut sampai dibawah leher,menatap wajah itu sejenak, Della pun bergegas keluar dari dalam kamar mewah dengan dominan warnah gelap itu. saat ia mencapai anak tangga terkahir ia melihat kedua orang tua Yuda yang dengan santainya ber cengkrama dengan Ano adik Yuda yang sedang berada diluar negri melalui saluran telepon.
"kamu pikir ini rumah kamu, bisa seenak jidatnya untuk keluar masuk".suara milik mamanya Yuda menghentikan langkah Della yang hendak berjalan keluar rumah.
"sorry, tapi kayaknya kalian gak layak buat dihormati".sarkas Della menatap dingin kearah kedua orang tersebut. Della meneliti penampilan kedua orang yang berada didepannya, dilihat dari barang yang melekat pada tubuh keduanya, Della bisa sadar jika orang orang ini adalah orang orang yang mempunyai pendidikan tinggi. Namun sayang pendidikan tanpa iman seperti nya memang tak berguna. Bayangkan jika seseorang memiliki iman yang tinggi ia pasti jelas tau bagaimana seharusnya memperlakukan seorang anak serta kewajiban yang harus ia penuhi. Tapi melihat dari apa yang selama ini Yuda alami ia tentu bisa menilai.
Tolong jangan bilang dirinya kurang ajar, ia hanya ingin menyampaikan pendapatnya saja, ia hanya ingin mengingatkan bahwa orang tua seharusnya punya peran penting dari perjalanan seorang anak,kalian jelas bisa melihat perbedaan seorang anak yang akur dengan keluarganya dan seorang anak yang bahkan tidak pernah merasakan apa arti dari kata keluarga itu sendiri. Anak yang tidak pernah bercerita kepada orang tuanya akan cenderung memiliki sikap dan sifat yang kurang baik. Dan orang luar hanya akan mengucilkannya bukan membimbing, mungkin itulah salah satu alasan seorang anak yang broken home memilih untuk menjadi orang kuat, walau sifatnya tentu belum baik. Jika ingin tau anak yang selalu membuat masalah sebenarnya hanya ingin perhatian dari kedua orang tuanya, tapi yang ia dapatkan hanya kian dikucilkan, bagaimana Della bisa berkata seperti itu?,sebab ia sedang mengalami kondisi yang sama.
''lancang sekali mulut kamu''. mamanya Yuda menatap marah kearah Della. ia seperti merasa direndahkan di dalam rumahnya sendiri.
__ADS_1
''Jika tidak benar ,lantas kenapa Tante harus merasa''. Della kian tersenyum remeh kearah mamanya Yuda.
''dasar anak tidak tau diri keluar kamu dari rumah saya''. mamanya Yuda mendorong Della untuk keluar dari rumahnya. memangnya siapa gadis itu sampai berani beraninya berkata seperti itu. anak masa puber memangnya tau apa, ia bahkan yakin gadis itu bukan anak baik baik, terlihat sekali dari prilakunya.
"Cuman mau pesan hargai sebelum ada, karena percaya Tante penyesalan diakhir itu sangat menyakitkan" Della bergegas pergi ia bahkan sempat mengangkat jari tengahnya kearah kedua orang tua dari Yuda.
Arga yang sedari tadi diam, hanya bisa menampilkan wajah datarnya, ia merasa sebenarnya gadis itu ingin memperingati mereka, memberikan info yang jika terlambat mereka sesali akan membaut mereka menyesal dikemudian hari. Dan jika boleh jujur ia juga menyukai sikap dari putri Dirgantara tersebut, mempunyai sifat yang tegas, dingin, namun secara bersamaan memiliki kepribadian yang baik. Ia pernah melihat gadis itu di salah satu rapat dengan perusahaan Dirgantara, caranya menekan para investor membuatnya kagum. namun seakan orang yang berada didalam rapat itu menghilang, ia melihat Della yang membagikan makanan untuk para anak anak jalanan saat ia hendak kembali ke perusahaan miliknya. Jika boleh jujur ia menyukai gadis itu dan yakin jika seandainya Della dan Yuda bersatu pasti kelak mereka akan menjadi orang orang hebat , bahkan bisa melebihi dirinya saat ini. Jangan berpikir ia tidak tau apa yang anaknya lakukan Selama ini, dan asal kalian tau Yuda masih tetap menjadi anak kesayangan nya.
"pa kok papa diam aja si , dia ngerendahin kita pa". Lusi istri dari Arga jengkel melihat suaminya yang hanya diam saja, saat anak gadis kurang ajar itu merendahkan mereka.
"lantas harus bagaimana?".jawab Arga dingin.
Arga menatap Lusi dengan pandangan dingin khas-nya, ia tak akan pernah Sudi untuk menatap wanita ini hangat, pernikahan yang berlandas perjodohan memang akan jarang bahagia, seperti yang saat ini mereka jalani, jika bukan karena perjodohan mungkin sampai saat ini Arga masih melajang, ia memang tidak terlalu suka dengan wanita, menurutnya wanita hanya akan membuat dirinya repot, dan memang kenyataannya seperti itu bukan. Namun mengingat wajah Della yang mengejek dirinya tadi, entah mengapa sesuatu dalam dirinya ingin berontak, ia tak suka saat gadis itu mengucapkan kata kata kotor, ah dirinya juga bahkan ingin terus melihat gadis itu. entah dirinya tidak tau mengapa bisa seperti ini, dan ini baru pertama kali dalam hidupnya.
''kita tidak sedekat itu , bahkan jika gadis itu membunuhmu sekalipun saya akan tetap diam''. ucapan Arga sontak membuat Lusi bungkam, apa yang baru saja Arga katakan menghantam hatinya, apa pernikahan mereka yang sudah berjalan selama kurang lebih 18 tahun ini tidak ada artinya.
''jadi maksud kamu gimana, apa Yuda dan Ano bukan bukti jika kamu sudah menerima pernikahan ini?''.pertanyaan itu membuat Arga geram.
"bukankah kamu yang menjebak saya, dan soal Yuda dan Ano itu keinginan mu bukan,tapi terlepas dari itu saya beruntung kamu melahirkan seorang putra seperti Yuda, ia mewarisi sikap saya, dan Ano saya bahkan tidak yakin jika ia merupakan anak kandung saya''. ucap Arga terkekeh remeh, ia bisa melihat jika raut wajah istrinya sudah berubah, Apa istri nya ini pikir dirinya bodoh, selama ini ia membiarkan Yuda mendapat ketidak adilan, diperlakukan seperti anak tiri sementara anak dari hubungan istri dan selingkuhannya diperlakukan layaknya anak kandung.
''maksud kamu apa mas?''.lusi bertanya dengan nada yang pelan. Tidak mungkin jika suaminya tau apa yang selama ini ia lakukan bukan, ia selalu bermain rapi, Tapi melihat dari gelagat suaminya ia tau jika suaminya pasti sudah tau.
__ADS_1
''kamu jelas lebih tau''.Arga pergi meninggalkan Lusi yang terdiam kaku.
...----------------...
Jalanan yang habis diguyur hujan kini mulai kembali ramai oleh lalu lalang pengendara, Della yang sejak tadi duduk di halte hanya memperhatikan kejadain itu, ia merasa tenang saat berada ditempat dimana ia sendiri, tidak mengenal siapa pun, dan mungkin hal ini lah yang ia butuhkan tenang dan damai. Tapi sepertinya ketenangan yang ia miliki tidak akan berlangsung lama, saat sebuah mobil mewah berhenti tepat didepannya, melihat siapa yang melihat pemilik mobil itu , tubuhnya seketika menegang, ia hanya berani jika ada Yuda bersama nya, namun saat ini ia sedang sendirian, terdengar pengecut memang namun mau dikata apa lagi, bahkan jika boleh jujur tadi dirumah Yuda saja ia sudah mulai takut, namun pura pura berani, jika kalian ingin tau, setelah keluar dari pekarangan rumah Yuda, Della Manarik napasnya dalam dalam guna untuk menetralkan nafasnya yang tidak beraturan.
"om Arga''. ucap Della tanpa sadar. pengemudi itu adalah Arga. Della merasa aura yang dikeluarkan oleh Arga jauh lebih dingin daripada yang Yuda keluarkan.
''ikut saya''.perintah Arga menarik tangan Della lembut. ia melihat sekeliling halte yang memperhatikan mereka dengan tatapan penasaran, apa ia terlihat seperti orang yang akan menculik anak kecil saya.
''ibu, bapak tolongin saya, saya mau diculik''.ucapan Della sontak membuat bola mata Arga membulat,ia melihat sekelilingnya yang kian menatap nya penasaran. bahkan ia yakin orang orang disini sudah bersiap untuk menghubungi polisi. namun dengan seringainya ia berkata.
''sayang kok kamu gitu si, jangan marah lagi ya nanti mas beliin yang kamu mau''.ungkap Arga dengan lembut.
''maksud om apa?''.tanya Della tak mengerti.
menghiraukan pertanyaan Della, Arga malah menatap para warga yang berada di halte denagny tatapan dingin, kemudian berkata.
''maaf menganggu waktu kalian, tapi wanita itu memang istri saya, dia sedang marah sebab tak saya turuti ngidamnya''.Para warga yang mendengar itu kemudian mengangguk tanda mengerti, seorang wanita menatap Della kemudian berujar.
''lain kali jangan gitu neng, mungkin suaminya lagi sibuk, makanya gak bisa nurutin''.
__ADS_1