
"Aku kayak gini karena sayang banget sama kamu by, aku gak bisa bayangin kamu ketemu sama orang lain di luaran sana".ungkap Bian meraih wajah Della.
Diciumnya wajah yang terlihat begitu menggoda dengan mata sayu tersebut, Bian jujur tidak tega sebenarnya namun ia harus dan wajib melakukan itu,ditambah Bian juga harus bisa menyembunyikan Della dari parah musuh yang pastinya tidak sedikit, berada dalam kehidupan Bian tentu saja penuh dengan bahaya, tapi Bian juga tidak tau apa yang akan terjadi jika Della tidak ada bersama dengannya.
"Ishh jauh jauh kita musuhan sekarang". Ketus Della yang masih tidak terima dirinya tidak diizinkan bekerja oleh Bian, padahal kan nanti jika ia dan Bian sudah punya anak pasti Della juga akan berhenti kok.
"Gak boleh gitu sama suami, dosa mau masuk neraka". Ucap Bian mencoba menakut nakuti Della.
"Hmmm habisnya kamu nyebelin banget sih". Ungkap Della yang akhirnya pasrah saat Bian ikut tidur dan memeluk dirinya dengan begitu erat.
"Tangan kamu kan berat Bi eh mas maksudnya". Della mencoba melepaskan tangan Bian yang saat ini melilit perutnya, itu tangan besar dan pastinya berat woy.tolonglah anda sadar diri.
"Tidur By, atau kamu aku tiduri". Bian menarik Della hingga kian dekat dengan dirinya.
"Tidurin aja, emang kamu berani''.tantang Della dengan nada bercanda.
"Kamu serius, kamu udah siap?". Bian langsung bangkit dark acara berbaring nya.
"Hmm toh itu hak kamu kan". Jawab Della serius, memang benar kan sekarang dan nantinya dia sudah menjadi milik Bian dan sudah menjadi kewajiban nya untuk melayani suaminya itu.
"By aku gak main main ya, kamu gak tau aja berapa sering aku tahan, dan jangan mancing kalo kamu gak mau aku serang". Bian masih bisa berpikir jernih meski sebenarnya saat ini dia sedang berusaha menahan sesuatu yang minta untuk dilepaskan.
"Kamu gak mau ya, udah lah kita tidur aja lagi". Della melepaskan tangannya yang tadi membelai wajah Bian,dia berbalik dan tidur membelakangi Bian.
Cup.
Dengan sekali tarikan kini Della sudah menghadap Bian, kedua bibir mereka menyatu, dan saat ini percayalah Bian sedang diliputi oleh gairah, dan ya terjadi lah hal yang saat ini kalian pikirkan.
Pukul 2 dini hari mereka baru selesai dengan kegiatan yang menyenangkan itu, Bian merasa sangat bahagia hingga bibirnya tetap tersenyum sedari tadi, sedangkan Della yang sudah kelelahan hanya bisa tertidur dengan lemas, ini merupakan pengalaman pertama untuk dua orang itu, dan rasanya sungguh sangat menakjubkan.
"Makasih by, makasih karena udah jaga diri kamu, dan makasih karena udah izinin aku untuk jadi yang pertama buat kamu". Ungkap Bian mencium kening Della dengan lembut, entah mengapa mereka tidak merasa lapar saat ini padahal mereka bahkan belum makan malam.
Bian kembali tertidur dengan menarik Della kedalam pelukannya mereka tidur dengan tubuh yang saling menempel bahkan dibawah selimut itu mereka tidak mengenakan apapun.
__ADS_1
Pagi sudah datang menyingsing, kedua mahluk yang sedang tertidur dengan posisi saling berpelukan itu tidak terganggu sedikit pun dengan cahaya matahari yang sudah masuk melalui celah celah kaca kamar mereka, Bian terlebih dahulu bangkit dari acara tidurnya, ditatapnya wajah yang sudah menjadi candu untuknya itu,
Cup.
Setelah mencium bibir Della sekilas Bian bergegas masuk kedalam kamar mandi, membersihkan diri.
Diluar kamar mandi Della baru saja bangun dari tidurnya, saat akan bangkit badannya terasa remuk semua, mana bagian bawah nya juga terasa begitu sakit, rasanya Della ingin menangis saat ini, bagaimana tidak badannya terasa seperti mati rasa.
"Issjh sakit banget". Gumam Della yang hanya bisa duduk di atas kasur, ia akan meminta pertanggungjawaban Bian saja.
"Kamu udah bangun?". Tanya Bian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk, perut kotak kotak pemuda itu terpampang dengan jelas, membuat Della ingin menekan nekan nya, ah kenapa suaminya itu terlihat begitu tampan pagi ini.
Bian mengikuti arah pandang Della, kemudian tersenyum tipis saat melihat Della yang memandang perut kotak kotaknya dengan tatapan begitu minat.
"Nih pegang". Bian mengarahkan tangan Della pada perut nya, membaut cewek itu tersenyum senang, rasanya menyenangkan dan Della suka, mungkin sekarang perut Bian akan menjadi mainan paporitnya.
"Hmm keras banget". Ujar Della senang.
"Udah ya, sekarang kamu mandi biar aku gendong". Tanpa menunggu jawaban Della Bian langsung menggendong Della yang mengakibatkan selimut yang menutupi tubuh Della merosot dan menjadikan tidak tertutup sehelai benang pun, saking malunya Della hanya bisa menutup matanya tak berani melihat Bian.
"Aku tinggal ya, aku mau ngambil makanan buat kamu".
"Jangan lama lama". Ujar Della setelah sedari tadi dia hanya diam.
Bian mengangguk dan langsung keluar dari kamar mandi menuju dapur, sesampainya disana dia melihat para pelayan yang sedang sibuk, tanpa kata Bian mengambil piring yang sudah tersedia di meja makan, langsung mengambil makanan yang juga tersedia disana, dan tentu saja air putih.
Bian kembali kekamar dan mengambil sesuatu yang berupa bubuk kemudian mencampur nya pada air putih itu, bubuk itu adalah bubuk yang akan mencegah kehamilan,sudah Bian katakan bukan, dia hanya ingin hidup berdua dengan Della, mereka tidak membutuhkan orang lain termasuk kehadiran seorang anak, Bian hanya tidak ingin nanti nya pergantian Della yang sepenuhnya miliknya akan terbagi dan itu tentu saja sangat mengesalkan.
Della yang sudah lengkap dengan pakaian nya datang dari arah closed dia mendekat pada Bian yang sedang sibuk dengan tab nya, tidak bisa kah Bian tidak memegang benda itu walau hanya satu hari.
"Mas suapin". Manja Della duduk di atas pangkuan Bian yang bahkan tidak terganggu
"Bentar ya sayang ini bentar lagi selesai". Bian mengalihkan lagi perhatian nya pada tab itu, perusahaan nya saat ini sedang naik pesat itulah yang menjadikan ia begitu sibuk akhir akhir ini, tapi walaupun begitu Bian tetap memilih bekerja dari rumah untuk beberapa saat ini, tidak ingin meninggalkan Della seorang diri.
__ADS_1
"Ih aku lapar mas inikan karena kamu yang gak mau berhenti semalam padahal aku udah minta cukup". Ungkap Della yang tidak disaring, setelah tersadar dengan perkataan nya Della jadi malu sendiri, dia hendak turun dari pangkuan Bian guna menghilangkan rasa malunya, tapi pemuda itu menahan Della dengan memeluk pinggang Della dengan erat.
"Maaf ya sayang, sekarang makan hm". Bian langsung melettakkan tab nya dan mengambil makanan yang tersedia di meja didepan nya, dia menyuapi Della dengan telaten setelahnya baru dia menyuapi dirinya sendiri.
"Sekarang minum hm". Bian memberi kan air yang tadi sudah ia campur pada Della, Della yang serat langsung menghabiskan minuman itu tanpa sisa, membuat Bian yang melihatnya tersenyum dengan begitu senang.
"Good girl". Bian mencium kening Della lembut.
"Kamu mau punya anak berapa?". Tanya Della setelah mereka hanya hening dan yang terdengar hanya jam yang sedang berputar.
Bian menatap Della dengan lembut, tidak mungkin dia mengatakan keinginan nya pada Della, yang ada cewek itu hanya akan tertekan, yang bisa Bian lakukan adalah menjaga agar Della tidak hamil tanpa pengetahuan dari perempuan itu, melihat dari binar mata Della Bian sangat yakin Della menginginkan seorang anak hadir diantara mereka, yang sayangnya Bian tidak menginginkan hal itu.
"Kamu emang mau berapa?". tanya Bian basa basi, mencoba memberikan Della harapan.
"Hmm dua mungkin satu cowok satu cewek pasti seru de, nanti rumah kita bakal jadi rame". Ungkap Della dengan mata penuh harap, seakan dia sudah bisa membayangkan bibirnya tersenyum dengan begitu manis.
"Hmm"jawab Bian acuh, dia tidak terlalu suka dengan pembahasan ini, dan jujur ini sungguh menjengkelkan.
"Mas ngantuk". rengek Della, dengan kepala yang saat ini di tumpahkan disisi leher Bian, membaut cowok itu menggeram karena nafas Della yang saat mengenai kulit lehernya, membuat sesuatu yang berada dibawah sana menjadi tegang.
"Selamat tidur sayang, maaf membuat kamu tidak bisa meraih semua impian kamu, tapi aku gak bisa jika harus membagi kamu bahkan jika itu dengan anak kita". Bibir Bian mengecup kening Della dengan lembut, kemudian dia memindahkan Della ketempat tidur. Memberikan selimut agar cewek itu tidak merasa kedinginan
Dibawah tepatnya diruang tengah, para pelayan sibuk dengan tugas tugas mereka tidak ada yang berani main main dan lalai dengan tugasnya, jika saja ada sedikit kesalahan maka mereka akan kena amuk oleh tuan mereka, gaji yang diberikan bekerja disini memang tidak main main, tapi sebanding dengan nyawa dan juga rasa aman jantung mereka saat tuannya itu sedang tidak dalam keadaan baik.
"Untung saja sudah ada nyonya, jika tidak mungkin kita akan dihabisi oleh tuan saat melihat kejadian kemarin". Ungkap salah satu pelayan, kemarin mereka lalai mengakibatkan salah satu tumbuhan dirumah ini mati, untungnya ada Della yang sedang membuat kegaduhan di dapur hingga tuan mereka langsung menuju dapur tanpa sempat marah marah lebih dulu
"Iya, dan untungnya nyonya baik dan juga sepertinya tidak sombong, aku heran kenapa dia mau sama tuan yang begitu dingin dan menyeramkan padahal setahu ku nyonya itu merupakan putri dari keluarga Dirgantara yang artinya dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau". Sahut pelayan lain yang juga sedang bergosip.
"Saya gaji kalian untuk bekerja bukan menggosip". Ungkap Bian dengan datar, sedari tadi dia sudah berada disana namun tidak ada satupun yang sadar.
"Maaf tuan". Ungkap pelayan itu dengan takut takut.
"Saya cuman mau bilang, satu kali lagi nyonya kalian terluka selama itu berada dalam kawasan dalam rumah kalian yang akan menerima sasarannya dan katakan pada teman teman mu yang lain". Bian menatap para pelayan itu dengan datar.
__ADS_1
"Dan juga jangan bicarakan apapun pada nyonya kalian, jangan biarkan dia menyentuh dapur dan hal hal yang bisa membuat nya terluka". Sambung Bian dengan datar.