
terimaksih sudah mengantar om, saya masuk dulu".Arga hanya mengangguk saat Della berpamitan. Melihat Della masuk kedalam rumah yang tak kalah mewah dari rumah milikinya dengan tatapan datar. Entah kenapa ia enggan untuk beranjak seperti ada yang menahannya.
Sementara Della, masuk kedalam rumah dengan wajah tanpa dosa, semenjak ia menolak untuk bertunangan dengan Bian dan mendapatkan kabar Yuda masuk rumah sakit, ini kali pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah ini.
Belum lama saat ia menginjakkan kakinya, dia sudah disambut dengan tatapan datar dari kedua orang tuanya, dan jangan lupakan wajah tak bersahabat dari Aksa kakaknya.
"Ingat pulang juga kamu".ujar Celine dengan nada yang sinis, ia bahkan sudah berdiri di depan Della dengan tatapan yang yang meremehkan.
Della hanya diam, dia malah menantang balik dengan menatap mamanya dingin, melihat hal itu entah mengapa malah menyulut emosi Celine, sementara Dirga yang juga menyaksikan hal tersebut merasa tidak suka, ia kini juga ikut berdiri didepan Della dan tanpa aba aba.
Plakk.... plak....
"Kamu darimana aja, kenapa tidak mati saja sekalian''.sarkas Dirga emosi. Apalagi ia mengingat bagaimana dengan mudahnya Della menolak perjodohan yang sudah lama ia rancang.
"Dasar anak tidak tau diri, menyesal saya pernah melahirkan kamu".hardik Celine tanpa memikirkan perasaan Della.
"Della, Della, kamu memang tidak pantas berada di keluarga ini, kamu tau kamu itu cuman sampah, sampah". tambah Dirga uang hanya mendapatkan respon datar dari Della.
"Udah?". tanya Della dingin.
"Pulang kemana? pa, ma, pulang kemana?,. rumah?,mana ada orang yang mau pulang ketempat dimana dia gak dibutuhkan,tempat dimana orang itu cuma dianggap angin lalu?,MANA ADA HA,",teriaknya diujung kalimatnya.
"Sayang maksud kamu apa ?",tanya seorang wanita yang sejak tadi hanya diam menangis melihat keluarganya.
"gak usah pegang pegang!",sentak sang gadis saat wanita paruh itu hendak memeluk sang gadis.
"Jangan kasar",decak pria yang tidak jauh beda usianya.
"hahhah, lo mana tau ,apa yang gue rasain?,saat gue pengen cerita tapi gak ada yang dengar, saat Lo lagi jatuh tapi gak ada yang nyemangatin, saat Lo lagi nangis sendirian, saat Lo harus berjuang buat diri Lo sendiri, LO MANA TAU ANJING",murkanya.
sang pria terdiam bahkan sang pria dan wanita paruh baya itupun hanya terdiam, sungguh mereka tidak pernah menyangka bahwa apa yang mereka lakukan selama ini membuat putri semata wayang mereka mengalami hal yang begitu menyakitkan selama ini.
__ADS_1
"sayang, hiks...hiks... maafin mama,sini ayo cerita sama mama, kamu bisa ngeluh sama mama, mama bakal temanin kamu",tangis wanita itu merasa sesak mendengar keluh kesah anaknya ini.
"telat ma, mama Uda telat, aku Uda terbiasa lakuin semuanya sendiri",kekeh Della.
"sayang ,tolong jangan ngomong gitu",kata sang mama memelas.
"jadi harus kek mana ma, apa aku harus tetap jadi anak penurut , yg semuanya Uda ditentuin sama mama dan papa, yang aku yakin bahkan kalian gak tau apa yg aku mau sedikitpun",cecar Della.
"JAGA BICARA KAMU DELLA, SAYA TIDAK PERNAH MENDIDIK KAMU SEPERTI INI",bentak Dirga yang sejak tadi jengah melihat sang istri membujuk putrinya ini.jujur ia kecewa dengan kelakuan sang anak yang tidak bisa dikontrol.
"EMANG PAPA PERNAH DIDIK AKU?,gak pa papa gak pernah didik aku apapun selain gimana caranya hidup sendiri tanpa bergantung pada siapa pun", balas Della tidak kala keras.
"Mau kamu apa sebenarnya Della?", tanya Aksa sang Kaka yg juga mulai bosan melihat pertengkaran tidak berguna ini.
mendengar itu, Della pun tersenyum manis kemudian berkata.
"Aku cuma mau kalian yg ada dirumah ini anggap aku Uda gak ada, kita jalanin kehidupan kita masing masing",jawab Della berlalu keluar dari rumah ,meninggalkan tiga orang itu yg tertegun.
"Kamu pikir kamu bisa hidup diluaran sana tanpa uang dari saya, jangan mimpi Della, kamu tidak ada apa apanya tanpa saya".ujar Dirga mencoba bersikap tenang.
Akan tetapi ia tidak pernah berpikir jika akhirnya akan seperti ini, ia kehilangan anaknya. Mungkin raga Della memang ada bersama mereka, tapi setelah dipikir pikir mereka memang sudah lama kehilangan gadis ini. Mereka seakan lupa bagaimana dulu mereka berusaha untuk mendapatkan seorang gadis kecil ini butuh banyak perjuangan. Tapi setelah mendapatkan nya mereka malah menyia nyiakan kehadirannya.
Celine ingat betul bagaimana dulu dia dengan teganya menolak saat anaknya ini meminta ditemani bermain, bagiamana saat gadis kecil ini mengadu saat ia terjatuh padanya, dan juga bagaimana saat seorang gadis cilik datang dengan senyum lebarnya sambil mengangkat sebuah piala, dan juga masih teringat jelas dalam benaknya bagiannya dimana mata gadis itu menatapnya dengan tatapan kecewa dan juga marah saat ia dengan teganya mengabaikan semua itu hanya kerena anak pertamanya datang dengan hal yang sama. Dan lihat lah bahkan setelah hari itu anaknya tak pernah lagi datang padanya, tak lagi pernah berbagi cerita bersamanya. Saat ini yang ia tau hanya keberhasilan keberhasilan sang anak tidak lagi pernah ia mendengar keluh kesah . Baru ia sadari jika sebenarnya ia sudah gagal ,gagal sebagai seorang ibu.
"Papa gak perlu mikikirin itu yang perlu papa pikirin adalah anak kesayangan papa seperti biasanya".Della berkata dengan sedikit kekehan, merasa miris dengan kehidupannya. Apa salah seorang anak meminta untuk disayangi, bukankah itu memang hak tiap-tiap anak.
"Baik kalo begitu, silahkan angkat kaki dari rumah ini, tapi saya tidak akan pernah mengirim uang lagi, dan semua barang yang kamu dapat dari silahkan tinggalkan".ucap Dirga menantang. Ia yakin anaknya yang biasa hidup dalam kemewahan ini takkan bisa hidup tanpa uannya diluaran sana.
"Kita lihat siapa yang akan menggantikan peran saya, membiayai kehidupan mewah kamu?".tanya Dirga sinis.
"Saya ,saya yang akan menanggung semua kehidupan Della kedepannya".ujar seorang pria masuk tanpa diundang.
__ADS_1
"Om Arga".cicit Della tanpa sadar.
"Argantara apa yang kamu lakukan dirumah saya?".tanya Dirga heran. Untuk apa pengusaha sesibuk dan sebesar Argantara datang bertamu kerumah nya. Dan lagi apa maksud perkataan pria itu.
"Hanya menjemput putri kesayangannya saya".Arga mendekat dan meletakkan tangannya di pundak Della. Ia kemudian tersenyum melihat tatapan bingung dari Della.
"Kamu sudah tidak mau anak ini lagi bukan?".tanya Arga dengan lembut mengacak rambut Della.
"Maksud kamu apa Arga, Della itu anak kami dan tetap akan jadi anak kami, jadi tolong kamu jangan macam-macam, dan lagi apa kamu tega memisahkan seorang ibu dari anaknya".ujar Celine mengebu-gebu. Air matanya sudah menetes dengan deras, baru saja ia ingin memperbaiki kehidupannya dengan sang putri tapi sekarang sudah muncul masalah baru lagi.
"Ibu apa kamu pikir kamu pantas disebut seorang ibu".ujar Arga dengan sinis. Celine yang mendengar hal itu hanya terdiam kaku. Lidahnya keluh untuk menjawab.
"Della sinis, berdiri disebelah saya".perintah Dirga tak ingin dibantah.biar bagaimana pun hatinya tersentil saat ada orang luar tang begitu menginginkan anaknya, namun ia dengan begitu tega ingin membuangnya, dia tau jika sampai Della ikut dalam keluarga Argantara maka besar kemungkinan mereka memang akan kehilangan Della untuk selamanya.
Namun lagu lagi dadanya seakan sesak saat Della bahkan tidak bergerak se inci pun, ia menatap Della dengan pandangan terluka.
"See, Della memilih saya, dan ya saya peringatkan untuk tidak pernah lagi mengganggu putri saya".ujar Arga .
"Dell Lo apa apan si, ngapain Lo sama orang ini Lo masih punya keluarga Dell, jangan gila Lo".ucap Aksa setelah dari tadi ia hanya jadi penonton. Ia kesal dengan sikap Della yang hanya diam, sudah jelas jelas mempunya keluarga utuh kenapa harus pergi dengan orang lain, dan lagi kenapa ia merasa takut sekarang.
"Orang yang Lo bilang orang lain ini sekarang udah jadi papa gue, dan lagi terkadang memang orang luar jauh lebih mengerti dari orang dalam".ujar Della enteng. Terkadang memang seperti itu bukan, orang yang paling kompeten untuk menghancurkan kita adalah orang dekat kita. Orang yang selama ini kita anggap keluarga pun kadang masih bisa menghancurkan bukan secara fisik, tetapi lebih kearah mental.
"Yaudah yuk dell, kita pulang, kamu udah gak ada kepentingan lagi kan disini".ucap Arga.
"Dell tikong jangan tinggalin mama, mama janji akan berubah , mama akan berikan semua yang selama ini kamu mau, kalo kamu mau cerita mama akan dengarin, kamu sakit akan mama rawat, dan kalo kamu mau minta mama ambil rapot kamu akan mama ambil yang penting jangan tinggalin mama". Celine sudah menangis histeris saat kata kata Della tadi terucap.
Ia tidak bisa membayangkan penyesalan yang akan selalu menghantuinya jika Della memang akan pergi.
"Dia nyokap Lo anjing, bisa gak si sekali aja turunin ego Lo itu".sarkas Aksa . Ia tidak suka siapapun membuat mamanya menangis, melihat air mata ibunya entah kenapa juga membuat ia merasa sakit.
"Gue gak peduli".singkat Della.
__ADS_1
Sejujurnya ia ingin memeluk ibunya, biar bagaimanapun ia hanya seorang anak, akan tetapi mengingat kembali masa lalu, ia mengurungkan niatnya, ia hanya bisa memalingkan wajahnya agar tak melihat sang ibu yang menangis. Ia ingin memanfaatkan tapi hatinya belum bisa
"Yuk om ,kita pergi, tapi sebelum itu saya mau bilang makasih sama tuan dan nyonya Dirgantara yang sudah sudi menampung saya selama ini, sudah membiarkan saya melihat dunia, dan juga sudah memberikan luka yang begitu dalam, saya pamit tuan dan nyonya". ucap Della kemudian bergegas keluar dari rumah. Mengabaikan tangisan pilu sang ibunda. Meninggalkan sesuatu yang membuat luka, kemudian berjalan kearah masa depan yang entah bagaimana itu.