
Waktu berjalan terasa begitu cepat, seakan baru kemarin Della menginjakkan kakinya di tempat ini guna berangkat untuk melanjutkan pendidikan nya, tapi hari ini dia menginjakkan lagi kakinya ditempat yang sama dengan kondisi yang berbeda, empat tahun berlalu terasa begitu cepat, banyak hal yang berbeda selama rentan waktu tersebut, dimulai dari dirinya yang kini sudah menyandang gelar sebagai seorang sarjana, dan yang paling terlihat adalah dirinya yang sedang menjalin kasih bersama dengan salah satu sahabat nya dulu.
Dengan langkah pasti dan senyum yang merekah Della berlari kecil menuju seorang pemuda yang sudah menunggunya dengan senyum hangat, pemuda itu merengkuh tubuh Della erat, menyalurkan rasa rindu yang begitu dalam.
"Kangen". Lirih Della mengeratkan pelukannya.
"Hmm". Gumam pemuda itu dengan tangan yang mengelus rambut Della lembut.
Sekedar info, sejak bersama dengan pemuda ini entah kenapa sikap bergantung Della yang dulunya berlaku pada Yuda kini berpindah, bahkan yang lebih gilanya lagi malah bertambah. Pemuda ini seakan membuat Della begitu bergantung padanya.
"Kamu lapar?,mau makan dulu gak?"tanya sang pria merangkul Della keluar dari area parkir. Sementara dari arah belakang para bodyguard yang melihat kejadian itu hanya tersenyum manis, mereka tak menyangka majikan mereka yang selama ini terlihat datar, kejam, dan juga bengis itu bisa bertingkah semanis itu.
"Mau makan apa?". Tanya pria itu setelah mereka duduk disalah satu restoran.
"Aku minum aja lah, masih kenyang juga". Balas Della mengalihkan pandangannya pada area restoran.
"Okay, jus alpukat satu, dan capuccino, udah itu aja". Ucap pria itu pada pelayan yang pelayan yang datang menghampiri mereka.
"Baik di tunggu ya mas, mba". Pelayan itu berlalu untuk menyiapkan pesanan.
"Gimana Amerika?". Tanya sang pria meneliti penampilan Della yang selalu memukau, sejak pertemuan terakhir mereka Della memang selalu saja cantik.
"Ya gitu gitu aja sih Bi, gak ada yang seru, disana aku juga paling cuman belajar pulang, sama sesekali main sama teman". Cerita Della pada pria yang tak lain adalah Bian Wijaya, ya Bian dan Della resmi berpacaran sejak dua tahun silam, dan begini lah sekarang.
"Oh ya, kamu happy?". Tanya Bian memastikan, dia harus memastikan Della selalu bahagia dan itu merupakan suatu keharusan.
"Of course, dan itu berkat kamu". Jawab Della.
"Oh ya Bi, tau gak masa selama aku disana gala da satu pun cowok yang mau ngedeketin, udah gitu pas ada malah ngilang besoknya, aneh kan?".cerita Della mengingat kejadain aneh selama dia di Amerika.
Diam diam Bian menyunggingkan senyum nya, ah tidak tau kah Della jika semua itu adalah ulahnya, dia yang selalu menyingkirkan orang orang yang berpotensi mengambil miliknya.
"Oh ya, kok bisa gitu ya, aneh banget".ucap Bian pura pura heran.
"Maaf mas, mba, ini pesanannya silahkan dinikmati". Pelayang yang tadi datang mengantarkan minuman yang dipesan oleh Della dan Bian.
"Ok mba, makasih ya". Kata Della ramah, ia menyunggingkan senyum nya saat pelayan itu membalas dengan senyum pula.
"Ah gak penting juga sih, kan aku ada kamu sekarang". Sambung Della menyambung perkataan mereka tadi.
"Btw Bi, aku boleh kerja kan ya?". Della harus izin kan,biar bagaimanapun sekarang Bian sudah menjadi salah satu orang penting dalam kehidupannya.
__ADS_1
"Kalo aku gak ngizinin kamu gak masalah?".tanya Bian balik dengan hati hati.
Dia bisa melihat raut wajah Della berubah, tapi kali ini Bian ingin egois, dia hanya ingin menyimpan Della untuk dirinya sendiri, ingat dirinya sendiri.
"Terus aku harus ngapain kalo gak kerja?". Della menatap Bian penuh harap, berharap pemuda ini mengubah sedikit keputusan nya. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi.
"By liat aku, kamu punya aku, ngapain kerja, nanti kamu capek, kalo kamu bosan kamu bisa belanja bantu aku ngabisin duit, kalo gak kamu bisa datang kekantor buat nemanin aku". usul Bian, memang benar kan untuk apa dirinya bekerja keras hingga menjadi pemilik dari perusahaan nomor satu di negri ini jika orang yang menjadi motivasi nya malah memilih bekerja.
"Hm, Yaudah de kalo kamu gak ngizinin, lagian kan aku bakal sibuk sama urusan pertunangan kita". Ungkap Della yang membuat Bian menyunggingkan senyumnya bahagia. Ini yang ia impikan Della selalu menuruti apapun yang diinginkan nya.
"Yaudah balik yo, aku udah kangen sama mama papa". Della berjalan lebih dulu kemudian disusul oleh Bian yang berhasil menyamakan langkah mereka.
"Om Arga". Kata Della lumayan keras saat melihat pria yang tak asing sedang berjalan dengan seorang anak perempuan di dalam gendongannya.
Bian yang mendengar teriakkan Della mengalihkan pandangannya pada arah pandang Della, sementara priai yang di teriaki namanya itu mencari arah suara.
"Om, ini benaran om Arga kan ya?,ini siapa om?, Eh apa kabar om?". Tanya Della beruntun dengan pandangan yang tidak lepas dari anak kecil yang menatap mereka dengan muka polos.
"Fredella, halo apa kabar, pertama, iya benar ini saya Argantara, kedua ini anak om cinta namanya, yang terakhir saya baik, kamu apa kabar?", Tanya Arga setelah menjawab pertanyaan dari Della. Gadis yang dulu menangis dengan histeris saat putranya tiada, kini sudah tumbuh dengan begitu baik , dan mungkin juga sudah mendapatkan pengganti dari putranya, terlihat dari cara pemuda ini menatap Della Arga tau bahwa Della sudah bertemu dengan orang yang mencintai nya begitu dalam, mungkin terlalu dalam.
"Baik om, eh halo cantik, kenalin kak Della anak angkat papa kamu". Della mengulurkan tangannya dan di sambut malu malu oleh gadis kecil itu, melihat itu Della merasa gemas dan langsung mencubit pipi gembul milik anak tersebut yang mengakibatkan anak itu menangis kencang.
"Gak papa Della, kalo gitu saya pamit dulu ya, nanti jangan lupa undang saya saat kamu nikah". Canda Arga, setelah mendapatkan jawaban Arga bergegas pergi guna memenangkan anaknya yang sedang menangis.
"Lucu banget ya dia, nanti kita juga punya yang kaya gitu kan?". Della tersenyum membayangkan nya, tidak sabar rasanya mempunya bayi se menggemaskan itu, dan dia yakin anaknya nanti pasti akan mempunyai visual yang tidak main main, sebab orang tuanya juga punya visual yang unggul, dasar Fredella Pede Dirgantara.
"Hmm anak ya". Gumam Bian, tidak Bian rasa mereka tidak membutuhkan itu, cukup mereka berdua, dirasa dengan kehadiran seorang anak akan membuat perhatian Della terbagi dan dia tidak akan menyukai itu, cukup dia dan Della tak perlu ada orang lain.
Kediaman Dirgantara.
Dirga dan Aksa menatap jengah pada Celine yang sedari subuh sibuk mempersiapkan penyambutan kedatangan Della, bukannya mereka tidak senang dengan kedatangan anggota keluarga yang akan lengkap, tapi sungguh rasanya ini sangat berlebihan, ini bukannya seperti penyambutan malah ke lebih perayaan ulang tahun anak berusia lima tahun, bayangan kan saja dengan spanduk bertuliskan Welcome home, dan juga balon balon yang beterbangan, dan lebih gila para pelayan yang sudah memegang terompet.
"Mah ini berlebihan banget tau". Protes Aksa setelah sedari tadi diam mengamati.
"Berlebihan apaan si Sa, ini tuh bukti mama senang dengan keberhasilan Della, kamu ini gak ngerhargain mama banget sih". Omel Celine menatap Aksa tidak suka, bayangkan dia sudah berusaha semaksimal mungkin dan ada orang yang mengatakan berlebihan sakit cuy.
"Pah tegur tuh istrinya". Bisik Aksa pada Dirga yang berdiri disebelahnya.
"Malas". Jawab Dirga singkat,
"Kalian siap ya, nanti saat Della buka pintu kalian langsung tiup terompet nya, ingat saya gak mau ada kesalahan". Perintah Celine menatap para pekerja satu persatu.
__ADS_1
"Siap nya". Jawab mereka serempak.
Mendengar suara mesin mobil yang berhenti dengan cepat mereka berdiri di posisi masing masing, dengan Dirga dan juga Aksa yang memegang spaduk.
Cklek.
towet towet towet towet
"Welcome home Princess"
Teriak mereka dengan serempak, Della yang berdiri di pintu kaget dan hampir saja terjatuh, tapi tak lama setelahnya dia berhambur memeluk Celine.
"Aku pulang ma, kangen banget sama mama". Celine yang mendengar itu balas memeluk Della erat, dan mencium pipi putrinya.
"Selamat sayang, sekarang satu impian kamu udah kecapai, mama bangga sama kamu". Della menangis haru, akhirnya setelah sekian lama dia mendengar kata bangga keluar dari orang tuanya, apa yang lebih menyenangkan daripada itu semuanya.
"Papa aku pulang pa". Della beralih memeluk Dirga yang dari tadi hampir saja menetes kan air matanya, rasanya dia begitu rindu pada putrinya ini, padahal dia baru saja bertemu dua bulan yang lalu.
"Putri papa, congrats sayang, papa juga bangga banget sama kamu". Dirga mencium kening anaknya dengan sayang.
Setelah itu Della beralih pada abangnya, dan memeluk cowok itu.
"Hai bro, apa kabar?, kamar gue aman kan?". Tanya Della memeluk Aksa.
"Baik gue tuh, itumah aman tiap hari gue cek". Jawab Aksa. Entah mulai kapan mereka menjadi dekat, namun Aksa bersukur, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang kakak, dan dia akui jika rasanya sedap sedap pahit, ada kalanya dia senang, dan ada kalanya pula dia kesal.
"Udah udah ayo kita makan dulu, Bian kamu juga ikut ya". Ajak Celine.
"Maaf Tante tapi saya harus pamit, ada rapat setengah jam lagi". Ujar Bian merasa tidak enak, tapi mau gimana lagi, inikan demi masa depannya.
"Oh ya gak papa, kamu semangat ya". Sahut Celine saat Bian berpamitan dengan menyalami mereka.
"Aku pamit ya, nanti aku kesini lagi". Bian mengelus rambut Della lembut.
"Hati hati".pesan Della sebelum Bian pergi.
"Yok makan". Ajak Aksa merangkul Della menuju ruang makan.
Setelah cara yang lumayan melelahkan Della akhirnya bisa beristirahat di dalam kamarnya, langkahnya berjalan kearah lemari dan mengambil sebuah figura yang sudah mulai terlihat kusam, tangganya mengelus lembut pada figura pemuda yang menggunakan seragam SMA dan tersenyum tipis kearah kamera, sedangkan sang wanita tersenyum dengan lebar.
"Aku pulang Yud". Kata Della lembut.
__ADS_1