
"Gue takut Rel, Lo tau hampir satu Minggu ini Della selalu mimpi Yuda datang buat ajak dia , katanya udah waktunya Della ikut Yuda, gue harus gimana gue gak sanggup". Bian terlihat begitu putus asa.
Verel terdiam jujur untuk masalah yang seperti ini ia pun tak tau harus berbuat apa, yang bisa ia lakukan hanya selalu ada disisi Bian dan tidak meninggalkan pemuda itu.
"Sabar Bi semua akan baik baik aja percaya sama gue, yang perlu Lo lakuin cuman percaya, berdoa dan lakuin yang terbaik , dan tentu saja Lo harus menyerahkan semua itu pada Tuhan yang maha esa". Verel menepuk pundak Bian, memberikan cowok itu nasehat.
"Gue takut banget Rel, gue gak tau harus kayak gimana, hal ini adalah hal yang paling gue takuti selama kehidupan gue". Bian menatap Verel dengan tatapan yang begitu menyedihkan.
"Ini semua karena anak sialan itu, seandainya dia tidak hadir maka masalah ini tidak akan pernah terjadi". Verel menatap Bian tidak percaya, bagaiman bisa Bian mengatakan sesuatu yang begitu buruk mengenai anaknya sendiri.
"Bi jangan sampai Lo salah ambil langkah, gue tau Lo prustasi, tapi jangan pernah berbuat hal yang sama , seperti yang dulu orang tua kita lakuin sama kita, Lo bahkan tau bagaimana rasanya". Verel hanya tidak ingin kelak Bian menyesal dan juga anak tak bersalah itu merasakan apa yang mereka rasakan.
"Hmm kita lihat nanti". Sahut Bian dengan datar, dia memeluk Verel sejenak sebelum akhirnya turun untuk melihat keadaan istrinya.
"Gue harap Lo gak salah ambil langkah Bi". Gumam Verel melihat kepergian Bian.
Sedangkan Della, saat ini dia sedang berada di sebuah tempat yang begitu indah, suasana disini terlihat begitu sejuk dan menenangkan..
Della berputar putar bahagia menikmati ketenangan ini.
Saat asik menikmati suasana, ia melihat seseorang yang begitu familiar menatap dirinya dengan begitu lembut, orang itu adalah Yuda, cinta pertama dari seorang Della.
"Yuda, kangen ,aku kangen".lirih Della dengan segera memeluk Yuda erat, air matanya terlihat mengalir.
"Hei gak apa apa sekarang kan udah ketemu, apa kabar?". Tanya Yuda dengan sesekali mengelus lembut rambut Della.
"Capek, aku capek rasanya dunia makin kejam saat kamu memilih pergi". Lirih Della jujur.
"Maaf, maaf udah ninggalin kamu sendiri, maaf karena tak bisa bertahan hidup buat kamu, rasanya menyakitkan saat itu, tapi satu yang harus kamu tau, kamu akan selalu ada disini begitupula aku, aku akan selalu ada disini". Yuda menunjuk kearah hati Della, begitulah kehidupan ia memang pergi tapi hatinya masih berada di perempuan itu.
"Hiksss, aku capek banget,boleh gak aku ikut kamu?". Tanya Della penuh harap, dia rasa saat bersama pemuda itu maka semua akan baik baik saja.
"Gak, tugas kamu masih banyak, ada seseorang yang masih sangat membutuhkan kamu, dan masih banyak hal yang perlu kamu raih". Tegas Yuda menatap Della dengan tatapan lembut khasnya.
"Tapi rasanya aku udah capek Yud, kehidupan terlalu kejam, kenapa semesta tidak pernah mengijinkan aku untuk bahagia".
"Semua ada porsi masing-masing by, ingat setelah luka pasti akan ada bahagia dan kamu wajib percaya itu.
"Hmm, hari ini gimana kalo kita habiskan waktu berdua sebelum kamu kembali?". Tanya Yuda yang langsung diangguki oleh Della.
__ADS_1
Mereka hanyut dalam kebahagiaan, hari ini Della benar benar terlihat sangat bahagia, tawa yang lepas dan wajah yang selalu berseri, melakukan banyak hal, mulai dari kejaran bercerita , hingga tiduran dengan menjadikan paha Yuda sebagai bantal.
"Hei tau tidak disana nanti kamu juga akan ketemu seseorang yang sama seperti aku". Ucap Yuda ditengah aktifitas mengelus rambut Della.
'hah masa?". Della masih tidak percaya, memangnya Yuda punya kembaran ya, kok dia tidak pernah tau .
"Iya, tolong perlakukan dia dengan baik, jangan pernah buat dia merasakan apa yang kita rasakan dulu, kehidupannya tidak akan mudah". Ucap Yuda yang hanya diangguki oleh Della, bahkan Della tidak mengerti sama sekali.
"Hei sekarang sudah waktunya, kamu pulang ya, ada seseorang yang menunggu kamu". Ucap Yuda dengan lembut, tak ingin wanita ini bersedih.
"Secepat itu?". Della terlihat tidak rela,tapi biar bagaimanapun dia akan menurut jika Yuda yang menyuruh.
"Hmm, aku harap setelah ini hanya ada kebahagiaan yang menyertai kamu, jangan lagi ada kesedihan, berbahagia ya Dell, saat kamu sedih dan Kembali terluka aku janji akan datang buat jemput kamu". Della menangis merasa tidak rela untuk meninggalkan Yuda, tapi apa mau dikata dan lagi perkataan Yuda sangat menyesakkan hatinya.
"Hmm, aku cuman berharap kamu juga bahagia disini, oh ya aku juga cuman mau bilang kalo kamu terlihat makin tampan". Ucap Della dengan membelai rahang tegas Yuda.
"Kamu juga cantik, udah sana pulang, ingat jangan terluka lagi ya, sama tetap bahagia". Ucap Yuda berharap yang terbaik untuk wanita ini.
"Aku pergi ya, baik baik disani, sama tolong sering muncul di mimpi'" . Pinta Della berharap.
"Hmm, sampai jumpa entah kapan Dell, semoga kamu selalu bahagia".gumam Yuda saat melihat Della yang sudah menjauh.
"Dell bangun dong kamu gak capek apa tidur terus". Bian mencium tangan Della dengan lembut, mengelus tangan itu dan kemudian mencium lembut kembali.
"Bangun ayo marahin aku, aku gak ngurus anak kita, melihatnya saja bahkan tidak". Bian Kembali mencium tangan Della, kegiatan baru Bian selama 3 bulan ini adalah bercerita pada Della, entah apapun itu.
"Hei kenapa nangis?". Tanya Bian saat melihat sudut mata Della mengeluarkan air mata, tak lama setelahnya air mata itu berhenti.
"Kamu baik baik ya disana, ayo bangun katanya mau rawat anak kita". Bian masih tetap berusaha.
Sampai akhirnya usahanya membuahkan hasil saat tangan Della bergerak pelan. Melihat itu Bian dengan cepat memanggil dokter yang bertugas. Jangan harap dokter itu adalah perempuan yang membantu istrinya melahirkan, sebab orang itu sudah Bian tendang dan hancurkan karir dan kehidupan nya.
Setelah memencet tombol yang langsung terhubung dengan dokter, Bian kembali menatap Della. Hingga perlahan mata itu terbuka, dan Bian dengan haru menangis.
"Akhirnya, terimaksih sayang, makasih udah bertahan, I love you, aku sayang banget sama kamu". Bian mencium kening Della dengan lembut. Sementara gadis itu hanya bisa tersenyum pelan, tubuhnya masih kaku dan agak lemas.
"Permisi pak, maaf biar saya periksa dulu istrinya". Dokter itu datang meminta izin Bian
"Hmm, silahkan". Bian minggir sejenak, membiarkan dokter itu melakukan tugasnya, sambil menunggu Bian mengabari orang orang yang menurutnya penting, memberi tahukan jika istrinya sudah sadar.
__ADS_1
"Baik semua baik, dan jujur ini merupakan sebuah mukjizat, jika tidak ada kendala ini bisa pulang tiga hari lagi". Jelas dokter itu, takjub dengan ketahanan Della dalam bertahan.
"Terimakasih dok". Sahut Della lemah.
"Bapak ibu saya pamit undur diri". Bian hanya mengangguk menjawab kepergian dokter itu.
"Anak aku dimana?". Tanya Della setelah tinggal mereka berdua diruang ini, ia baru ingat jika anaknya tidak berada disini.
"Bentar lagi datang sayang, sekarang kamu istirahat aja ya, kamu mau makan atau minum?". Tanya Bian dengan sigap .
"Minum, aku haus, aku koma berapa lama sih?". Tanya Della penasaran.
"3 bulan, kamu koma lama sampai buat aku hampir prustasi". Cerita Bian dengan nada yang di buat buat.
"Hah kamu bohong ya, padahal perasaan cuman satu hari de". Kata Della tidak percaya.
"Ituma perasaan kamu aja, tapi habis ini aku gak akan pernah biarkan kamu sakit lagi, meski itu kecil sekali pun". Janji Bian dengan yakin, ya dia berjanji tidak akanagi membiarkan Della terluka, sudah cukup bian tak sanggup lagi.
"Hmm, kamu udah kasih nama anak kita belum?".
"Della yaampun akhirnya ya Lo bangun juga, gak tau apa gue kangen banget". Belum sempat Bian menjawab sudah lebih dulu dipotong oleh Verel yang datang tiba tiba.
"Kangen banget". Lirih Verel memeluk Della dengan erat.
"Akhirnya kamu sadar juga, mama senang kamu udah sadar, jangan sakit lagi ya sayang". Celine juga memeluk Della setelah Verel, mereka secara bergantian memeluk dan memberikan kata semangat untuk Della.
"Della, papa minta maaf untuk yang dulu, sekarang saya tau dibandingkan semua kesempurnaan dan juga keinginan saya, yang paling penting itu adalah keselamatan dan keberadaan kamu". Dirga tidak berani menatap Della, mengingat banyaknya dosa yang sudah ia perbuat. Rasanya tidak mungkin jika hanya di tebus dengan minta maaf.
"Gak papa kali Pa, aku udah maafin papa, aku juga minta maaf karena belum bisa jadi anak yang baik untuk papa dan juga mama". Kata Della. Benar terkadang dengan maaf semua biasa kembali seperti semula, hati yang hancur akan kembali utuh, meski tidak seutuhnya.
"Oh, iya nih anak Lo". Aksa menyerahkan anak yang tadi berada dalam gendongannya pada Della, entah kenapa anak itu terlihat sangat lengket dengan Aksa.
"Ini benar anak aku?". Tanya Della tidak yakin sekaligus takjub, wajah ini kian terlihat mirip dengan Yuda, apakah ini maksud dari perkataan Yuda saat itu.
" hmm, tampan seperti aku kan". Kata Verel tidak tau diri, pemuda itu memang tampan tapikan tidak mungkin juga anak Della mirip dengannya.
"Mana ada ngaco Lo, itu anak gue, ya mirip gue lah". Bantah Bian tidak terima, enak saja itu kan hasil usahanya, kenapa pemuda itu malah ngaku ngaku.
"Pelit banget". Verel cemberut yang membaut semua orang menatap pemuda itu dengan heran, dan juga terkekeh kecil.
__ADS_1
Bian berharap semua ini adalah awal yang baik untuk kelanjutannya kehidupan mereka.