FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
PERGI


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan kehidupan juga harus berlanjut seperti bagaimana mestinya. Tidak terasa sudah beberapa bulan terlewati. Tidak mudah memang, namun Della bisa melakukannya. Beberapa bulan ini juga banyak hal yang berubah, mulai dari Della yang sudah kembali ke rumah kedua orang tuanya, dia yang mendapatkan kasih sayang yang selama ini di impikan, dan juga dirinya yang kian dekat dengan Bian.


Hari ini mereka tingkatan kelas akhir di SMA DIRGANTARA harus berpisah, menuju jalan masing masing, meraih mimpi yang sudah di rancang sedemikian rupa, berpisah dengan para sahabat dan juga memulai kehidupan yang jauh lebih kejam lagi.


"Selamat dell, akhirnya ya gue yakin sih dari awal Lo yang bakal jadi peraih nilai tertinggi tahun ini"


Verel memeluk Della dengan rasa sayang, ia juga tersenyum kearah gadis itu, jangan lupakan juga tatapan bangganya.


"Thanks Rel, seandainya Yuda masih ada gue yakin dia yang akan ada diposisi ini". Ujar Della dengan raut wajah sedihnya.


Waktu memang terus berjalan namun kenangan takkan bisa berubah bukan.


Sebuah tangan menepuk bahu Della, sang empunya bahu menoleh dan melihat Bian yang tersenyum hangat padanya.


"Jangan sedih, ingat dia gak akan suka liat kamu kayak gini".


"Ingat hidup harus terus berjalan, dan kamu masih punya aku kan".


Della mengangguk mengiyakan, dia memang tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, seperti kata Bian hidup harus tetap berjalan bukan.


", Oh ya gue sekalian mau ngasih tau kalo nanti sore gue berangkat ke US buat lanjut kuliah, kalian nganter gue kan?".


Bian menegang mendengar pertanyaan Della, jika diperhatikan lebih dalam rahangnya mengeras namun dengan cepat bisa dia ubah menjadi seperti semula.


"Kok baru ngasih tau sih, padahal nanti sore kan gue juga berangkat ke Jepang". Sahut Verel lumayan kaget.


"Yampun iya iya, gue lupa sorry Rel". Ucap Della merasa bersalah, dia lupa jika cowok ini sudah berniat dan punya rencana dari jauh jauh hari.


"Santai, gimana kalo kita ketemu disana aja". Usul Verel merasa tidak enak melihat raut wajah bersalah Della.


"Yaudah de, tapi kamu bisa kan Bi?".


Della mengalihkan perhatian dari Verel menuju Bian yang diam sedari tadi.


"So pasti babe". Sahut Bian mantap. Bian menatap Della dengan pandangan yang begitu dalam, diotaknua sudah tersusun banyak rencana untuk memiliki gadis ini.


"Yaudah kalo gitu gue mau pamitan sama Yuda dulu lah, kalian mau ikut?".


Kedua pemuda itu mengangguk dan mereka berjalan dengan Bian yang mengandeng tangan Della, dan verel yang melihat itu hanya bisa membisu. Lumayan heran sejak kapan kedua orang ini terlihat begitu dekat.

__ADS_1


Tanah yang dulunya merah kini sudah berubah warnah, rerumputan pun sudah mulai bertumbuhan diarea gundukan tanah itu, Della, Bian dan juga Verel jongkok dan terdiam mengamati tanah yang didalamnya terdapat sahabat mereka.


"Hai Yud, Lo tau hari kita semua udah lulus, sekarang kita mau lanjut buat ngeraih impian kita masing-masing, Lo disana apa kabar?, Oh ya seandainya Lo ada di sini pasti rasanya akan lebih menyenangkan, Yud bokap sama nyokap gue udah mulai sayang sama gue, tapi rasanya kurang lengkap karna gak ada Lo, sama satu lagi sorry kalo sehabis ini gue bakal jarang jenguk Lo, gue pamit ya Yud, nanti saat gue udah balik ,gue pasti datang lagi".


Verel menghapus air matanya dengan kasar, entah kenapa rasanya masih saja sesak dan dia tidak menyukai itu.


Verel menatap Della dan tersenyum lembut, mengkode gadis itu supaya mulai berbicara.


"Hai, kamu sekarang pasti udah bahagia ya?, Sekarang kamu gak lagi ngerasain sakitnya diabaikan, kamu udah tenangkan disana?, Kamu tau hari ini untuk pertama kalinya aku berhasil jadi peringkat pertama dan sayang banget rasanya beda, aku tau seandainya kamu disini pasti aku gak akan pernah dapat itu, Yud hari ini aku pamit ya, aku mau pergi ketempat impian kita, aku lanjut disana kamu banggakan kan sama aku?, Yud sekarang kamu tenang aja aku udah mulai ikhlas ko, keluarga aku juga udah mulai sayang sama aku ,ya mesti rasanya jadi adu sih hhhah, baik baik disana ya, sesekali tolong datang ke mimpi aku, see you kesayangan, sampai ketemu ditempat terindah".


Della mengelus batu nisan itu, mereka terdiam cukup lama disana, dirasa Bian tak ingin bicara mereka lebih dulu bangkit dan pergi dari area pemakaman, namun Bian masih tetap disana, jongkok dan tidak bicara apa apa.


"Gue pamit, thanks udah ninggalin Della buat gue, dan kayaknya gue gak akan biarin dia untuk datang ketempat ini lagi".


Bian berkata dengan nada rendahnya, setelah menatap nisan itu sejenak ia pun bangkit dari acara jongkoknya menyusul Verel dan Della yang sudah lebih dulu pergi.


Bandara Soekarno Hatta, tempat yang akan menjadi saksi awal seorang gadis yang mulai melangkah menuju masa depan, tempat pertama yang injak menuju tempat tempat lain di dunia ini.


"Bay Rel, hati hati disana kalo udah nyampe jangan lupa kabarin gue ya, ingat disini Lo punya kita, sampai jumpa disaat kita semua udah meraih mimpi mimpi kita". Della memeluk Verel dengan erat, Sahabatnya ini lebih dulu terbang menuju Jepang, kemudian baru setengah jam berikutnya ia pun akan terbang.


"Jaga kesehatan ya dell, sekarang gue gak bisa jaga Lo lagi, disana jangan lupa sama gue, nanti kalo Lo udah ketemu gantinya Yuda jangan lupa kasih tau gue, biar gue seleksi dulu tu orang". Sahut Verel bercanda, dan ia juga membalas pelukan Della.


"Yoi Lo juga semangat bro". Jawab Verel meninju bahu Bian.


"Semuanya aku duluan ya". Verel berbalik setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Melambaikan tangan dengan raut wajah senyum lebarnya, dia juga memberikan kiss bay pada kedua orang tuanya, yang langsung dijawab senyum oleh kedua orang itu.


Kini tinggal Della yang masih menunggu jadwal keberangkatan, rasanya deg degan namun tak sabar juga, ini itu impiannya, dan sudah lama menginginkan ini terjadi, tapi kenapa saat akan mendekati waktu rasanya hatinya mulai risau, tapi saat memutuskan satu hal artinya dia juga harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah diambilnya kan.


"Kenapa?". Tanya Bian setelah melihat raut wajah Della yang tidak tenang sedari tadi.


Della menatap Bian yang berada disampingnya, " kok gue deg degan ya Bi?".


"Hei rileks, ini impian kamu, dan setelah semuanya selesai kamu balik lagi kok disini, tenang ok". Hibur Bian mencoba memberikan Della nasehat.


Tidak ada lagi percakapan setelah itu, sampai suara panggilan untuk keberangkatan menuju Amerika terdengar, Della menatap kecewa kearah pintu masuk bandara, pasalnya orang tua dan juga kakaknya belum juga sampai.


"Gak usah dipikirin ada gue". Ujar Bian mengerti pikiran Della, Bian membantu mendorong koper Della menuju tempat pengecekan tiket, dan memberikan nasehat pada gadis ini.


"FREDELLA DIRGANTARA".

__ADS_1


Teriakan itu mengalihkan padangan Della ,berbalik dan bisa ia lihat disana ada mama, papa, dan juga Aksa yang berdiri dengan napas ngos ngosan.


"Mama, papa, kak Aksa". Sahut Della bingung, namun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya.


"Mama belum telat kan, maaf ya sayang ini semua tu karna macet yang panjang tadi hampir aja mama gak bisa mengantar kamu". Celine merasa bersalah sekaligus lega,


Della menatap mamanya dengan pandangan sayang, betapa berdosa nya dia pernah membenci wanita ini,


"Mama, maafin Della, Della udah jadi anak yang durhaka sama mama, doain Della ya ma, biar Della bisa buat mama bangga sama Della".


Della memeluk mamanya dengan sayang, air mata nya mengalir begitu juga dengan Celine, ia merasa beruntung kerena tuhan masih memberinya waktu untuk menebus kesalahannya pada putrinya ini.


"Hei jangan nangis mama jadi sedih, kamu tenang aja doa mama selalu menyertaimu, nanti kalo ada waktu luang mama pasti akan jenguk kamu disana". Celine menghapus air mata anaknya.


"Pa". Panggil Della beralih pada ayahnya yang sedari tadi hanya diam menggamati mereka.


"Putri papa, maafin papa ya hampir telat ngantar kamu, ingat disana hati hati, kalo butuh apa apa kabarin papa, jangan lupa juga kasih kabar, keperluan kamu selama disana juga udah papa siapkan, ingat jangan buat keluarga Dirgantara malu".


Della tidak mengindahkan perkataan papanya, dia tau sejak semalam papanya merasa sedih saat tau dia akan berangkat, mungkin ini hanya alibi papa nya untuk terlihat begitu kuat, dengan cepat Della berhambur kepelukan Dirga, di peluknya papanya ini dengan erat.


"Della pamit ya pa, papa jangan sedih nanti Della pasti sering hubungin papa, putri papa ini pergi untuk meraih mimpinya, dan akan kembali untuk papa, jangan banyak lembut lagi, ingat papa harus selalu sehat untuk ngejaga putri cantik papa ini"


Dirga membalas pelukan Della, sejujurnya ia tidak rela saat Della meminta untuk lanjut sekolah ke negri Paman Sam tersebut, Dirga masih ingin menghabiskan waktu yang terbuang selama ini, rasanya ia menyesal mengapa dulu tidak menikmati waktu yang tersedia dengan baik, sekarang putrinya sudah beranjak dewasa dan akan pergi meninggalkan dirinya.


"Hati hati, ingat pesan papa". Dirga mengecup puncak kepala Della.


"Gue pamit ya bang, jaga mama sama papa selagi gue pergi". Della memeluk Aksa, dan dibalas pelukan juga oleh cowok itu.


"Hati hati disana, jangan lupa kabarin Abang". Balas Aksa.


Kini Della beralih pada Bian yang hanya diam sedari tadi


"Bi gue pamit ya, hati hati disini, ingat jangan lupa kabarin kalo nanti mau merried ", canda Della,


"Pasti gue kabarin, ingat pesan gue tadi". Sahut Bian memeluk Della.


"Aku pamit semua, jangan kangen". Kekeh Della dan pergi dari sana meninggalkan mereka yang tersenyum hangat.


Pesawat yang membawa Della sudah berlalu, meninggalkan orang orang tersayang, dan akan kembali dengan kisah baru.

__ADS_1


__ADS_2