
,
"Menurut peraturan yang saya tau dan pahami orang seperti ini berhak mendapatkan hukuman yang berat tuan, seperti mati dengan cara di sayat sayat, dan dipaksa memakan dagingnya sendiri ". Ucap Arka dengan nada yakin dan mantap.
Juan yang mendengar itu menegang ditempat nya, merasa menyesal karena sudah berani bermain main dengan iblis yang ada didepannya, tapi mau bagaimana lagi sekarang nasi sudah menjadi bubur.
"Jadi tunggu apalagi ,ayo lakukan Arka, tangan saya terlalu suci untuk menyentuh orang menjijikan ini". Bian duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut, mengabaikan raut wajah memelas dari Juan, salahnya sendiri berani menghianati seorang iblis seperti Bian, berani berbuat, harusnya berani bertanggung jawab bukan.
"Akan saya laksanakan tuan". Jawab Arka dengan patuh, dia berjalan kesisi lemari yang menyimpan barang barang yang mereka gunakan sebagai alat untuk menghukum para penghianat yang berani bermain dengan mereka.
Juan hanya bisa pasrah sekarang, saat sebuah pisau mulai mengenai kulit tangan nya, pisau itu dengan cepat mneyayat kulitnya menjadikan rasanya sangat ngilu, belum lagi Arka yang dengan sengaja membuat semuanya kian menyakitkan dengan cara menyayat tangannya perlahan.
Seakan semua itu bukanlah masalah besar orang orang yang melihatnya lun hanya bisa tutup mata, lagian orang bodoh mana yang mau ikut campur dengan urusan dari seorang Bian, iblis berbentuk malaikat tersebut.
Sementara itu dikediaman Kusuma, Della yang ditinggalkan sendirian hanya bisa pasrah dan kesal secara bersamaan, namun mungkin dia harus bisa bersabar dan memaklumi kegiatan Bian yang sungguh padat.
"Huuh, bosan bangetttttttt,".
Sedari tadi Della hanya sibuk dengan ponselnya guna untuk menghilangkan rasa bosan yang melanda, melihat kearah jam besar yang berada di kamar yang saat ini Della tempati, menunjukkan pukul 17.30 sebentar lagi akan malam, nyatanya tidak terasa waktu berjalan begitu cepat.
"Mending masak, buat mas suami hehehe".
Della merasa geli sendiri saat mengingat jika saat ini dirinya sudah mempunyai suami, tak terasa saja rasanya baru kemarin mereka pacaran, kemudian tunangan dan sekarang mereka sudah menikah.
"Bi, dapur sebelah mana ya?".
Mbok Ida yang sedari tadi sibuk beberes bergegas menghampiri nyonya nya, tak ingin membuat istri dari tuannya ini menunggu dan membuat nya dalam masalah.
"Disebelah sana nyonya, mau saya antar?, Atau nyonya butuh sesuatu biar saya ambilkan?". Cecar mbok Ida.
"Ah boleh de mbok,sekalian temanin saya masak ya mbok".
Della bergegas menggandeng tangan mbok Ida, yang membuat perempuan paruh baya itu merasa tidak enak, namun untuk mengatakan itu dia merasa tidak punya keberanian.
__ADS_1
"Nah ini tempat nya non, oh iya non mau masak apa?".
Della sibuk melihat interior dari dapur yang sudah menjadi tempat tinggalnya, dapur dengan gaya khas Eropa, dan juga terlihat sangat nyaman, Della yakin Bian menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk dapur ini.
"Saya mau masak yang sederhana aja mbok, kaya udang balado, sayur asem, dan yang lainnya, tolong bantuin ya mbok". Jawab Della setelah sedari tadi asik dengan dunianya yang tidak pernah habis mengagumi kediaman ini.
"Ayo atuh non".
Mereka berdua asik dengan kegiatan mereka, mengabaikan beberapa pelayan yang melihat itu harap harap cemas, jangan sampai nyonya mereka ini mendapat luka, jika itu terjadi percaya lah yang akan menjadi sasaran adalah mereka semua.
"Yang ini tinggal di goreng aja kan mbok?". Della menatap mbok Ida, dan udang yang saat ini ada ditangannya secara bergantian. Jujur dia memang tidaklah pandai dalam hal memasak namun sekarang Della adalah seorang istri, dan sudah menjadi kewajiban nya untuk bisa melayani sang suami, termasuk kebutuhan perut nya, Della tidak ingin nantinya ketidak mampuannya menjadi boomerang untuk keluarga mereka.
"Iya nya, terus jangan lupa dibalik saat warnanya sudah berubah yang nya".
Mbok Ida merasa beruntung yang menjadi nyonya kediaman Kusuma adalah nyonya yang saat ini berada disampingnya, dia merasa Della adalah orang yang baik dan orang yang paling tepat untuk mendampingi tuanya, Bian yang kasar dan dingin akan luluh saat berada didekat Della, dari cara Bian memperlakukan Della tadi pagi, mbok Ida yakin jika orang yang berada disampingnya ini adalah orang yang paling berharga untuk tuannya, mbok Ida yakin saking cintanya sang tuan, seandainya Della meminta nyawanya sekalipun pasti akan diberikan oleh tuannya itu.
"Okay mbok, oh iya mbok Bian itu kalo lagi disini kayak gimana sih?". Della penasaran saat bersama orang lain bagimana sikap Bian, apakah seperti saat bersama dengannya, atau mungkin beda, jujur saja setiap dia bertanya pada karyawan Bian pasti tidak akan ada yang berani berbicara, padahal menurut nya Bian tidak terlalu menyeramkan.
"Tuan itu dingin Nyonya, tapi baik ko orang nya, terus dia juga tidak akan segan-segan menghukum orang yang bersalah dan mengganggu ketenangan nya". Hanya itu yang bisa mbok Ida katakan, tidak mungkin untuknya mengatakan semua hal yang bukan menjadi ranah nya, lagipula dia masih sayang nyawa, percaya lah bahkan apa yang sedari tadi mereka lakukan dan ucapkan pasti sedang terekam oleh cctv yang bahkan dipasang hampir seluruh ruangan.
"Hah, masa sih mbok, Bian kek gitu, tapi setau aku dia orangnya humoris kok, bahkan sedari kami berteman, mbok tau gak dulu tuh aku paling sering ngerjain dia, sering nyusahin dan juga buat dia dalam masalah, eh taunya sekarang aku malah jadinya sama dia, gak pernah kepikiran aku tuh". Cerita Della, ia merasa nyaman dengan mbok Ida, mungkin dia tidak akan kesepian saat Bian nantinya sibuk bekerja, rasanya baru hari pertama tapi Della sudah merasa nyaman berada disini.
"Oh, ya emangnya nyonya sama tuan ketemu nya dimana?". Tanya mbok Ida menyahut cerita Della, tidak pernah mbok Ida berpikir jika orang yang menjadi kesayangan tuannya ternyata sebaik ini.
"Dulu tuh aku sama Bian, ketemu nya pas SMa mbok, kita punya 2 lagi sahabat yaitu Verel sama Yuda, mbok tau mungkin karena faktor masalah yang sama membuat kita berempat jadi dekat dan saling menguatkan".
"Trus kalo boleh tau den Verel sama Yuda itu orangnya kayak gimana nyonya?".
Della menghentikan kegiatannya sejenak, dia melihat kearah mbok Ida.
"Verel itu orang kurang lebih sama kayak Bian mbok, suka bercanda dan juga humoris, ketidak harmonisan keluarga bukan menjadi masalah untuk kita mencari kebahagiaan, Verel adalah orang yang suka ceplos ceplos usah gitu dia juga lumayan suka menyimpan masalah nya sendiri, bahkan aku sendiri heran apa yang ada diotaknya.". Mbok Ida bisa melihat ada binar bangga dari diri Della saat menceritakan sosok bernama Verel tersebut, ternyata nonya nya ini sangat menyayangi sahabat nya.
Terdiam lagi sejenak Della pun melanjutkan perkataannya yang kini akan menggambarkan sosok orang yang begitu berarti untuknya bahkan hingga hari ini.
__ADS_1
"Yuda, dia adalah orang paling baik, punya sikap dingin tapi perhatian, dan juga keras kepala, yang paling tidak saya suka dari dia itu adalah gaya sok kuatnya, dia bahkan rela terluka hanya untuk tidak melihat orang yang dia cintai menderita, terlalu baik juga tidak bagus kan mbok?". Tanya Della pada mbok Ida yang sedari tadi tidak mengalihkan perhatiannya dari Della.
"Iya nya, akan tetapi menurut mbok ada saatnya kita merelakan seseorang untuk bisa mencapai kebahagiaan nya sendiri, sebab pada dasarnya mungkin kita juga harus sadar jika bersama kita hanya akan menjadi luka untuknya, seperti kasus den Yuda, mungkin dia tidak ingin orang itu menjadi rapuh saat kelak mereka pada akhirnya tidak bisa bersama". Sahut mbok Ida, jujur entah mengapa dia merasa orang bernama Yuda itu mempunyai tempat tersendiri untuk Della, dilihat dari pandangan dan cara Della mendeskripsikan orang itu, ada cinta dan juga kecewa yang begitu dalam.
"Gitu ya mbok, tapi pada akhirnya dia meninggalkan rasa penyesalan untuk orang itu mbok". Ujar Della.
"Oh ya, memangnya den Yuda teh kemana nyonya?".
"Dia pergi ketempat yang tidak mungkin untuk didatangi untuk saat ini mbok, ketempat dimana semua rasa sakitnya menghilang dengan luka baru untuk orang yang dia tinggalkan, dia sudah meninggal".
Mbok Ida terkejut, pantas saja Della terlihat sedih saat membahas orang bernama Yuda itu, semoga saja tuannya tidak tau jika nyonya ini masih begitu mengharapkan orang itu, jangan sampai hal tersebut menjadi masalah untuk pengantin baru ini.
"Yampun non, itu udangnya udah masak bentar lagi gosong itu mah". Mbok Ida segera menyadarkan Della yang sepertinya sedang melamun, udang tersebut kini sudah mulai akan gosong, untung saja mbok Ida cepat menyadari nya.
"Yampun, sampai gak sadar gini mbok". Sahut Della cepat mengangkat udang tersebut.
Kemudian Della melanjutkan untuk memasukkan bumbu yang sudah dihaluskan tadi, ia berharap saat Bian nanti pulang Bian akan senang dan menyukai masakan nya, setelah itu dia akan mengatakan permintaan nya pada Bian, semoga Bian mau menuruti permintaan nya seperti biasanya.
"Hati hati non, itu masih panas". Peringat mbok Ida saat melihat Della yang akan menuangkan bumbu itu.
Bruk
Entah bagaimana caranya kini minyak itu malah tumpah dan mengenai tangan Della, membuatnya dan mbok Ida syok untuk sesaat, apalagi melihat semua bumbu yang kini sedang berceceran.
"AU ah panas mbok tangan aku panas". Panik Della dengan mengibas ibaskan tangannya.
Mbok Ida yang panik sekita langsung mematikan semua kompor, para pelayan yang juga penasaran dengan apa yang tejadi langsung berkerumun untuk melihat apa gerangan yang saat ini terjadi didapur.
"Yampun nyonya, ayo nya saya obati ini bisa melepuh kalau dibiarkan terlalu lama". Ujar mbok Ida yang masih panik bergegas untuk mengobati sang nyonya.
Namun belum sempat kakinya melangkah sebuah suara yang sudah mereka hapal menghentikan kegiatan mereka.
"Ada apa ini?".
__ADS_1