
"Ada apa ini?".
Della yang mendengar suara itu langsung mengangkat kepalanya, melihat kearah Bian yang mungkin tidak menyadari keberadaan nya disebabkan banyaknya pelayan yang sedang berkerumun.
"Bian, sakit". Della langsung bergegas mendekati Bian, dan menunjukkan tangannya yang tekena minyak tersebut.
"Hah ini kenapa?, siapa yang buat tangan kamu kayak gini?". Cecar Bian, ia tidak percaya bahwa baru beberapa saat saja dia meninggalkan Della, perempuan itu sudah terluka saja
"Ih ini sakit ayo obati". Rengek Della dengan tangan yang di dekat kan pada Bian.
Bian sebenarnya ingin marah, tapi tidak mungkin dia menunjukkan hal itu didepan Della,jadi sebisa mungkin Bian menahan semua emosi yang saat ini bergejolak dalam dirinya.
"Kenapa bisa luka hm?". Tanya Bian menggendong Della menuju kamar mereka, dia menatap datar semua pelayan yang berada ditempat itu.
"Tadi aku mau masak buat kamu, tapi tiba tiba minyaknya ngamuk terus nyiram tangan aku". Adu Della layaknya anak kecil yang sedang mengadu pada ayahnya.
"Ngamuk?". Tanya Bian tidak bisa menyembunyikan rasa geli nya, saat ini dia sedang berusaha untuk mengalihkan perhatian Della dari rasa sakit yang cewek itu rasakan.
"Iya, gak lagi lagi deh aku dekatin dapur seram". Sahut Della menenggelamkan kepalanya di dada bidang Bian.
"Memang seharusnya kayak gitu, tugas kamu cuman nunggu dan menyenangkan suami tampan kamu ini".
Bian meletakkan Della di kasur king size kamar mereka, menarik selimut sebatas dada, dan pamit untuk keluar sebentar.
"Mbok Ida, panggilkan dokter, saya tunggu paling lama lima menit". Suruh Bian kemudian kembali masuk kedalam kamar mereka.
"Masih sakit hm?".tanya Bian membelai lembut rambut halus Della, dipandangi nya wajah yang sembab habis menangis ini dia tidak bisa membayangkan jika tadi dirinya tidak segera pulang. Entah sehisteris apa istrinya ini, sekita Bian menjadi merasa bersalah sebab sudah meninggalkan sang istri padahal baru hari ini mereka pindah kesini.
"Maaf ya, lain kali aku bakal jaga kamu lebih ketat lagi". Ucap Bian pada Della yang sudah tertidur, mungkin karena kelelahan.
Tok..tok..tok..
"Masuk".
"Maaf menggagu tuan, dokternya sudah tiba". Ucap mbok Ida, takut takut.
"Hm,kamu boleh keluar". Suruh Bian tanpa melihat mbok Ida.
"Permisi tuan, biar saya periksa dulu". Ujar dokter itu yang mana sedari tadi sudah berdiri dan melihat kedua orang didepannya ini.
__ADS_1
Bian mengalihkan pandangannya pada dokter tersebut, dia berdecak kesal pada pelayannya, bagaimana bisa mbok Ida menyuruh dokter yang masih terlihat begitu muda dan tampan ini untuk memeriksa istrinya, mana rela dirinya Della disentuh oleh orang lain, tetapi untuk kali ini biarlah dia mengalah.
"Hmm, jangan sentuh istri saya". Bian menghempas kan tangan dokter yang akan menyentuh tangan Della, enak saja dokter ini menyentuh istrinya sembarangan, tidak akan dia biarkan.
"Maaf tuan, tapi saya memang harus menyentuh nyonya untuk bisa melihat lukanya". Dokter yang merupakan dokter keluarga Kusuma ini menatap Bian dengan kesal, lantas jika tidak menyentuh bagaimana dia bisa tau sakit dari istri pemuda ini.
"Ok jangan lama lama". Putus Bian pada akhirnya, dia tidak mengalihkan perhatiannya dari tangan dokter yang sedang melihat lihat luka ditangan istrinya ini.
"Bagaimana?". Tanya Bian tidak sabaran.
"Ini lukanya gak terlalu parah, nanti diaksih salep aja pasti akan cepat sembuh, tapi kayaknya bakal ninggalin bekas de". Sang dokter berkata dengan nada yang santai, dia dan Bian memang cukup dekat, dulunya mereka pernah satu universitas, dan cukup terkejut dengan pemberitaan pernikahan Bian, setaunya Bian ini anti banget sama cewek, bahkan pernah ada rumor jika Bian adalah seorang guy.
"Ok thanks Lo boleh pulang''.usir Bian tidak berperasaan.
"Ckk, kalo bukan karena Lo punya banyak duit, mana mau gue disuruh suruh kesini, malah Lo cuman ngasih gue waktunya lima menit lagi, mikir dong, gue capek kasih minum kek". Bukannya pergi dokter itu malah duduk di sofa yang tersedia di kamar ini. Mengabaikan raut tidak suka yang Bian keluarkan.
"Ngapain sih Lo, pulang gak gue mau tidur sama istri gue". Usir Bian dengan santai, bahkan dia sudah melemparkan bantal untuk mengusir dokter yang sayangnya adalah temannya itu.
"Pelit banget sih Lo, tapi btw bini Lo cantik banget, kalo udah bosan kasih gue ya". Canda dokter tersebut mencoba memancing Bian yang amat terlihat protective pada istrinya.
"Sampai mati pun gue gak akan bosan sama dia, dan lagi mimpi Lo ketinggian bro, dia punya gue dan akan selalu begitu". Sinis Bian, tapi tiap katanya penuh dengan keyakinan, Bian tau temannya ini mungkin memang bercanda, akan tetapi Bian tidak suka Jika Della dijadikan bahan bercandaan
bagi Bian Della adalah miliknya, dan dia tidak suka miliknya di usik bahkan sekalipun itu hanya sebuah bercandaan.
"Kalo gitu gue pamit ya,jangan lupa tebus obatnya". Saat hendak membuka pintu suara Bian menghentikan kegiatan dokter itu.
"Sekalian tebus obatnya, nanti kasih sama pelayan yang namanya mbok Ida, gue gak terima penolakan, silahkan keluar". Dokter itu menganga tidak percaya, dimana mana yang menebus obat itu adalah keluarga pasien mana ada dokter yang menebus obat untuk pasien nya, namun sekarang lihatlah Bian bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
"Hm okay". Dan bodohnya lagi dia sebagai dokter tidak lah bisa menolak permintaan dari orang ini, nyatanya uang dan kekuasaan memang bisa sangat menguntungkan.
Hoam...
Merasa ada pergerakan Bian yang tadinya asik dengan tab di tangannya mengalihkan perhatiannya pada Della yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Kamu udah bangun, masih ada yang sakit?, kamu mau apa bilang sama aku?".cecar Bian meletakkan tab nya dimeja yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Gak papa Bi, cuman perih aja dikit, dan ya aku haus pengen minum". Della hendak berdiri untuk mengambil air putih yang tersedia tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Udah aku aja kamu kan lagi sakit, diam ya". Bian menahan tubuh Della yang akan berdiri, dia mengambil air putih tersebut dan memberikan nya pada Della.
__ADS_1
"Nih, biar aku bantu tangan kamu kan lagi sakit". Potong Bian saat Della akan protes, Bian membantu Della untuk minum, dan kemudian meletakkan gelas itu pada tempat semula.
"Jadi melihat kejadian hari ini, aku udah memutuskan bebarapa hal yang tidak boleh kamu lakuin, dan aku gak nerima penolakan".
"Hah kamu kok gitu sih, mana bisa gitu, dan lagi ini tuh cuman kecelakaan kecil Bi". Bantah Della , meskipun dia tidak tau apa yang akan Bian ucapkan tapi dia yakin hal itu bukanlah hal yang baik.
"Aku gak nerima penolakan By". Ujar Bian mengelus lembut wajah Della.
"Ok apa aja emang". Pasrah Della.
Bian tersenyum senang saat Della tak lagi membantah,
"Pertama kamu dilarang mendekati dapur, apalagi memasak, kita punya banyak pelayan by jadi kamu gak perlu lakuin itu".
"Hm ok aku juga trauma sama dapur". Sahut Della setuju yang membuat Bian kian senang.
"Kedua kamu harus selalu cium aku saat pulang dan mau berangkat kerja, dan sebelum serta sesudah tidur juga". Ungkap Bian enteng.
"Gampang itu mah". Balas Della mudah.
"Ketiga mulai sekarang kamu harus manggil aku mas, dan itu wajib".
"Ih geli tau". Bantah Della merasa tidak sanggup saat akan memanggil Bian dengan kata mas.
"Ih coba dulu by, gak kok malah keliatan kamu ngerhargain aku tau".
"Ok deh"
"Keempat kemana pun kamu pergi dan apa yang sedang kamu lakukan wajib lapor sama aku, kamu juga dilarang keluar tanpa izin dari aku".
Della menghela nafas kasar, kenapa banyak kali aturan yang Bian tetapkan, dia sudah seperti tahanan saja, dan jujur Dellatidak terlalu menyukai ini.
"Hah kok gitu, mana bisa gitu trus nanti kalo aku mau kerja gimana?". Tanya Della setelah berperang dengan batinnya sendiri, Bian memang tidak mengizinkan nya bekerja dan itu sudah sedari dulu, tapi akhir akhir ini Della jadi berpikir untuk mengaplikasikan apa yang sudah ia pelajari selama kuliah, dan sayang banget jika itu hanya dibiarkan terpendam .
"Aku kan udah bilang bahkan dari dulu, aku gak akan pernah izinin kamu kerja, dan dulu kayaknya kamu juga setuju setuju aja tuh, lagian kamu punya aku Dell, kamu mau apa tinggal bilang aja pasti aku usahain tapi untuk kerja aku bakal dengan tegas tidak mengizinkan". Ucap Bian mencoba selembut mungkin agar Della bisa mengerti, membayangkan Della berinteraksi dengan orang lain dan pemuda lain di luaran sana membuat Bian menggeram marah sendiri, belum kejadian saja dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya apalagi sampai itu terjadi entah apa yang akan terjadi.
"Ini bukan masalah uang Mas Bi, tapi ini juga tentang apa yang udah aku pelajari kan sayang banget kalo gak di aplikasikan percuma aku kuliah jauh jauh kalo gitu, dan ini udah jadi impian aku dari dulu". Della masih mencoba memberikan pengertian pada Bian, ini bukan hanya tentang uang, tapi juga tentang apa yang sudah direncanakan jauh jauh hari.
"Aku gak mau tau, intinya aku gak kasih izin titik dan pembahasan untuk itu cukup sampai disini". Bian memilih untuk mengakhiri pembicaraan tidak berujung ini, jika dilanjutkan dia tidak tau apa yang akan terjadi tapi yang pasti itu bukanlah hal yang baik.
__ADS_1
"Hmm kamu egois banget tau gak". Ungkap Della menjauhkan tangan Bian dari wajahnya dengan tangan yang tidak sakit .
"Aku kayak gini karena sayang banget sama kamu by, aku gak bisa bayangin kamu ketemu sama orang lain di luaran sana".ungkap Bian meraih wajah Della.