
"Are you happy?". Tanya Bian pada Della yang saat ini sedang asik dengan makanan kesukaan nya.
"Happy, dan ini berkat kamu". Della tersenyum dengan manis kearah Bian.
Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, Della dengan pikiran makanan yang tidak pernah berubah dan rasa yang masih sama, sedang kan Bian dengan tatapan tajam yang mengarah pada pemuda yang menatap istrinya dengan tatapan yang memuja.
"Maaf, mengganggu saya ingin bicara". Suara Zo menghentikan kegiatan Bian dan Della yang sedang asik suap suapan.
"Ada apa ya?". Tanya Della dengan lembut, membuat Bian yang mendengar nada lembut wanita nya pada pemuda songong itu seketika mendesis tidak suka.
"Saya ingin minta maaf atas kelancangan saya tadi pada anda, kiranya anda sudi untuk memaafkan saya". Zo mengatakan hal itu dengan nada yang tegas, namun penuh kesungguhan.
Bian menatap pemuda itu dengan tatapan remah khasnya, diteliti nya penampilan yang tadinya menggunakan seragam yang sama dengan miliknya beberapa tahun lalu, kini sudah berubah menjadi seragam khas milik SMA DIRGANTARA. Wajah pemuda itu terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Hmm ok, gue maafin tapi dengan satu syarat". Putus Bian dengan seringainya, yang mana Della tau arti seringai itu, bertahun tahun hidup bersama dengan Bian Della tau jika pemuda itu sedang merencanakan sesuatu yang cukup mengerikan.
"Gak usah macam macam de mas". Peringat Della tak ingin membuat pemuda didepannya dalam masalah.
"Gak kok sayang, cukup satu macam aja". Balas Bian menatap Della lembut.
"Ok, buat Lo, gue cuman mau Lo traktir makanan gue sama istri gue". Perintah Bian menatap Zo santai, tidak semudah itu untuk mendapatkan maaf dari seorang Bian Wijaya.
"Ok kalo gitu aman". Setuju Zo santai, ternyata semudah itu mendapatkan maaf dari pengusaha tersohor ini, tapi Zo cukup heran juga melihat syarat yang terlihat mudah itu, tapi tidak penting yang penting masalahnya dengan Bian selesai, dan dia tidak akan lagi mau bersangkutan dengan pemuda itu.
" Yok sayang kita pulang, disini udah gak seasik dulu ya, enakan pas jaman kita, disini orang orang nya frek semua". Sindir Bian dengan bangkit dan menarik tangan Della dengan lembut.
"Maaf bang, boleh minta foto dulu gak sama tanda tangan nya sekalian". Cegah Rio yang sedari tadi hanya diam, tidak mungkin kan dia melewatkan kesempatan untuk bisa men dokumentasi kan kejadian langka ini, ayah ibunya pasti akan bangga jika tau dia bisa mendapatkan foto dan tanda tangan dari orang orang penting di negri ini.
"Boleh boleh ayok sini".ajak Della dengan semangat, kapan lagi ada yang mau minta foto dengan dirinya, berasa jadi artis dia tuh.
__ADS_1
"Sini ayo dekatan dong". Della menarik tangan Rio biar kian dekat dengannya, Bian yang melihat itu mendengus tidak suka, ditariknya tangan Della agar lebih dekat dengannya, dia menatap tidak suka pada Rio yang seakan mencari kesempatan dekat dengan istrinya.
"Posesif". Cibir Rio melihat kelakuan Bian yang sangat protektif itu, tapi tak ingin membuat masalah Rio hanya bisa bernafas dengan kasar,yang penting kan bisa foto dengan orang orang penting.
"Fotoin dong". Rio memberikan ponselnya pada Zo, Zo yang diperintah hanya bisa mendengus kesal, tapi tak urung juga ia mengikuti perintah temannya itu.
"Makasih Kaka cantik, sama Abang ganteng, kalo bisa nanti follback Ig aku ya". Pinta Rio tidak tau diri, sudah dikasih hati malah minta jantung.
"Yok sayang, gak usah ladenin lagi orang orang aneh disini". Bian langsung mengajak Della pergi meninggalkan sekolah ini, nanti malam dia sudah mempunyai rencana untuk mengajak Della dinner romantis, membuat cewek itu bahagia khusus untuk hari ini.
"Babay, adek adek ganteng". Della melambaikan tangan yang dibalas lambaian juga oleh Rio. Dia merasa sangat senang dengan keramahan Della, dan akan menjadi kian mengagumi perempuan itu.
"Ini mas, tagihannya?". ibu kantin datang memberikan tagihan pada Zo, pemuda itu membelakkan matanya tidak percaya, ini serius tagihannya sebanyak itu, padahal kan dua manusia itu hanya makan dua porsi saja.
"Kenapa sebanyak itu ya mbak?". Tanya Zo penasaran.
"Ini teh den Bian sama neng Della, borong semua makanan di kantin ini den, trus katanya den Zo yang bayar".terang ibu kantin tersebut.
Seharian ini Della dan Bian sungguh sangat bahagia menghabiskan banyak waktu bersama, mulai dari bermain di taman , time Zone, dan terkhir mereka berakhir di lokasi yang menjadi tempat terakhir mereka malam ini.
"Ini serius kamu yang buat?". Tanya Della takjub, ia begitu menikmati lokasi yang terlihat begitu indah, dan kesan nya y
Sebuah restoran yang sudah disulap dengan begitu elegan, tempat ini sudah di booking oleh Bian sebelumnya, ia ingin menghabiskan waktu hingga malam berakhir dengan Della. Melihat Della yang tertawa dengan begitu renyah dan terlihat bahagia membuat Bian tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
Tentu saja bangga dirinya akhirnya bisa membuat Della bahagia, bahkan selamanya dia ingin membuat Della bahagia.
"Kalo kamu senang aku juga senang, dan kebahagiaan kamu juga kebahagian aku". Ucap Bian menatap Della dengan tatapan yang dalam.
"So maukah berdansa dengan hamba ratu". Bian berlutut tepat didepan Della, membaut kesan kian romantis, tangannya ia ulurkan, menunggu Della menyambut uluran itu.
__ADS_1
"Pasti rajaku". Jawab Della menyambut uluran tangan Bian.
Mereka hanyut dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri, Bian yang terus membimbing Della, dengan tangannya yang berada di pinggang Della, dan tangan perempuan itu yang berada dilehernya.
Della bisa merasakan hangatnya nafas Bian saat mereka sedang berdansa, nafas hangat yang selalu menemaninya hampir satu bulan ini.
"Kamu senang kan?". Tanya Bian memastikan, entahlah Bian hanya merasa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan nya akan terjadi, tapi entah apapun itu Bian hanya ingin Della selalu ada disampingnya.
"Bahagia mas, aku akan selalu bahagia saat kamu akan selalu ada sama aku". Della menenggelamkan kepalanya di dada Bian, sembari kaki mereka terus melangkah mengikuti musik yang mengiringi.
Bian menatap Della dengan tatapan yang selalu sama seperti dulu, lembut dan penuh kasih sayang, tak mengerti dengan dirinya, kenapa dia bisa mencintai gadis ini dengan begitu besarnya, padahal jika dipikir-pikir lagi masih banyak orang diluaran sana yang jauh lebih cantik, lebih pintar, dan lebih lebih lagi, seakan Della punya magnet yang menarik dirinya untuk ikut masuk kedalam kehidupan gadis ini. Sedari dulu Della sudah menjadi prioritas nya, bahkan rela dituduh tidak normal oleh Verel salah satu sahabat nya. Bukannya tidak ada yang mendekati hanya saja Bian merasa berdosa saat ia dekat dengan perempuan lain, dia merasa seperti menghianati Della padahal saat itu dia dan Della hanya berstatus sahabat.
Hingga puncaknya Bian, merasa bahagia saat ia dan Della akan dijodohkan, rasanya untuk pertama kalinya dia ingin berterimakasih pada ayahnya yang begitu ia benci saat itu, tapi lagi dan lagi semesta seakan bercanda dengannya, Della menolak perjodohan itu, emosi tentu , tapi Bian masih bisa menahannya, tak ingin membuat persahabatan nya dengan Della hancur, dan ia kehilangan cewek itu, Bian hanya bisa pasrah, sampai dia tau jika sebenarnya Della dan Yuda sudah menjalin kasih lebih dari satu tahun, Bian merasa ditipu, tapi seakan semesta sedang berbaik hati pada nya, Bian sakit keras, ditambah Yuda yang seakan menjauh dari Della dengan alasan tak ingin membuat perempuan ini khawatir, saat itulah Bian masuk, Yuda meninggal tentu saja Bian sedih, tapi entahlah ia juga merasa senang secara bersamaan, artinya dia tidak perlu bersaing dengan sahabat nya, hingga akhirnya ia dan Della menjalin kasih satu tahun setelah kepergian Yuda, saat itu Bian merasa seakan dunia menjadi miliknya, mendapatkan Della, dan ayahnya yang juga mulai sadar dan memperhatikan dirinya, memberikan apapun yang ia inginkan pasti akan dia dapatkan.
Bian merasa bahagia, usahanya kian meningkat dan maju, kelompok mafia yang dia pimpin juga kian maju dan berkembang, yang paling penting adalah Della menjadi miliknya, orang yang sedari dulu dia impikan kini menjadi kenyataan untuknya, tidak akan pernah Bian lepas kan, mungkin Bian bisa kehilangan semua harta yang sudah ia kumpulkan, tapi Bian tidak akan pernah bisa jika ia kehilangan Della, Della adalah nafas Bian, dan separuh hidupnya.
"Hei Mas, makan kamu kok bengong sih?". Della melambaikan tangannya melihat Bian yang sedari tadi melamun.
"Ah, gak kenapa?". Tanya Bian bingung, terlalu asik bernostalgia Bian sampai tidak sadar jika sekarang meja mereka sudah penuh dengan makanan yang sebelumnya sudah ia pesan.
"Kamu yang kenapa, mikirin cewek lain pasti?".delik Della curiga, ia bahkan sudah menatap Bian dengan pandangan menyelidik.
Melihat itu Bian hanya bisa tersenyum masam, bahkan untuk berpikir seperti itu pun Bian tidak pernah, mana mungkin dia sempat memikirkan orang lain, saat orang yang sudah diimpikannya berada tepat didepannya.
"Kamu itu separuh nafasku Dell, mana mungkin aku sempat memikirkan perempuan lain". Bantah Bian tidak terlalu suka dengan tuduhan tidak berdasar Della.
"Gombal". Dengus Della masih tidak percaya dengan perkataan Bian.
"Mana ada sih, bahkan kalo kamu minta apapun akan aku kasih, sekalipun itu nyawa aku kecuali dua hal". Ungkap Bian pasti dan nada yang tegas menunjukkan ia benar-benar serius dengan perkataannya.
__ADS_1
"Ha dua, apa tu?". Tanya Della penasaran,apa coba yang lebih penting jika nyawa saja Bian kasih.
"Aku gak akan pernah kasih izin jika kamu minta pergi dari aku, dan juga aku gak akan kasih izin jika kamu minta aku untuk berbagai, sebab semua hal yang ada di diri kamu itu punya aku semua".