
"Ada apa ini?".
Suara berat itu mengalihkan pandangan Della dan Celine yang tadinya asik berpelukan, mengalihkan tatapan mereka pada seorang pria paru baya yang saat ini berdiri dengan tegak di depan pintu.
Tak menunggu lama Della langsung berlari dan memeluk pria yang tak lain adalah ayahnya itu. Ia mencari perlindungan yang menurutnya paling aman dari seorang ayah, sejahat dan seburuk apapun masa lalu mereka, Della tetap membutuhkan sosok ayah yang akan selalu berdiri paling depan saat ia terluka.
"Papa, mas Bian pa". Della mencoba mencari pembelaan dari sang ayah, dia tau jika bagaimanapun ayahnya pasti akan selalu berdiri didepan nya, membela dirinya.
"Bian, kenapa sama dia, dia sibuk lagi?".tanya Dirga, pasalnya satu Minggu lalu Della juga mengadu padanya, katanya Bian terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk putri kesayangannya ini.
"Bukan pa, ini lebih parah lagi". Della menatap sang ayah dengan kesal, apa harus gitu mengatakan itu, dia tau memang dirinya ini manja, dan mau menang sendiri, tapi semua itu tidak serta merta karena kemauan nya kan, semua ini juga berasal dari keluarga serta Bian yang terlalu memanjakan dirinya selama ini.
"Kenapa lagi memang nya?". Dirga membimbing Della untuk duduk di sofa ruang tamu ini, niat awalnya untuk mengambil berkas yang tertinggal sirna sudah, memangnya apalagi yang lebih penting dari mendengar keluh kesah putrinya ini.
"Dia nyuruh Della buat bunuh anak Della". Dirga terkejut dengan perkataan Della, hah sejauh itu, tapi jujur saja sama seperti Celine Dirga pun masih cukup tidak percaya, pasalnya seperti yang kita tau Bian itu bucin banget sama Della, dan dengan kehadiran seorang anak sudah pasti Bian akan mengikat Della untuk selalu bersama dengan nya.
"Tapi alasannya kenapa?". Dirga masih berusaha bersikap netral, tidak mungkin juga kan Bian bertindak sejauh itu jika tidak ada alasan kuat.
"Gak tau, takut aku mati kali". Acuh Della tanpa sadar membuat Dirga menatap putrinya itu dengan pandangan tidak suka, menurutnya kematian bukan lah hal yang bisa dijadikan bahan bercandaan.
"Mulutnya, mau papa bungkam hm?". Della seketika meringis, tapi mau gimana lagi kan dia sedang kesal, mungkin efek hamil bahkan mood nya juga suka berubah ubah.
"Ish papa, pokoknya aku gak mau pulang, trus aku juga mau tinggal disini sekarang". Putus Della seenak jidatnya. Lagian kan ini rumah orang tuanya, yang artinya ini juga rumahnya, Della rasa berada disini untuk beberapa saat bukan masalah yang besar, sekalian memberikan Bian hukuman, biarkan saja cowok itu tidur sendiri, dan kedinginan karena gak ada yang meluk.
"He, mana bisa gitu, sekarang kamu punya suami, dan kamu juga udah jadi tanggung jawab dia". Peringat Dirga menatap Della sinis, jangan pikir dia tidak marah saat mendengar perkataan putri nya tentang sikap Bian, tapi untuk saat ini akan lebih bijak jika dia tidak bertindak gegabah lagipula dia juga belum tau maksud dan tujuan Bian mengambil tindakan yang tidak bisa dibenarkan itu. Sekalian membuat putrinya lupa dengan masalah yang saat ini dia hadapi.
__ADS_1
"Gak mau tau, aku mau tidur aja ngantuk". Della langsung menyelonong masuk kedalam kamar pribadi nya yang berada di rumah ini. Memasuki kamar yang dulu menemani masa remaja, tidak banyak yang berubah dari ruangan ini, hanya saja foto yang dulu nya berisi dirinya dan Yuda kini sudah berganti dengan potret antara ia dan Bian.
Della menarik nafas kasar, kemudian merebahkan dirinya dikasur empuk miliknya.
Bian sedang dalam perjalan menuju rumah mertua nya, sebelum sampai dia membeli makanan kesukaan Della, berharap bisa menjadi alat agar cewek itu tidak terlalu marah dengan tindakan yang ia lakukan tadi.
Baju yang tadinya berlumuran darah kini sudah berubah menjadi baju bersih dan sangat terlihat elegan, kemeja warna biru muda yang ia padukan dengan jas mahal miliknya.
Sesampainya disana, Bian disambut oleh penjaga rumah ini, tak mau repot-repot membalas sapaan itu Bian malah menyelonong masuk kedalam rumah.
"Della, sayang kamu diamana?". Teriak Bian mengabaikan raut wajah para pelayan yang tidak bisa berbuat apa apa.
"Kamu pikir ini hutan, main teriak aja". Dirga yang memang sedang duduk mengerjakan tugas kantornya di sofa, menegur Bian yang terlihat kacau, dan tidak tau aturan.
"Ada tuh dikamar katanya dia gak mau pulang lagi kerumah kamu". Dirga sejujurnya bercanda, mana ada begitu, jika seandainya pun Della berkata demikian pasti akan Dirga larang, bukan karena tak mau menampung Della, hanya saja sejak ia menyerahkan Della pada Bian di altar kurang lebih setengah tahun lalu, maka artinya segala sesuatu yang bersangkutan dengan Della bukan lagi menjadi tanggung jawab nya, melainkan sudah menjadi kewajiban Bian, kecuali Bian datang dan menyerahkan putrinya kembali, maka dengan senang hati pasti akan Dirga terima.
"Mana bisa gitu pa, lagian kan Della itu istri Bian". Bian jelas tidak terima, mau jadi apa dirinya tanpa Della, bahkan sampai kapan pun Bian tidak akan membiarkan hal ituh terjadi, nanti yang jadi guling bangat nya siapa coba, Bian tak masalah sih jika Della minta untuk mereka tinggal disini.
"Heh mana saya tau, rumah kamu kecil kali". Asal Dirga, bohong Dirga bahkan sudah pernah datang kerumah Bian, dan kediaman putrinya itu jauh lebih bagus dari rumah miliknya,.
"Mana ada , papa bahkan tau jika rumah ini tidak ada apa apanya dibanding milik Bian". Bian jelas merasa tidak terima, harga diri coy, dimana pun dan siapapun yang saat ini menjadi lawan nya, harga diri tentu harus diutamakan.
"Okay, cukup, jadi apa alasan kamu meminta putri saya untuk menggugurkan kandungan nya?". Dirga rasa sudah cukup waktu main mainnya, saat ini ada hal yang jauh lebih penting untuk dibahas selain masalah rumah siapa yang lebih besar.
"Papa gak akan ngerti, Bian belum siap pa". Jawab Bian, tidak perlu bertanya dari mana mertuanya tau masalah ini, sudah jelas Della menceritakan semuanya sebelum dirinya datang.
__ADS_1
"Kalo kamu gak siap, kamu bisa kembalikan putri saya, saya tidak keberatan dengan itu". Tidak lagi ada nada bercanda dalam kalimat itu, menandakan saat ini Dirga benar benar serius. Benar kan jika seandainya Bian tidak mau dirinya masih lebih dari sanggup untuk menerima dan membesarkan anak yang saat ini Della kandung, bahkan memberikan kehidupan layak nantinya, untuk Della Dirga bisa melakukan hal lain.
"Bahkan jika seandainya papa minta buat della kembali dengan cara bersujud pun Bian gak akan kasih pa".tegas Bian tak main main, dia yang selama ini dengan susah paya mendapatkan Della, dan sekarang papanya minta untuk dikembalikan, apa Dirga Bian segabut itu.
"Tapi kenapa kamu harus melakukan ini Bian, tidak kah kamu tau jika Della bahkan terlihat menyedihkan hari ini". Geram Dirga tak habis pikir, sebenarnya apa yang ada diotak kecil menantu nya ini
"Aku gak mau kehilangan Della pak, bahkan membayangkan aku tanpa Della aja udah begitu menyeramkan". Tutur Bian dengan nada yang lemas, Bian memang pada dasarnya tak ingin adanya seorang anak diantara dirinya dan Della, tapi awalnya ia merasa itu tidak lah terlalu buruk, hingga dia tau jika Della punya rahim yang lemah, dan Bian juga merasa hal itu bukan masalah yang berat, sampai hari ini hal yang paling ia takuti pun terjadi, hari dimana Della hamil dan tidak terima dengan keputusan yang ia ambil.
"Kamu gak akan kehilangan Della, Bian, kamu tau nanti nya kamu hanya akan berbagi Della dengan darah daging kamu sendiri". Dirga pikir Bian hanya takut perhatian Della nanti terbagi dan melupakan pria itu, tapi sayangnya semua tidak semudah itu, ini jauh lebih menyeramkan daripada Della bersama Yuda dulu.
"Bukan itu pa, rahim Della itu lemah, Jiak Della memutuskan untuk terus melanjutkan kehamilannya maka kemungkinan untuk Della bertahan hidup kecil banget, dan aku gak siap dengan semua itu".Bian terlihat putus asa, kenapa semua harus seribet ini, kenapa kebahagian selalu terasa begitu jauh untuk ia dan Della raih.
Dirga membulatkan matanya tak percaya, seperti itu ternyata, jika dari awal ia tau dengan jelas ia juga akan mendukung keputusan menantu nya itu, daripada harus kehilangan Della untuk selamanya, Dirga memilih untuk lebih baik dibenci oleh putrinya itu, jauh lebih baik melihat Della baik baik saja, meski membencinya daripada tak kehilangan putrinya itu.
"Separah itu kah, dan Kemala kamu baru mengatakan itu pada saya sekarang". Dirga syok tentu saja, hatinya seperti diremas sakit, dan sungguh mengikutkan, putri nya yang malang, kenapa tuhan seperti sedang menghukum dirinya dengan rasa menyesakkan ini, akan lebih baik jika tuhan menghukum dirinya saja.
"Maaf pa, aku juga baru tau tadi , jujur aku pun sekarang kacau gak tau harus berbuat apa". Bian terlihat sangat kacau, membayangkan raut wajah sedih dan kecewa Della membuat dirinya merasa buruk, dadanya sesak tiap kali perempuan itu menatap nya dengan mata yang menyiratkan ketidak percayaan atas apa yang ia lakukan.
"Kalo seperti itu, papa setuju, lebih baik anak itu tidak hadir, jujur saja Bian saya memang menginginkan seorang cucu akan tetapi saya jauh lebih menyayangi putri saya". Putus Dirga mantap, baru saja tadi dai senang dengan berita kehamilan Della, dan sekarang kebahagian itu berubah menjadi duka, tapi kembali lagi dia belum sanggup kehilangan Della, rasanya waktu untuk membuat anaknya itu bahagia masih terlalu sedikit.
"Anak itu akan lenyap pa, aku juga tidak mengindahkan nya".
Bian menghentikan perkataan nya, saat melihat pantulan wajah Della di layar televisi.
"Aku sendiri yang akan melenyapkan mau, tidak peduli dengan siapa pun".
__ADS_1