FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
KAMU GILA


__ADS_3

"Aku sendiri yang akan melenyapkan mau, tidak peduli dengan siapa pun".


Della yang berdiri tidak jauh dari sana membulatkan matanya tidak perawan, seyakin itu Bian untuk menghilangkan bayi yang baru saja berusia 2 Minggu dalam kandungan nya ini.


"Aku gak mau Bi, bahkan kalo kamu maksa aku sekalipun". Della tiba tiba datang kearah Bian dan Dirga yang sedari tadi tidak menyadari keberadaan nya, atau lebih tepatnya hanya Dirga, sebab Bian memang sudah menyadari kedatangan Della.


"Aku gak minta persetujuan kamu Dell, aku bakal lakuin apa pun yang aku mau sama seperti biasa". Untuk pertama kalinya Bian menggunakan nada datar saat berbicara dengan Della, kali ini ia harus tegas, agak kelak tidak ada penyesalan di depan.


"Bi, tolong, biarin kali ini aja aku bisa ngelakuin apa yang aku mau, tolong Bi", Della berajalan kian dekat kearah Bian, memegang tangan pria itu dengan harapan Bian mau merubah keputusan yang sudah dia ambil. Della jelas tidak berdaya, putus asa mungkin, bayangkan saja orang yang harusnya ikut bahagia dan menjadi partner kalian dalam menghadapi masa masa yang menegangkan kini memilih untuk mengakhiri permainan bahkan sejak permainan itu di beritahukan.


Bian mengalihkan pandangannya agar tidak menatap kearah Della, tak sanggup saat mata yang biasanya bersinar itu kini berubah menjadi kosong, tatapan lembut yang Bian lihat selama ini kini berubah menjadi tatapan yang menyiratkan kekecewaan yang begitu besar.


"Gak Dell, sampai kamu berlutut sekali pun aku gak akan menuruti permintaan kamu yang kali ini". Della melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang lengan tangan Bian, Della terisak begitu menyedihkan hingga siapapun yang mendengarnya tau betapa wanita itu sangat terluka.


"Bian kamu jangan egois dong, kalo kamu gak mau rawat dan gak sanggup jaga Della lagi , yaudah pulang kan anak mama, dan saya janji Della tak akan lagi pernah mengganggu kamu". Celine yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara, hatinya teriris melihat putrinya yang begitu menyedihkan, tadinya dia tidak percaya dengan apa yang Della ucapkan, tapi melihat secara langsung kejadian ini membuat nya seakan tersadar, orang yang ia lihat baik dan penuh wibawa ini ternyata begitu egois. Celine mendekat kearah Della, dibawa nya putri sang putri kedalam pelukan hangat miliknya, berharap Della bisa tenang, mereka menangis sambil berpelukan membuat Dirga dan Bian mengalihkan tatapan mereka, tak sanggup rasanya melihat dua wanita yang merupakan kesayangan mereka itu begitu terlihat menyedihkan.


"Tenang ya sayang, ada mama, mama yang bakal belain kamu". Celine mencium kening Della, hanya satu harapan nya semoga apapun yang saat ini Bian rencana kan tidak akan pernah terjadi, Celine tidak bisa membayangkan sehancur apa Della jika keinginan Bian itu benar-benar terlaksana.


"Pa , papa kok diam aja sih?, ayo dong bujuk Bian biar gak egois, jangan cuman mikirin diri dia sendiri". Celine menatap suaminya dengan tatapan jengkel, sejak tadi sang suami cuman diam, padahal jika dia mau Dirga pasti dengan cepat bisa mengubah keputusan yang sudah Bian buat. Pandangan Celine juga jatuh pada Bian, tatapan yang selama ini terlihat lembut kini berubah menjadi dingin dan juga kecewa, orang yang ia harapkan bisa membahagiakan putri nya malah berbalik melukai.


"Papa setuju sama Bian, lagian Della masih terlalu dini untuk punya anak, banyak hal yang mesti dia pelajari". Della kian mengeratkan pelukannya pada sang ibu, air mata mengalir kian deras saat sang ayah malah berbalik mendukung Bian, ada apa dengan orang orang disekitar nya, tidak kah ada yang menginginkan dirinya bahagia, lantas jika begitu apa gunanya ia hidup, apa luka yang di dapat sedari kecil masih terlalu sedikit untuk ia bisa meraih kebahagiaan.

__ADS_1


"Pa, jangan gila, aku gak nyangka kamu juga ternyata sebodoh ini, ini anak kamu sendiri, dan kamu malah dukung orang gila itu untuk kembali melukai anak kamu". Celine menunjuk Bian dengan jari tangan lentiknya, dia mengalihkan pandangannya pada Dirga yang kini menunduk tidak habis pikir dirinya dengan jalan pikiran sang suami.


"Kamu gak tau apa apa ma, jadi lebih baik kamu masuk kamar dan jangan keluar sebelum aku suruh". Perintah Dirga tidak ingin dibantah, tidak kah Celine tau, keputusan ini juga merupakan hal yang berat untuk dia ambil.


"Gak aku gak mau, papa gila banget ya, jangan harap aku bakal nurut sama papa". Bantah Celine tidak terima, dia tetap kekeh berada disana dan mendampingi putri satu satunya, Celine ingin menunjukkan pada Della masih ada yang akan mendukung perempuan itu, dia tak ingin Della terpuruk dan memilih jalan yang salah.


"AKU BILANG MASUK, JANGAN SAMPAI KAMU AKU PUKUL".teriak Dirga dengan rahang yang mengeras tanda dia emosi. Sedari tadi cukup jengkel dengan istrinya yang terus bicara tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.


Celine masih tetap diam ditempat, tidak bergerak sedikit pun, Della yang syok dengan tindakan sang ayah, menatap ibunya dengan tatapan yakin, seakan mengatakan untuk sang ibu menuruti permintaan sang kepala keluarga, melihat itu mau tidak mau Celine akhirnya menurut, sebelum bergerak dari tempatnya dia sempat kan untuk mencium kening sang putri, dan menatap datar pada Dirga dan Bian.


Kini diruangan ini tinggal mereka bertiga, Bian mendekat kearah Della menuntun istri nya untuk ikut duduk di dekatnya, namun sayang niat baik itu ditolak mentah-mentah oleh Della, dengan kasar Della menghempas kan tangan Bian yang memegang pundaknya, Bian yang dapat perlakuan kasar itu hanya bisa menghela nafas, ini merupakan resiko yang harus di ambil atas apa yang akan dia lakukan.


Della tak menanggapi dia seperti kembali menjadi dirinya 5 tahun lalu, orang yang dingin dan tidak suka diatur, bahkan Bian pun merasakan itu, melihat sikap anaknya Dirga geram, bangkit dari acara duduknya dan seketika


Plak...


Tangannya tanpa sadar sudah mengenai wajah mulus Della, Della yang memang sudah memprediksi hal itu hanya diam, tidak ada tangis, tapi matanya menyiratkan raut wajah yang sama seperti saat ia remaja, dingin dan benci,rasa benci yang sudah lama hilang terhadap Dirga kini seperti muncul kembali kepermukaan.


Bian juga tak kala kaget dengan tindakan ayah mertua nya, dia menatap Dirga dengan tatapan tidak terbaca, dia yang selama ini menjaga dan tidak pernah main tangan pada istrinya kini harus melihat orang yang ia lindungi setengah mati mendapat kekerasan tepat di depannya, dan yang lebih gilanya lagi adalah dia tidak bisa melakukan apapun.


"Dell maaf, papa gak sengaja, mana yang sakit sini biar papa obati". Dirga seakan baru menyadari tindakan yang nya, melihat raut dan tatapan putri nya, Dirga seketika menegang, ditambah lagi saat tangan putrinya itu menepis tangan nya dengan kasar.

__ADS_1


"Hahaha, gak papa kali pa, inikan makanan sehari hari Della dulu, jujur rasanya masih sama, menyakitkan, bukan hanya fisik kali ini juga tepat mengenai hati Della, makasih pa, akhirnya Della tau bahwa papa gak akan semudah itu berubah, dan makasih juga buat bebarapa tahun ini, akhirnya Della ngerti gimana rasanya kehangatan seorang ayah, walau tidak bertahan lama". Della terkekeh dengan miris, rasanya mungkin ia memang terlalu terbuai dengan kebahagiaan yang baru ia dapat beberapa waktu ini, hingga tanpa sadar ia menghilangkan sikap kuat yang sudah menemani dirinya selama ini.


Bian hanya terdiam mendengar perkataan Della, tapi entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak, jujur ia takut, bahkan sekarang Della sudah seperti membangun tembok yang tinggi antara dirinya dan Della, yang diyakini akan sangat sulit untuk di gapai apa bila tembok itu kokoh.


"Dan buat kamu mas Bian, kamu mau tetap gugurin anak ini, artinya kamu juga udah harus siap kehilangan aku, karna jujur saat ini yang menjadi alasan aku bertahan adalah dia, sekali lagi aku tanya kamu tetap mau lenyapin anak kamu sendiri?".tanya Della dengan menatap Bian yang duduk di sebelah nya. Bian yang ditatap sedemikian rupa hanya bisa menghela nafas sebelum berkata.


"Aku yakin, karna sampai kapan pun aku gak akan bisa menerima anak itu,". Ucapan Bian membuat Della kian tersenyum dengan miris.


"Kalo gitu kasih aku waktu satu harian ini untuk bersama dia, jangan ganggu aku dan jangan tanya aku dimana, besok pukul 8 tepat kita ketemu di rumah sakit". Putus Della bangkit dari arah duduknya.


"Kamu mau kemana, Jangan macam macam ya Dell, aku gak kasih izin pokoknya". Bian juga ikut berdiri , memikirkan apa yang akan Della lakukan membuat nya tidak tenang.


"Kamu gak perlu tau , aku pergi, dan untuk tuan Dirgantara terimaksih untuk semua yang sudah anda lakukan hari ini". Della menatap ayahnya sekilas sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Dirgantara, meninggalkan Dirga dengan penyesalan, dan Bian dengan raut yang tidak bisa ditebak.


"Aku gak peduli papa, itu mertua aku, yang jelas aku gak suka saat ada orang yang berani nyakitin Della, sekali lagi papa kayak tadi jangan harap papa bisa ketemu Della untuk selamanya". Ancam Bian melampiaskan emosi nya pada sang mertua, tanpa pamit dia langsung keluar dari kediaman mewah ini.


"Maaf, papa cuman takut kehilangan kamu, dan juga maafkan papa mu yang terlalu menyukai kesempurnaan ini Della". Gumam Dirga dengan raut tak kalah menyedihkan.


Della sudah berada di tempat yang menjadi pelarian dari tiap masalahnya, tempat dimana ia bisa menguraikan seluruh keluh kesahnya, tempat seseorang yang menjadi rumah untuknya berada, tempat orang yang mungkin jika bersama dengan nya, maka saat ini dia tidak akan pernah mengalami kondisi saat ini, tapi sayang sekali lagi semesta tidak pernah berpihak pada mereka.


"Hai apa kabar?, Aku datang lagi hari ini?". Sapa Della.

__ADS_1


__ADS_2