
Berjalan dengan langkah yang begitu cepat, suara gesekkan sepatu Arga memecah keheningan yang berada di lantai koridor rumah sakit. Hati orang tua mana yang tidak sakit saat mengetahui anak semata wayangnya sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan yang lebih mengenaskan adalah tidak ada orang tua yang mendampingi. Arga merasa marah pada mantan istrinya yang bahkan saat tau Yuda sedang dalam keadaan kritis masih tetap memilih anak nya yang lain, yang bahkan kegiatan itu tidaklah terlalu penting.
Arga memang marah pada mantan istrinya, akan tetapi rasa marah pada dirinya sendiri jauh lebih besar. Merasa gagal sebagai orang tua, dan sekarang ia malah takut hal yang tidak pernah ia bayangkan terjadi. Dibalik sikap dingin dan acuh yang selama ini ia perankan, ia tetaplah seorang ayah. Orang yang akan maju paling depan saat anaknya terluka. seakan ditampar oleh kenyataan Arga sadar jika ia adalah penyebab utama dari luka putra nya.
"Bian, gimana keadaan Yuda?".
Bian yang sedari tadi terduduk di kursi tunggu rumah sakit, menatap Arga dengan pandangan lemah, ia pun sebenarnya takut, walaupun dikehidupan ini ia sering menghilangkan nyawa orang lain, tapi kenapa saat orang yang pernah dekat dengan nya sedang berjuang ia merasakan perasaan takut, dan juga gelisah.
"Dokter belum keluar om". Jelas Bian.
Tak lagi membalas perkataan Bian, Arga ikut mendudukkan dirinya di kursi samping Bian. Mereka terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Cklek
Suara pintu yang dibuka, mengalihkan perhatian mereka. Disana mereka bisa melihat dokter yang berdiri dan menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Gimana keadaan anak saya?". Arga bangkit lebih dulu, ia menghampiri dokter itu dengan harapan yang besar.
"Bapak orang tua dari pasien?".
"Menurut anda, jangan banyak bicara bisa, saya cuman tanya keadaan anak saya bagaimana?". Ucap Arga kesal. Ini dokter bodoh atau bagaimana sudah jelas jelas ia tadi berkata anaknya, dan dokter ini masih bertanya.
"Maaf pak, kondisi anak bapak kian menurun, sebaiknya segera dilakukan operasi".
Dokter itu sedikit merasa bersalah, tapi mau tidak mau ia harus mengatakan yang sebenarnya bukan.
"Lakukan secepatnya!". Perintah Arga tanpa basa-basi.
"Masalah biayanya mohon untuk segera dilunasi pak". Lanjut sang dokter.
"Bahkan rumah sakit inipun bisa saya beli, jadi lakukan yang terbaik atau pekerjaan mu yang akan jadi taruhannya". Arga geram. Apa dokter ini tidak tau dirinya, bahkan jika ia mau rumah sakit ini bisa jadi milik nya hanya dalam hitungan detik.
__ADS_1
"Baik, pak, maaf sebelumnya". Sang dokter seketika merasa takut, dan juga bersalah , dengan cepat ia pergi untuk mengurus operasi dari pasien.
Arga menarik napasnya kasar, melihat sekeliling dan tidak lagi menemukan keberadaan dari Bian, tak mau ambil pusing Arga segera masuk kedalam ruang inap putranya.
Saat masuk ia bisa melihat wajah pucat, dan juga badan lemah dari sang putra.
"Bangun son, Della butuh kamu".
"Katanya mau lanjutin perusahaan papa, ayo bangun, nanti kita buat kebahagian kita sendiri".
"Kamu mau nikah sama Della katanya, ayo bangun biar papa bisa bebas dan gak harus bantu Della lagi".
Arga berbicara sendiri. Sembari berharap sang anak menyahut walaupun itu tidak mungkin kan, Arga seketika tidak bisa membendung air matanya, ia merasa begitu bodoh, mengapa ia mengabaikan putra nya ini dulu, kenapa tidak pernah terpikir akan masa seperti ini. Menyesal pun tak lagi berguna, yang saat ini bisa ia lakukan adalah memberikan yang terbaik untuk Yuda.
Sementara itu di tempat Della, ia sedang merasa perasaan yang begitu gelisah, ia seakan sedang merasa takut tapi tidak tau untuk apa. Pikirannya jatuh pada Yuda, ia bingung mengingat wajah mantannya yang tidak lagi secerah dulu, dan juga ia beberapa kali melihat Yuda memegang kepalanya seperti sedang dilanda rasa sakit yang luar biasa.
Tok....tok.... tok..
"Bian, mau ngapa ngapain Bi?".
Della cukup bingung dengan kehadiran Bian di apartemen nya, namun yang menambah kebingungan nya adalah Bian yang menarik tangannya dan membawa ia keluar.
"Mau kemana sih Bi?". Tanya Della bingung, ia bahkan tak sempat berganti baju,.
"Udah Dell Lo ikut aja dulu". Jawab Bian singkat.
"Hari ini gue mau buat Lo bahagia". Lanjut Bian, ia membawa Della ke mall.
Awalnya Della bingung, namun karena melihat Bian yang sudah berusaha keras, Della pun mulai ikut menikmati juga. Mereka mulai menjelajahi area mall, mulai dari permainan, menonton bioskop, hingga yang terakhir pilihan mereka adalah untuk mengisi perut mereka.
"Kamu happy?". Bian bertanya dengan mata yang memandang Della dalam.
__ADS_1
"Senang banget Bi, gue senang thanks". Jawab Della .
Jujur saja setelah beberapa masalah yang datang menghampiri baru kali ini Della bisa tertawa begitu bebas lagi dan rasanya sungguh sangat menyenangkan.
"Ngapain kamu disini?". Sebuah suara yang berasal dari belakang menghentikan Della dan Bian yang sedang tertawa, atau lebih tepatnya hanya Della.
Della memutar kepalanya, wajahnya langsung berubah dingin saat melihat pemilik suara yang tidak lain adalah Aksa kakaknya.
"Maaf apa kita saling kenal?". Tanya Della dengan wajah tanpa dosa. Ia bisa melihat raut wajah Aksa yang seperti tidak percaya. Tapi ini memang harus kan, sejak ia memutuskan untuk keluar dari rumah ia juga ikut memutuskan untuk tidak lagi mengenal atau ikut terlibat dengan keluarga Argantara.
"Gak tau diri". Sinis Aksa. Ia juga menatap Della dengan remeh.
"Aksa kamu udah siap, ayo lanjut lagi,". Suara wanita paruh baya datang menyahut, Della lebih duku sadar siapa pemilik suara itu, sedangkan wanita itu sedang sibuk dengan barang belanjaan nya.
"Ayo ma,". Ajak Aksa dengan mengambil alih barang belanjaan mamanya.
"Della, kamu disini, kita pulang ya". Ucap sang mama yang baru saja menyadari keberadaan Della.
"Hai Tante". Ucap Bian saat melihat Della tidak ada niat untuk menyapa mamanya itu.
"Bian, kamu juga disini". Ucap ibunya saat menyadari kehadiran Bian.
"Ni balik yok, disini sumpek" Della lebih duku bangkit dari kursinya, tak ingin Menambah masalah Bian pun ikut bangkit.
"Kalian pantas dapatin ini". Ucapnya lirih kemudian ikut pergi mengejar Della yang sudah lebih dulu pergi.
Meninggalkan Aksa dan mama nya yang menegang, mereka menatap kearah perginya Bian dan Della dengan pandangan kosong.
"Jangan dipikirin, mereka gila". Ucap Aksa mencoba membuat ibunya tidak kepikiran.
"Mama emang pantes dapat ini". Sahut sang ibu dengan nada yang sedih. I kemudian pergi meninggalkan Aksa yang menggeram marah.
__ADS_1