FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
TIDAK TERIMA


__ADS_3

"Hamil?, Della?".


Entahlah Bian tidak tau saat ini apa yang ada dipikirannya, rasa tidak terima datang menghampiri, kenapa bisa seperti ini, bukankah ia selalu memberikan Della obat yang mencegah kehamilan lantas kenapa ini bisa terjadi.


Eungh....


Suara Della yang terbangun dari acara pingsannya menyadarkan Bian, ditatapnya wajah wanita yang menjadi kesayangnya itu. Beberapa menit yang lalu dokter yang dia panggil sudah pergi, tentu saja karena dia usir, perasaan nya sedang tidak baik baik saja sekarang.


"Mas Bian, minum". Della melihat Bian yang sedang bengong, entah apa yang ada di pikiran pemuda itu, ah nanti saja Della tidak peduli, yang terpenting saat ini adalah menuntaskan dahaganya.


Bian bergegas dengan cepat guna mengambil minuman untuk Della, sudah ia bilang bukan, meskipun dia tidak menginginkan kehadiran anak yang saat ini Della kandung, tapi Bian tidak akan mungkin mengatakan hal itu secara langsung. Bian tidak akan pernah bisa untuk menyakiti Della, mungkin nanti dia akan memikirkannya cara lain agar anak itu tidak pernah lahir.


"Nih minum, hati hati". Bian membantu Della minum, membuat cewek itu senyaman mungkin.


"Aku kenapa mas, kok bisa pingsan sih?". Tanya Della heran dengan dirinya sendiri, sebab tidak biasa nya dia selemah ini, dan lagi kenapa Della merasa aura yang Bian sekarang keluar kan tidaklah selera biasanya, auranya terlihat lebih suram.


"Kamu hamil". Beritahu Bian tanpa menghilangkan tatapannya dari Della,ia tak ingin berbohong, biarkan nanti waktu yang menjawab tindakan apa yang akan ia lakukan.


"Hah serius mas, ya ampun akhirnya doa doa aku ke kabul juga". Pekik Della dengan senang, bahkan ia mengelus perut ratanya, tidak percaya rasanya jika disini sedang ada kehidupan lain.


"Kamu gak senang ya?". Tanya Della melihat raut wajah Bian yang tidak seantusias dirinya, jangan bilang Bian tidak senang.


"Senang, aku senang banget ko, tapi apa gak sebaiknya kita gugurin aja sayang, aku gak mau kamu kenapa napa". Bohong tentu saja Bian bohong, dia tidak senang sama sekali, selain karena tidak ingin Della kelak membagi perhatian nya, Bian juga tak ingin Della kenapa, ada satu  hal yang memang membuat Della sebaiknya tidak pernah hamil.


"Hah kamu kok gitu, tenang aja aku gak akan mati juga kan, harusnya kamu tuh senang banget ya buat aku luka". Della tak habis pikir dengan pikiran Bian, kecewa tentu saja, padahal Della sudah menunggu hal ini dari jauh jauh hari.


"Ini demi kebaikan kamu, ayo ya sayang, kita gak butuh dia, aku gak mau kamu kenapa napa". Bujuk Bian, Della ini punya rahim yang lemah,dan sangat berbahaya jika sampai ia kekeh untuk melahirkan. Jelas Bian tidak akan sanggup jika harus kehilangan Della.

__ADS_1


"Aku gak mau, kamu kok egois banget sih, aku lebih baik mati daripada harus ngebunuh dada daging sendiri". Della menatap Bian dengan tatapan kecewa, tak habis pikir dengan Bian, tanpa kata dia keluar dari ruangan Bian, saat ini tujuan utamanya adalah rumah orang tuanya, sudah pasti ibunya akan mendukung dirinya. Lagipula mereka juga menginginkan seorang cucu, yang Della pikirkan adalah menjadi istri yang baik untuk Bian, dan tentu saja melahirkan keturunan untuk Bian merupakan salah satu hal yang menjadi dasar. Dengan adanya keturunan Della pasti akan k merasa sempurna sebagai seorang istri dan wanita.


Bian yang ditinggal kan, oleh Della hanya bisa menahan emosi, saat merasa pintu sudah ditutup oleh Della, Bian baru melampiaskan emosinya, di hancurkannya semua hal yang berada dikamar ini, kamar yang tadinya bersih kini sudah berubah menjadi berantakan, barang barang yang tidak sedikit dan dengan harga yang tidak murah juga sudah hancur berantakan.


"Akhh....sial". Murka Bian, tangannya sudah berlumuran dara, selanjutnya dia bergegas menuju tempat kerjanya, dihempaskan nya laptop beberapa berkas yang berada disana, marah Bian marah, emosinya saat ini sudah berada diatas rata rata.


Saat saat seperti ini membunuh adalah jalan pintas untuk Bian, dengan membunuh Bian merasa emosinya mereda untuk beberapa saat, Bian bergegas berjalan menuju ruang bawah tanah, ruang dimana banyak nyawa yang akan hilang.


"Dimana dia?". Tanya Bian dingin pada bodyguard nya.


"Dia ada didalam tuan". Jawab sang bodyguard dengan nada pelan, aura bossnya kali ini sungguh terlihat sangat berbeda, lebih pekat dan menyeramkan, mereka yang ada diruangan ini yakin jika korban tuannya yang berikutnya akan sangat amat menyedihkan.


"Jadi ini orang yang berani korupsi di perusahaan saya". Bian menatap pemuda yang sudah lemas itu, Bian yakin pemuda itu sudah lebih dulu dihabisi oleh anak buahnya, tapi memangnya Bian peduli.


"Tolong bunuh saya saja tuan, saya tak sanggup lagi". Ujar pemuda yang Bian ketahui sebagai maneger keuangan di perusahaan nya. Uang yang pemuda ini ambil sebenarnya tidak lah terlalu besar, hanya berkisar 1 miliaran, tidak ada artinya untuk Bian, tapi yang jadi masalahnya adalah dia tidak suka ada yang berani menipu dan menghianatinya. Sebuah kepercayaan tidak bisa ditukar dengan uang.


Bian menggores tubuh itu, setelah nya dia menyayat nyayat tangan yang sudah mengambil uang perusahaan miliknya, selanjutnya Bian membungkam mulut pemuda itu dengan selembar kain, agar tidak menimbulkan suara lagi, sedari tadi pemuda itu memang histeris, bisa bayangkan saat tangan kita kena gores pisau yang tajam saja rasanya sungguh menyakitkan, lah ini Bian menambah perasan lemon untuk pada kulit yang baru saja di sayat itu.


"Hahaha rasanya menyenangkan". Ujar Bian dengan senyum manis nya, Bian seperti seorang anak yang baru saja mendapatkan mainan baru, menyenangkan sekaligus membahagiakan, seperti masalah yang tadi Bian alami tidak pernah terjadi.


"Tuan pasti dalam suasana yang tidak baik". Ujar salah satu bodyguard yang sedari tadi ikut menyaksikan kejadian itu, dari sini saja mereka bisa langsung menebak jika sekarang tuannya sedang ada masalah dengan nyonya dirumah , siapa lagi orang yang bisa membuat Bian sekacau ini jika bukan karena seseorang yang bisa membuat Bian bisa sekacau ini hanya Fredella Dirgantara seorang.


"Sudah pasti, terkadang cinta ternyata bisa membuat seorang iblis sekacau ini". Tambah temannya yang lain. Ini adalah kedua kalinya mereka melihat Bian sekacau ini, pertama mungkin sekitar 5 atau 4 tahun yang lalu, saat itu mereka syok, dan setelah sekian lama akhirnya mereka tau, penyebab dari kejadian itu adalah orang yang saat ini sudah menjadi nyonya mereka itu diketahui baru saja mempublikasikan hubungan nya dengan Yuda Argantara.


Dan sekarang apa gerangan yang terjadi sampai kejadian itu terulang kembali, setau mereka Della dan Bian terlihat harmonis, dutambah baru tadi pagi mereka melihat Della datang kekantor. Selama ini setau mereka hubungan kedua manusia itu juga terlihat baik dan bahkan sangat terkesan romantis.


"Akhirnya satu penghianat sudah hilang". Gumam Bian dengan senyum yang merekah, wajah nya terlihat begitu bahagia, sedangkan tubuh manusia yang ada didepannya terlihat sudah tak lagi berbentuk, dengan beberapa anggota tubuh yang tidak lagi menyatu, dan juga bagian dalam perut yang sudah keluar dan berceceran di lantai, membaut siapapun yang melihat itu jadi bergedik jijik, perut mereka seperti diaduk dan itu cukup menjengkelkan, ada beberapa yang mungkin anak baru berlari keluar dan memuntahkan ise perutnya.

__ADS_1


"Bereskan sisanya". Perintah Bian melihat anak buahnya, kemudian dia pergi menuju tempat yang mungkin sekarang Della berada disana.


Sedangkan di kediaman Dirgantara.


Celine sedang asik dengan dunianya yaitu membaca majalah, sedari hubungan mereka membaik dengan Della, Celine memang memutuskan untuk berhenti bekerja, ingin fokus dengan pekerjaan nya, dan menikmati masa tua, lagipula harta mereka juga tidak akan habis selama tuju turunan.


"Mama". Teriakan yang berasal dari arah pintu utama membuat Celine terlonjak kaget, tambah kaget dengan kedatangan putrinya yang terlihat menangis ini.


"Hei putri mama kenapa?". Tanya Celine panik. Heran tentu saja tidak biasanya Della datang dan langsung memeluknya.


"Bian ma, dia jahat". Adu Della dengan air mata yang mengalir deras, membuat Celine mendelik tidak percaya, masih lumayan heran , alasan apa yang membuat seorang Bian bisa berlaku sedemikian rupa, setaunya Bian itu sangat bucin terhadap putrinya.


"Jahat kenapa sayang?,dia lukain kamu?". Tanya Celine akhirnya, daripada mati penasaran akhirnya dia putuskan untuk bertanya.


" Dia nyuruh aku buat gugurin anak yang saat ini aku kandung, jahat banget kan dia". Della masih tidak bisa menghentikan air matanya. Hatinya masih terlihat sesak apa lagi mengingat semua kata kata Bian tadi kenapa bisa begitu dengan mudah menyuruhnya untuk melenyapkan bayi yang bahkan baru saja dia tau keberadaan nya itu. Bahkan jika bisa memilih Della lebih memilih untuk pergi menyusul Yuda daripada dia harus kehilangan seseorang yang sudah ia tunggu sedari dulu.


"Hah kok gitu, kamu hamil, sejak kapan?". Tanya Celine kaget, senang tentu saja, akhirnya sebentar lagi keinginan nya untuk mempunyai seorang cucu terwujud juga, menunggu beberapa waktu akhirnya sesuatu yang ia tunggu akhirnya tercapai.


"Gak tau ma, dan ya Della hamil, baru 2 Minggu, tapi ya gitu Bian gak suka, dia nyuruh aku buat gugurin anak ini". Ungkap Della sendu.


Celine menatap anaknya prihatin, tak menyangka nasib putrinya seperti ini, tidak kah cukup penderitaan yang sudah putrinya alami sejauh ini, tuhan tidak bisa kah penderitaan putrinya usai sampai disini.


"Serius Bian ngelakuin itu?". Tanya Celine masih terlihat tidak percaya entahlah rasanya masih seperti tidak mungkin.


"Iya ma, mama kok gak percaya banget sih sama aku". Della jadi kesal dan geram secara bersamaan, mengapa ibunya ini tidak percaya sekali sih.


"Ada apa ini?".

__ADS_1


__ADS_2