
Waktu berjalan dengan begitu cepat, 6 bulan sudah berlalu sejak makan malam romantis antara Bian dan Della. Kegiatan mereka pun sudah kembali seperti sediakala, dengan Bian yang sibuk dengan bisnisnya dan Della yang hanya bisa berdiam diri di rumah menunggu Bian kembali dari bekerja.
Selama kurang lebih setengah tahun hidup dengan Bian, Della baru menyadari beberapa hal, pertama Bian yang tidak suka dibantah, suka mengatur, dan juga mau menang sendiri, rasanya Della seperti sedang terkurung dalam sangkar emas yang dibangun oleh Bian sendiri.
Della juga sejujurnya tidak sabar ingin mempunyai seorang momongan, akan tetapi tiap kali ia ingin bercerita mengenai hal itu pada Bian, sikap dari pemuda itu pasti langsung tidak mengenakkan atau bahkan dia pasti dengan cepat mencari topik lain. Entahlah Della bahkan tidak tau apa yang ada didalam pikiran cowok tersebut. Padahal jika dipikir-pikir setiap keluarga pasti menginginkan kehadiran seorang anak dalam keluarga nya.
"Huh pusing aku tuh". Della malah jadi pusing sendiri memikirkan keadaan saat ini, sejujurnya Della punya satu rahasia, yaitu sejak satu bulan yang lalu dia sudah tidak lagi meminum air putih yang selalu Bian siapkan, cukup heran sejujurnya untuk apa Bian serepot itu hanya untuk memastikan jika dia selalu meminum air putih yang sudah disediakan.
"Aduh, ini kenapa kepala juga pusing banget sih, trus aku juga kangen pengen meluk mas Bian satu harian ini, padahal kan baru tadi pagi ketemu". Gumam Della bingung sendiri.
Merasa saat ini, keinginan nya tidak lagi bisa ditunda, Della memutuskan untuk turun dari kamarnya, meminta diantar ke kantor Bian oleh supir pribadi yang sudah Bian siapkan untuknya.
"Mau kemana nya?, cantik banget''. Mbok Ida menatap nyonya nya dengan pandangan heran, tidak biasanya Della berdandan dengan begitu rapi.
"Ini mbok, gak tau kenapa aku pengen banget meluk mas Bian seharian ini, aneh kan padahal aku baru aja ketemu dia barusan". Jujur Della, mbok Ida menjadi orang yang paling ia percaya di rumah ini, nyaman rasanya saat ia bercerita dan meminta pendapat pada wanita paruh baya di depannya ini.
"Hah kok aneh ya nya, jangan jangan nyonya hamil?". Tebak mbok Ida, karena menurut pengamatan nya Della memang cukup mempunyai kebiasaan yang aneh akhir akhir ini, mulia dari Della yang biasanya sangat menyukai rasa coklat kini malah berubah menjadi membenci makanan itu. Dan masih banyak keanehan lainnya.
"Hah, masa sih mbok, emang aku udah telat dua Minggu si mbok, tapi gak mau terlalu berharap mbok,tapi doain ya mbok". Ujar Della tak bisa menyembunyikan raut wajah senang nya, entah lah tapi juga ia berharap semua itu menjadi kenyataan, Della tak sabar saat rumah yang biasanya sepi ini menjadi ribut karena suara anak kecil. Ah memikirkan nya saja sudah membuat Della senyum senyum sendiri.
"Ah kalo gitu aku pamit dulu ya mbok, Babay mbok see you". Della berjalan dengan riang, meninggalkan mbok Ida yang menatap Della dengan pandangan sayang, mbok Ida hanya berharap semoga tuhan selalu melindungi Della dan memberikan cewek itu kebahagian yang tiada habisnya.
"Pak, Benny tolong antar saya ke kantor mas Bian ya". Della meminta pak Benny supir pribadi nya untuk mengantar dirinya menuju kantor Bian, Della tidak memberi tahu Bian jika akan datang, hanya ingin memberikan kejutan.
"Baik nyonya, ayo nya". Pak Benny membuka kan pintu untuk Della masuk, setelah nya ia menjalankan mobil itu dengan kecepatan yang sedang, Bian sudah berpesan pada semua orang yang bersangkutan dengan Della haruslah berhati-hati, sebab sedikit saja Della terluka yang menjadi sasaran adalah orang yang saat itu berada di lokasi.
"Kita sudah sampai nyonya, mau saya antar ke dalam?". tanya pak Benny setelah membuka pintu untuk Della turun.
"Gak usah pak, saya sendiri aja, Makasih ya pak, nanti saya pulang sama mas Bian aja ". Kata Della dengan nada yang ramah, Della memang menjadikan para bawahannya dengan baik, sebab menurutnya jika kita ingin diperlakukan baik oleh siapapun itu, kita harus lebih dulu mampu memperlakukan Orang dengan baik, sebab hidup itu timbal balik kan, apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai.
"Baik nyonya, kalo gitu saya pamit dulu nya". Pak Benny baru menjalankan mobilnya saat melihat Della sudah masuk kedalam kantor tersebut.
"Pagi Windi, apa kabar?,bapak ada di ruangan nya kan ya?". Tanya Della ramah pada resepsionis di kantor ini. Della memang sudah beberapa kali datang kekantor ini, dan lagipula siapa yang tidak tau siapa wanita ini, pernikahan nya dengan Bian menjadi trending topik saat itu, dan juga Bian yang selalu mewanti wanti setiap orang untuk memperlakukan Della dengan baik.
__ADS_1
"Pagi juga Bu, bapak ada Bu, silahkan saya sudah mengabari pak Diki sekretaris bapak". Jawab Windi tak kalah ramah.
"Okay, saya duluan ya, kamu yang semangat kerja nya". Winda hanya membalas dengan jempol.
Della masuk kedalam lift khusus yang hanya diperuntukkan untuk para petinggi perusahaan ini, dan Bian sudah memberikan nya hak untuk bisa menggunakan keistimewaan itu.
"Halo pak Diki, pak Bian ada didalam kan ya?". Tanya Della ramah.
Diki yang melihat itu hanya tersenyum ramah, dan mengangguk tanda mengiyakan.
Melihat itu dengan cepat Della berjalan menuju pintu yang menjulang tinggi di depannya.
"Mas Bian". Teriak Della langsung berhambur masuk kedalam pelukan Bian yang terlihat bingung dengan kedatangan istrinya ini.
"Hah kamu kok ada disini?,trus sama datangnya sama siapa?".tanya Bian heran dengan kedatangan Della yang tiba tiba tapi tak urung juga dia membalas pelukan Della pada nya.
"Sama pak Benny, gak tau kenapa aku kangen banget sama kamu". Manja Della kini berpindah malah duduk dipangkuan Bian, dia mengendus endus bau Bian yang sedari tadi ia rindukan.
Bian melanjutkan kerjanya dengan Della yang berada di pangkuannya, tidak merasa terganggu sama sekali, tapi sejujurnya dia kurang suka dengan Della yang datang tiba tiba, entah berapa banyak pasang mata yang menatap miliknya ini tadi, namun kembali lagi tidak mungkin Bian akan marah dan menunjukkan ketidak sukaannya pada Della, selama Della masih dalam batas wajar Bian tidak akan menegur dan membatasi itu, tentu saja batas wajar menurut Bian dan orang lain itu berbeda.
" kamu lanjut aja, aku cuman mau nyium bau kamu". Tegur Della yang merasa Bian tidak melanjutkan pekerjaannya karena kedatangannya, padahal ma tanpa Della minta pun Bian akan pasti melanjutkan pekerjaannya.
"Iya sayang, kamu puas puasin aja ". Ujar Bian dengan lembut.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 waktunya untuk makan siang, Della juga sudah berpindah dari pangkuan Bian ke kursi yang tersedia di ruangan ini.
"Ini makan aja dulu".suruh Bian memberikan makanan yang terlihat sehat itu pada Della.
"Ih ini mulu kamu mah, aku bosan tau". Bantah Della menggeser makanan yang Bian berikan, membuat pemuda itu mengedit tidak suka.
"Ini sehat sayang, kamu makan ya, aku gak mau kamu sakit nanti". Bujuk Bian pada Della.
"Tapi aku gak mau". Bantah Della dengan keras kepala nya. Tidak mau entahlah rasanya hari ini ia tidak ingin menerima perintah Bian, badannya entah kenapa terasa lemas.
__ADS_1
"Kamu kok gitu sih". Ujar Bian tak suka.
"Mas Bi". Lesu Della, rasanya saat ini malah ia melihat ruangan Bian ini seperti berputar, ia tak lagi mendengar apapun yang Bian katakan, setelahnya semua itu terlihat gelap.
"Della, hei kenapa bangun". Panik Bian dengan keadaan Della yang sudah pingsan.
"Datang kekantor saya, saya kasih kamu waktu lima menit". Perintah Bian melemparkan ponselnya setelah menyuruh dokter yang menjadi langganan keluarganya datang.
Bian menidurkan Della di ranjang yang berada diruangan pribadi nya, ditatapnya wajah Della yang terlihat begitu pucat,rada khawatir langsung datang menyerang, setaunya dia sudah menerapkan pola makan yang sehat untuk Della, tidak pernah Bian sangka jika kejadian ini akan terjadi, mungkin Bian harus lebih ketat lagi dalam menjaga Della.
"Ini kenapa?". Tanya dokter itu menatap Bian dan Della secara bergantian, ia melihat Della yang terlihat begitu pucat.
"Ckk kalo gue tau, gak bakal gue minta Lo kesini, cepatan periksa istri gue, sama jangan lama lama pegang nya". Perintah Bian dingin, dan nada itu juga penuh dengan ketegasan.
"Ckk posesif banget Lo, ingat terlalu posesif juga gak baik". Nasehat dokter itu menatap Bian dengan pandangan sinis.
"Banyak ngomong Lo, cepatan udah". Ujar Bian tidak suka, gila aja mana mau dia dinasehati oleh orang yang jauh dibawah nya, harga diri coy.
"Hmm, okay".dokter itu memeriksa Della yang sedang terbaring dengan lemah diatas kasur, diperiksa nya keadaan pasien istimewa nya ini, seketika ia langsung tersenyum dengan lebar, dia sangat yakin pemuda ini akan merasa sangat bahagia dengan kabar yang akan diberikan nya.
"Gue punya info penting tentang bini Lo".kata sang dokter dengan nada yang bahagia.
"Apaan, yang pengen gue tau itu kondisi istri gue". Ucap Bian tidak suka, yang dia inginkan itu keadaan kondisi kesehatan Della bukan yang lain, ini dokter serba bisa keluarga nya perlu diganti mungkin.
"Heh bodoh, ini juga tentang bini Lo tau". Balas dokter itu dengan nada jengkel, Bian ini memang tidak bisa santai kali ya.
Bian hanya bisa menaikkan alisnya tanda penasaran, tangannya tidak berhenti mengelus rambut Della yang lembut, wajah pucat perempuan itu tidak membuat kecantikan nya memudar, yang dasarnya cantik mau bagaimana pun akan tetap cantik.
"Selamat bro, bentar lagi Lo bakal jadi seorang ayah,istri Lo lagi hamil sekarang ".
Bian menghentikan kegiatannya yang sedang mengelus rambut Della, seketika jantung nya seperti berhenti untuk beberapa saat.
"Hamil?, Della?".
__ADS_1