FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
BUKAN AKU


__ADS_3

Yuda tidak pernah berpikir jika pada akhirnya ini semua akan berakhir seperti ini. Ia tidak pernah menyangka jika ia tidak akan membuat Della dalam masalah seperti ini. Niat awalnya hanya ingin agar Della menjauh dan membencinya. Ia bahkan tidak pernah berniat untuk melukai cewek itu lebih dalam lagi. Akan tetapi apa mau dikata jika nasi sudah menjadi bubur. Sekarang yang bisa ia lakukan adalah melindungi cewek itu dari jauh. Sebelum nanti waktunya berakhir dan ia kembali ketempat dimana seharusnya manusia berakhir.


"Gue gak pernah lakuin ini".


Verel yang melihat raut wajah serius Yuda. Mau tidak mau percaya. Tapi jika memang yang melakukan itu bukan Yuda lantas siapa.  Dari sini Verel jika membuat Della terluka sama saja pemuda itu melukai dirinya sendiri.


"Trus siapa?".


Yuda menatap Verel serius. Saat ini yang bisa ia percaya hanya Verel. Jujur ia pun bingung, namun yang pasti ia juga tidak akan membiarkan masalah ini berlarut larut. Ia juga sudah mulai mendengar bisik bisik yang tidak mengenakkan tentang Della.


"Gue gak tau, tapi kalo sampe gue tau siapa orangnya, gue pastiin dia gak bakal hidup tenang". Yuda berkata dengan serius. Didalam kata katanya tersirat rasa geram dan juga kesungguhan.


"Gue pasti bantu Lo, tapi gue harap Lo terbuka sama gue". Verel menepuk pundak Yuda memberikan semangat. Biar bagaimanapun ia akan selalu berada didekat pemuda ini.


"Thanks". Ucap Yuda singkat.


"Trus gimana masalah penyakit Lo?". Yuda menatap Verel dengan pandangan dingin. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah suka jika ada yang mengingatkan dirinya tentang penyakit yang saat ini ia derita. Ia ingin semua orang berfokus pada diri masing-masing. Ditambah ia pun tidak berniat untuk melakukan pengobatan tentang penyakit yang ia derita. Ia hanya pasrah agar bisa cepat pergi dari dunia yang begitu kejam ini.


"Gak tau, biarin aja". Sahut Yuda kelewat santai. Verel menatap Yuda tidak percaya. Mengapa pemuda ini bisa sepasrah itu, tidak kah ia tau bahwa banyak hal yang bisa ia lakukan untuk mengobati penyakit yang saat ini menggoroti tubuhnya.

__ADS_1


"Lo sesantai itu, gak mikirin gimana perasaan orang orang yang sayang sama Lo?". Tanya Verel geram.


"Lagain emangnya ada yang sayang dan peduli sama gue?". Tanya Yuda dengan wajah datar.


"Anjingg".Verel tidak bisa untuk tidak mengumpat. Ia merasa miris dan juga kecewa dengan pikiran dari Yuda. Lantas menurut pemuda itu apa arti dari dirinya selama ini.


Yuda menatap heran kearah Verel, ia bingung dan juga heran, kenapa pemuda ini bisa segitu marahnya hanya karena ucapan nya. Menurutnya memang benar ,dia tidak begitu berharga, Della akan ketemu orang yang lebih baik, dan verel pun akan ketemu dengan teman yang juga jauh lebih baik kedepannya.


"Lo emang gila, jadi Lo anggap gue sama Della apa?, Gak nyangka gue, gila sih lo gak waras". Setelah mengatakan hal itu Verel pergi meninggalkan Yuda yang menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Lah gue salah apa?". Tanya Yuda pada dirinya sendiri.


Saat akan melangkah, ia merasa hidungnya seperti basah, dan benar saja saat tangannya tak memegang hidungnya,  ia bisa melihat cairan berwarna merah kental yang membasahi hidungnya itu. Dengan cepat ia membersihkan hidung ya, dan berjalan kearah kamar mandi.


Sementara itu dikediaman Dirgantara.


Rumah yang memang dari awal dingin kini malah bertambah dingin. Orang orang yang menghuni rumah ini seakan mencari ke dibukan masing masing. Seperti Dirga yang kini jarang pulang sebab bisnis nya yang kian melonjak,  Celine yang juga makin sibuk ,dan Aksa yang lebih banyak bermain diluar rumah.


Setelah perginya putri tunggal keluarga Dirgantara, rumah ini memang menjadi kian sepi, dari dulu yang selalu merengek agar mereka pulang adalah Della.  Dulu Della adalah orang yang akan dengan setia menunggu Dirga di ruang tamu, menyiapkan teh, dan juga bertanya banyak hal. Tapi lihatlah sekarang tidak lagi ada yang melakukan itu.

__ADS_1


"Mama sama papa udah pulang Bi?". Aksa bertanya lada salah satu pelayan yang membuka pintu saat ia baru saja tiba.


Ia mendidik pada rumahnya yang sepi dan jauh dari kata hangat.


"Belum den, beberapa hari ini tuan dan nyonya emang jarang pulang". Balas pelayan itu. Ia menatap takut takut lada tuan mudanya.


"Kalo Della?". Tanya Aksa tanpa sadar. Ia seperti menyusuri ruang keluarga. Biasanya Della akan berada disana menonton dan juga menunggu yang lain pulang.


"Anuh maaf den, nona Della kan udah gak tinggal disini lagi". Ucapan pelayan itu menyadarkan Aksa. Tanpa kata lagi ia segera berjalan menuju kearah kamarnya.


Melewati tiap lorong yang menjadi saksi betapa dulu dia begitu bahagia dan dekat dengan adik satu satunya. Akan tetapi mengingat apa yang ia lakukan pada adiknya seketika membuat dirinya sadar bahwa ia memang tidak layak sebagi seorang kaka. Tapi untuk hal yang ia lakukan pada Della ia sama sekali tidak menyesal, biarkanlah itu menjadi pelajaran berharga untuk Della.


"Sepi banget". Keluh Aksa merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya.


Dikantor Dirga sedang sibuk sibuknya mengurus pekerjaan nya. Sedari tadi ia bahkan belum beristirahat, badannya lelah begitupun batinnya.  Ia merentangkan tangannya guna meregangkan otot-otot yang sudah mulai terasa kaku.


Ia menatap potret keluarga yang berada diatas meja nya. Meneliti satu persatu wajah yang berada digambar itu. Entah sudah berapa lama ia tidak tertawa dengan begitu lepasnya seperti yang ada di foto itu. Ia bisa melihat raut wajah bahagia dari kedua anaknya. Mengingat itu tanpa sadar bibirnya tersenyum walau tipis.


Ia jadi mengingat saat dimana pertama kalinya Della dilahirkan ke dunia ini. Betapa ia sangat bahagia dan bahkan rela cuti saru Minggu hanya karena tidak ingin jauh dari putri yang sudah lama ia impikan.

__ADS_1


Saat itu ia memberikan semua yang ia punya untuk Della, perhatian, harta dan juga kasih sayangnya. Dulu ia begitu bahagia saat dimana ia pulang kerja akan ada Della yang berlari dan meminta untuk digendong, meminta dibacakan buku cerita, dan bahkan ditemani tidur. Rasa lelangnya seakan lenyap saat ia bisa melihat tawa dari putri kesayangannya.  Dan entah mulai darimana ia seakan mulai merasa jauh dari putrinya, tidak lagi ada Della yang mengeluh padanya, tidak ada lagi Della yang meminta saran nya, dan tidak lagi ada Della yang mengadu kepada nya. Yang ada hanya Della si tukang onar, Della yang tidak bisa diatur, dan Della yang kian jauh darinya.


"Menggemaskan". Ucap Dirga tanpa sadar.


__ADS_2