
Tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat, besok adalah hari dimana Della dan Bian akan mengucapkan janji sumpah yang akan mengikat mereka bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Tuhan.
Dalam jangka waktu yang begitu singkat setelah acara pertunangan diadakan, baik Bian maupun Della sudah mantap untuk menjalani kehidupan selanjutnya bersama. Meskipun tidak bisa dihindari keraguan itu masih jelas ada.
Saat ini Della sedang berada di kamar yang dulunya dia tempati sebelum kembali kerumahnya, tempat yang lumayan banyak menyimpan kenangan antara dirinya dengan sang masa lalu, Della hanya tidak ingin kedepan ada kesalahpahaman antara dirinya dengan Bian, maka dari itu hari ini Della putuskan untuk menyimpan semua barang barang berharga itu ke tempat yabg tersembunyi.
Saat sedang memasukkan beberapa barang kedalam box, Della terkekeh ringan mengingat kenangan tiap benda, mulai dari boneka yang mereka dapatkan saat bermain di pasar malam, kemudian bando yang dulu Della sangat sukai dan juga menjadi benda yang ia gunakan untuk mengerjai sang mantan, mengingat itu Della menjadi tersenyum sendiri, dan menangis secara bersamaan, tak ingin larut dalam kesedihan Della beralih pada barang terkhir, sebuah pigura yang menunjukkan dirinya dan sang masa lalu, Della ingat foto itu diambil saat mereka sedang membolos dan memilih untuk pergi kencan ke sebuah danau. Ingatan Della berlabuh pada beberapa tahun yang lalu.
Flashback
Siang ini cuaca sedang teriknya, Della dan juga Yuda yang pada dasarnya tidak taat aturan walaupun menjadi kebanggaan sekolah ketahuan sedang membolos dan asik makan di kantin.
Pak Bimo selaku guru BK mengetahui perbuatan mereka dan menghukum kedua makhluk itu membersihkan taman belakang sekolah, bukannya menurut mereka malah memiliki rencana lain.
"Bolos mau?". Tanya sang pemuda dengan membersihkan keringat sang gadis. Pemuda itu sudah lebih dulu membuang alat alat kebersihan yang sedari tadi ada ditangannya.
"Hmm, ayok lah sesekali juga". Sahut sang perempuan membuang kesal sapu yang sedari tadi dipegangnya.
"Ayok". Pemuda itu menarik tangan sang gadis menuju tembok yang tidak terlalu tinggi didepan mereka, untuk urusan tas sudah ia serahkan pada temannya yang lain.
"Bisa kan?". Pemuda itu menatap gadis nya dengan pandangan lembut, mendapatkan anggukan dari sang gadis pemuda itu kini membantu untuk gadisnya lebih muda sampai diluar pekarangan sekolah.
Setelah dirasa aman, pemuda itu juga melakukan hal yang sama, memanjat tembok dan mendarat dengan selamat.
"Ada yang luka gak?". Tanyanya lagi perhatian sambil meneliti penampilan kekasih nya, takutnya ada yang lecet atau luka.
__ADS_1
"Gak ada Yud, semua aman, kamu juga kan?". Perempuan itu bertanya balik, sambil meneliti penampilan pacarnya yang selalu memukau, baju rapi walau tidak dimasukkan, dasi yang entah di mana dan juga rambut acak-acakan yang membuatnya kian keren.
"Aman, sayang, selagi kamu baik aku akan baik baik aja". Ucap pemuda itu mengelus rambut sang perempuan dengan lembut. Membuat perempuan itu tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Bayang kan siapa yang tidak meleleh jika diperlakukan dengan begitu lembut.
Yuda Argantara nama pemuda itu, kekasih yang sudah bersama dengan Fredella Dirgantara sejak lama, orang yang menjadi saksi betapa terluka nya gadis itu, orang yang mengulurkan tangannya pertama kali saat Della terjatuh, dan orang yang memberikan segala cinta dan juga perhatian yang selama ini Della impikan. Della selalu berdua agar kelak orang ini juga akan menjadi orang yang masih berada disekitar Della saat ia menutup mata untuk selamanya. Sulit dijelaskan, tapi satu hal yang pasti Della tidak tau bagaimana hidupnya jika tidak bertemu dengan orang ini.
"Hei are you ok?". Tanya Yuda saat melihat Della yang sedang melamun, saat ini mereka sudah berada di taksi, menuju salah satu tempat paporit mereka untuk menghabiskan waktu tanpa diketahui siapapun.
"Okay, ini kita mau ke danau itu kan ya?". Alih Della tak ingin Yuda menanyakan tentang apa yang saat ini di pikirkan.
"Iya, gak apa apa kan?". Yuda bertanya dengan hati hati, takut Della tidak suka, tapi mau bagaimana lagi saat ini mereka memang harus menyembunyikan hubungan mereka, alasannya sudah pasti karena banyak orang yang tidak suka dan juga menurut mereka hubungan mereka biaralah menjadi privasi mereka berdua, toh yang menjalani juga mereka.
"Santai, akumah asal sama kamu ayok ayok aja" Balas Della dengan nada jahil, bermaksud untuk menggoda kekasihnya ini.
"Gembel". Sahut Yuda dengan terkekeh pelan.
"Indah banget, gak pernah bosan kalo kesini". Pecah Della saat sedari tadi terjadi keheningan, ia masih memfokuskan pandangannya pada danau yang masih begitu asli, tidak terjamah tangan tangan manusia, udara yang sejuk juga menambahkan kealamian tempat ini.
"Iya indah banget". Sahut Yuda, tapi matanya menatap perempuan disebelahnya dengan tatapan yang begitu dalam, jujur saja menurut Yuda tempat ini memang begitu indah, akan tetapi Della jauh lebih indah, dibalik luka yang tuhan berikan ternyata tersimpan keindahan yang begitu besar pada gadis ini.
Merasa ditatap Della mengalihkan pandangannya dan menatap kearah samping, matanya bertemu dengan Yuda yang juga sedang menatapnya, dai tersenyum manis, mengamati pahatan rupawan didepannya, tak ingin terlalu lama hanyut dalam suasana ini Della lebih dulu memalingkan wajahnya kedepan menatap kembali danau itu.
Menurut Della terkadang saat kita sedang jatuh atau terpuruk ada baiknya kita pergi ketempat sunyi, merenung dan juga mencoba mencari solusi, ada saatnya kita tak perlu bercerita pada siapapun, kita hanya perlu duduk dan mencoba mengobrol dengan diri sendiri, ada juga saatnya kita perlu pergi ketempat dimana tidak ada satu orang pun yang mengenal kita, atau hanya pergi naik motor dan mutar mutar dijalanan seorang diri, mencoba menguji diri sendiri seberapa mampu untuk tidak bergantung pada orang lain, atau mungkin mencoba hidup terbiasa sendiri.
"Kalo aku pergi, kamu akan baik baik aja gak By?". Yuda tidak tau kenapa dia bertanya demikian, tapi yang jelas pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
__ADS_1
"Gak, saat kamu memilih pergi mungkin raga ku akan baik baik aja, tapi hatiku dan jiwa ku mungkin juga ikut sama kamu". Balas Della cepat. Benar dia bahkan tidak perawan berpikir bagaimana kehidupan sehari-hari nya tanpa sosok Yuda, menanyakan saja dia tidak berani apalagi jika itu sampai terjadi.
"Kamu gak niat buat ninggalin aku kan?". Tanya Della penuh selidik, jikapun Yuda memang punya niat tersebut, Della berjanji akan membatalkan niat itu bagaimana pun caranya.
"Gak by, tapi kita gak tau apa yang akan terjadi nanti, -". Yuda menjeda kalimatnya, menggeser duduknya hingga kian dekat dengan Della, dengan nyaman Yuda menyandarkan kepalanya di bahu mungil Della.
"Tapi jika seandainya aku pergi lebih dulu, amit amit dipanggil Tuhan lebih dulu, aku cuman pengen kamu lanjutin hidup kamu, cari kebahagian lain, kejar apa yang ingin kamu kejar, dan juga jangan pernah berpikir untuk nyusul aku, sama tolong bahagiain diri kamu, sebab seperti yang kamu tau bahagia seorang Yuda Argantara adalah kebahagian dari Fredella Dirgantara, dan jangan lupain aku juga". Sambung Yuda, entah kenapa perasaannya tidak tenang, dan jika kalian bertanya apa Yuda begitu mencintai Della, maka Jawabannya iya, bahkan melebihi dari dirinya sendiri.
"Aku gak tau kamu kenapa, tapi satu yang harus kamu tau, saat kamu seandainya memilih pergi artinya aku juga akan ikut sama kamu, atau mungkin aku nyusul kamu tak lama setelahnya, ingat Yud, kamu yang bantu aku berdiri dan itu bukan sesuatu yang kecil". Balas Della setelah Yuda menyelesaikan ucapannya, tangan Della dengan lembut mengelus rambut milik Yuda, membuat cowok itu memejamkan matanya.
Terdiam cukup lama, Della mengeluarkan ponsel mewah miliknya, dan mengajak Yuda untuk berfito,menambah album pribadinya.
"Yang senyum dong". Kesal Della saat sedari tadi Yuda hanya menampakkan wajah datar nya, pada dasarnya Yuda memang tidak terlalu suka foto, tapi untuk sang pujaan hati apa yang tidak .
.
"Nah ini kan bagus". Della menatap hasil jepretannya yang memperlihatkan kedua nya sedang tersenyum dengan manis kearah kamera dengan Yuda yang merangkul Della dari arah belakang, dan Della yang menatap Yuda dengan tersenyum manis, sungguh asmara remaja yang begitu membahagiakan, hari ini bertambah satu lagi kenangan antara Yuda dan Della, yang membuat mereka mengenang nya di kemudian hari, entah dengan senyum atau malah tangis.
Flashback off.
Della tertawa sambil menangis mengingat kenangan itu, dadanya terasa begitu sesak, seakan-akan hatinya sedang di tusuk oleh ribuan jarum, sakit dan Della tidak tau harus bereaksi seperti apa.
Tak ingin larut dalam kenangan, Della menatap sekali lagi potret itu, diusap nya wajah rupawan dengan seragam SMA itu dengan lembut, kemudian untuk yang kesekian kalinya Della membawa potret itu pada pelukannya, kalian tau rasanya saat orang yang mengulurkan tangannya pada mu pergi untuk selamanya, sakit amat menyakitkan seperti kita kehilangan sosok yang kita selalu inginkan keberadaan nya disekitar kita.
Dengan air mata yang masih menetes deras, Della meletakkan bingkai foto itu pada box yang didalamnya sudah banyak kenangan lainnya. Della menumpuk lagi Poto itu dengan sebuah buku besar yang menutup semua nya, hingga jika dilihat sekilas mirip seperti sekumpulan buku usang.
__ADS_1
"Makasih Yud, dan kamu tau rasanya masih sama, sesak".