
terimakasih karena telah membuangnya". Arga berkata dengan nada mengejek , kemudian ia pergi menyusul Della yang sudah lebih dulu kembali ke mobil.
Della merasa semuanya seperti mimpi, kehilangan semuanya, ah atau mungkin ia memang tak pernah memiliki apapun. Yang saat ini harus ia pikirkan adalah langkah selanjutnya. Keluar dari rumah sudah ia lakukan, lantas apa menurutmu ia merasakan bahagia?.Tidak ia tak merasakan itu, yang ada sekarang rasanya dadanya kian sesak, ia jadi merasa jika memang tak pernah diharapkan. Memandang rumah yang sudah menamainya selama kurang lebih enam belas tahun, melihat ayunan yang dulu ia gunakan bersama kakaknya. Dan melihat taman yang dulunya menjadi tempat bermain paforit mereka. Kemudian pandangannya berhenti pada balkon kamarnya. Tempat yang menjadi saksi setiap lukanya.
"Are you ok?".Arga menatap Della dengan pandangan prihatin. Tak pernah terlintas dalam benaknya jika hari ini ia akan menyaksikan kepahitan dari seorang anak. Ia tau bagaimana rasanya selalu dibandingkan dan diabaikan, ia pernah berada dalam posisi itu. Dan ya ia salut akan kekuatan anak ini, dimana ia bisa bertahan sampai sejauh ini.
"Gak mungkin aku baik baik aja om, rasanya dadaku sesak, dan aku seperti baru saja bermimpi mengerikan''. Jawab Della dengan suara serak. Dan ya dadanya sesak, seperti ada ribuan jarum yang menancap pada hatinya. Ia tak pernah tau jika rasanya akan sesakit ini. Memang ia ingin lepas dari kekangan keluarga gila ini, namun entah kenapa sebagian hatinya berkata untuk tetap bertahan. Namun mau bagaimanapun ia menyesal sekarang semuanya sudah terlambat, nasi sudah jadi bubur.
Arga tak lagi mengatakan apapun yang ia lakukan sekarang adalah memeluk Della erat, ia seakan ingin mengatakan semua akan baik-baik saja, dan yang lebih lagi ia ingin gadis ini tau jika ia akan selalu ada dan takkan membiarkan Della merasa sendirian. Dirasa tangis Della sudah reda ia melihat mata sembab gadis ini, hidung yang sudah merah dan jangan lupakan mata sembabnya.
"Jadi sekarang rencana kamu bagaimana?".tanya Arga menatap lembut kearah Della.
"Gak tau om, mungkin aku bakal nginap di basecamp aja".jawab Della cepat. Karena sejujurnya ia memang tak memiliki rencana, dan yang saat ini ada dipikirannya hanya basecamp. Mungkin untuk saat ini itu merupakan pilihan bagus, baru setelah nya ia akan memikirkan langkah selanjutnya.
__ADS_1
"Gimana kalo kamu nempatin apartemen om aja".usul Arga . Ia memiliki satu apartemen yang memang kosong, dan jarang pula ia datang ketempat itu. Jadi tidak ada salahnya jika apartemen itu ditempati oleh Della.
"Gak usah om, nanti makin ngerepotin".tolak Della halus. Ia merasa tidak enak, dan lagi apa kata orang nanti, ia tak mau Yuda salah paham dan berimbas kehubungan mereka.
"Gpp kamu pakai aja, daripada kamu di sana banyak pria, ingat Della mereka juga pria normal, dan lagi hal ini tentu tidak gratis bukan, kamu bisa membayar nya dengan menjalankan rencana kita secepatnya".bujuk Arga tidak sepenuhnya salah. Memang benar dengan begini bukankah ia kian dekat dengan rencana mereka.
"Kenapa om gak berusaha sendiri aja si, saya yakin Yuda juga bakal mau ko dekat sama om". Ucap Della melenceng. Ya rencana yang mereka bahas adalah untuk mendekatkan kembali hubungan antara Yuda dan juga Arga. Entah ada angin apa Arga hanya ingin dekat kembali dengan anak tunggalnya itu, ia merasa kian jauh. Ditambah melihat kejadian Della hari ini kian membuka mata Arga. Ia tak ingin apa yang saat ini dialami oleh Dirgantara juga terjadi padanya.
"Kalo saya bisa saya juga gak bakal minta bantuan kamu Della".
"Tapi saya gak mau maksa Yuda ya om, kalo dia gak mau saya gak akan pernah maksa".tawar Della. Sebab ia tak ingin membebani Yuda dengan permintaan nya. Ia yakin apapun yang ia inginkan akan langsung dituruti oleh Yuda bahkan jika hal itu bertentangan dengan diri pemuda itu.
"Baik, sekarang kita lebih baik pergi ke apartemen yang akan jadi tempat baru kamu".
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Arga langsung menjalankan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah kediaman Dirgantara. Mengabaikan tatapan sendu dari pemilik rumah yang sejak tadi memperhatikan mobilnya dari jauh. Jika dipikir-pikir ada untungnya juga Arga tidak kembali tadi.
Kediaman Dirgantara
"Pa, kok papa diam aja Della, pergi pa, pergi".racau Celine yang hanya dianggap angin lalu oleh Dirga. Tadinya mereka ingin menyusul Della yang sudah keluar dari rumah, namun langkahnya terhenti saat melihat mobil milik Argantara yang masih berada di area rumahnya. Ia bisa melihat Della yang menatap sudut rumah ini dengan tatapan kosong, ia juga melihat bagaimana seorang Argantara yang dikenal tidak punya perasaan memeluk dan menenangkan putrinya yang sedang menangis. Harimau merasa tersentil ia marah pada dirinya sendiri. Ia juga sempat melihat senyum miring Arga saat mobil itu melaju dan menyadari keberadaannya.
"Biarkan dia, itu keinginannya".ucap Dirga tidak sinkron dengan hatinya . Ia meninggalkan istrinya dan pergi entah kemana, sedangkan Aksa sedari tadi seperti sedang mencerna apa yang sedang terjadi dalam rumah ini.
"Ma, mama istirahat aja, biar Aksa yang maksa Della untuk kembali ke sini".janji Aksa. Enak saja Della pergi dan mendapatkan kebahagian diluaran sana, sementara mereka disini hancur. Akan Aksa perlihatkan bagaimana dirinya yang sebenarnya. Akan ia buat hidup Della tidak tenang. Dan akan ia pastikan Della datang dan memintanya berhenti.
"Gak Aksa, mama mau Della, Della dan Della".racau Celine kian menggila. Ia seperti baru kehilangan jiwanya. Dan Aksa yang melihat itu kian mengeraskan rahangnya. memangnya siapa Della berani membuat mamanya menangis, yang bahkan ia sama sebagai anak tertua tidak pernah melakukan hal itu, ia selalu berusaha terlihat sempurna hanya agar mamanya bangga, dan tentu ia tak pernah membuat ibunya ini meneteskan air mata. Tapi Della dengan berani melakukan hal yang membuat jiwa lain dalam dirinya seakan meronta ingin keluar.
"Hikshh. Hikss...Della maafin mama".ucap Celine terduduk dilantai. Ia melihat semua sudut rumah dan kembali histeris tanpa alasan.
__ADS_1
Aksa yang tak tega melihatnya, memilih pergi dan masuk kedalam kamarnya dengan mata merah dan juga rahang mengeras.
"Kehidupan mu yang sebenarnya baru dimulai Fredella Dirgantara".gumamnya menyeringai