
Azka Kusuma, nama anak berusia 7 tahun itu anak dari pasangan Bian Wijaya dan juga Bian Kusuma, anak yang terlewat cerdas, rahang tegas, hidung mancung dan juga kesempurnaan lain yang anak itu miliki.
Ya tak terasa waktu sudah berlalu dengan begitu cepat, padahal rasanya baru kemarin kejadian yang menegangkan itu terjadi.
Dalam kurun waktu tujuh tahun ini banyak hal yang terjadi, mulai dari Aksa yang sudah menikah, dan verel yang kian bersinar dengan karirnya, akan tetapi sangat disayangkan Verel memutuskan untuk tidak pernah menikah.
Saat mengetahui jika Bian tak mengurus Aksa saat Della koma, Della marah , wanita itu mendiamkan Bian selama tiga hari membuat Bian kelimpungan.
Mengenai sikap Azka, anak laki-laki nya Della itu terlihat sangat positif pada Della, membuat Bian kadang kesal karena waktu berduaan dengan sang istri harus berkurang karena adanya anak diantara mereka. Bian memang sudah menerima Azka, tapi siapa yang tau jika pemuda itu hanya berlaku baik saat ada Della saja, dan untungnya Azka juga tidak terlalu memikirkan itu, yang penting ada ibunya yang mencintai pemuda itu dengan sepenuh hati.
Mengenai sikap Bian, pemuda itu bahkan pernah menampar Azka, karena membuat Della terluka, saat itu Azka dan Della sedang main kejar-kejaran yang membuat wanita itu jatuh dan kakinya terkilir, mengetahui hal itu Bian langsung emosi dan melampiaskan hal itu pada anaknya. Kata kata kasar juga sering Azka dapatkan, bahkan diusia yang begitu dini dia sudah merasakan kesakitan itu, tapi tentu saja semua itu Bian lakukan dibelakang Della.
"Bian, Aksa ayo dong cepatan kita mau ke pantai tau, nanti panas". Della memanggil dua laki laki kesayangan nya itu, saat ini mereka sedang berada di Bali, berlibur sekaligus merayakan kemenangan Azka atas Olimpiade yang baru saja pemuda itu ikuti.
"Iya mama, Azka ganteng datang". Entah darimana sikap percaya diri Azka datang, mungkin terlalu banyak bergaul dengan Verel.
"Aku datang sayang". Bian langsung mencium bibir Della sekilas saat pemuda itu sudah berada disamping Della, mengabaikan keberadaan Azka.
"Yok, pantai kami datang". Heboh Della menggenggam kedua tangan pemuda itu, Azka dan juga Bian hanya bisa pasrah, mengikuti keinginan nyonya besar keluarga ini
"Jangan lari sayang, nanti jatuh". Peringat Bian saat melihat Della dengan semangat berlari.
Della tak mengindahkan peringatan itu, hari ini dia ingin merasakan suasana pantai kembali', mengingat kesibukan Bian dan Azka yang padat membaut dirinya hanya sendirian dirumah, bosan dan tidak tau harus apa, apalagi Bian juga tidak mengizinkan dirinya menyentuh dapur sedikit pu.
"Ikhh seru banget, ayo Azka sini ikut mama, kita main dan siram Papa kamu". Ajak Della pada Azka yang juga sedang berenang tak jauh dari nya. Bian yang mendengar itu mendengus tidak suka, harusnya Della memilih dirinya sebagai teman , bukannnya menjadi musuh.
__ADS_1
"Hahaha, kasian banget muka kamu mas". Tawa Della pecah melihat muka masam Bian, tapi bukannya marah Bian malah terpukau dengan tawa lepas dari Della, wanita itu terlihat berkali kali lebih cantik saat sedang tertawa.
"Cantik". Gumam Bian saat itu, melihat banyak yang menatap kearah istrinya Bian menggeram marah, ingin rasanya dia membawa Della pergi dari sini, tapi tak mau egois sebab istrinya itu juga terlihat sangat bahagia.
"Mama jangan ketawa, banyak yang terpesona, Azka gak mau mama diambil orang lain". Bian melebarkan senyumnya saat mendengar kata kata anaknya, seperti nya selain jadi saingan Azka juga cocok dijadikan partner untuk menjaga Della dari para buaya diluaran sana.
"Ih, mama kan udah tua mana ada yang mau sih".jawab Della mengelus rambut Azka dengan sayang. Lagian mana ada sih yang mau sama perempuan buntut satu sepertinya.
"Tuh, lihat banyak yang natap mama, padahal kan mama gak pake baju yang seksi kayak yang lain".Azka menunjuk segerombolan pemuda yang menatap Della dengan tatapan kagum.
"Anak sama bapak sama aja, sama sama posesif". Cibir Della meninggalkan Bain dan Azka berdua, dia memutuskan untuk bermain agak jauh dari dua pemuda itu.
"Lah, sayang kok aku ditinggal". Teriak Bian tidak terima, tanpa mengajak Azka Bian langsung mengejar Della yang malah berlari saat tau dirinya dikejar.
"Dasar kekanakan". Gumam Azka dengan pelan, tapi tak urung dirinya juga ikut mengejar Bian dan Della.
"Sayang". Ucap Bian dengan nada persis seperti om om yang membujuk sugar baby nya.
"Papa, mama tunggu Azka". Teriak Azka yang tertinggal lumayan jauh dari orang tuanya.
"Hahhah udah aku capek banget". Della berhenti dan duduk dipinggir pantai
Bian yang juga memang kelelahan berhenti, dan ikut duduk disamping Della. Kemudian beberapa saat baru disusul oleh Azka yang sudah ngos ngosan.
"Kamu bahagia?". Tanya Bian pada Della, Bian hanya akan selalu memastikan kebahagiaan Della.
__ADS_1
"Banget, makasih sudah memberikan kebahagian ini". Ujar Della dengan senyum manis kearah Bian.
"Aku senang kamu bahagia, karena sampai kapanpun kebahagian kamu itu adalah prioritas utama aku". Bian menyenderkan kepalanya pada pundak Della.
"Aku juga, aku akan pastiin kebahagiaan mama jadi yang utama buat aku, bahkan diatas kebahagiaan ku sendiri". Azka berjanji untuk selalu membuat ibunya itu bahagia, mengingat semua cerita kata kata sarkas ayahnya tentang bagaimana dulu Della berjuang untuk mempertahankan dirinya membuat Azka berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membahagiakan ibunya ini.
"Hmm, kebahagian mama itu adalah kebahagian dua kesayangan mama ini". Ucap Della mencium kening Bian dan Azka secara bergantian.
"Hmm, dan mama itu lebih sayang sama Azka". Goda Azka untuk memancing ayahnya, hanya dengan cara seperti ini agar Bian mau berinteraksi dengan dirinya. Azka heran kenapa ayahnya itu terlihat sangat memusuhi dirinya, dari cerita yang om Verel katakan Bian hanya iri saat Della lebih perhatian pada nya. Dan memang itu terbukti, apalagi saat ibunya itu mengacuhkan sang ayah, maka Bian akan sangat terlihat emosi.
"Mana ada, kamu jauh lebih sayang sama aku kan sayang". Balas Bian tak mau kalah, sejujurnya Bian tau jika Azka hanya menggoda dirinya, tapi apapun itu Bian tak suka kalah dalam hal Della.
"Hmm gimana ya?". Della menatap Bian dan Azka secara bergantian seperti sedang meneliti siapa kiranya yang akan dai pilih.
"Mama gak bisa milih, kalian berdua kesayangan mama dan punya tempat tersendiri". Sambung Della membawa kedua orang itu dalam pelukannya.
Bian bahagia sangat, dirinya hanya berharap dan memastikan satu hal, yaitu Della tidak boleh tau tentang semua perbuatan kejam yang ia lakukan baik itu terhadap Azka, ataupun tentang dunia gelap yang selama ini ia geluti.
Hanya dengan cara itu agar kebahagian yang saat ini dia lakukan tetap bisa bertahan, dan akan Bian pastikan siapapun yang mencoba menyakiti keluarga tercinta nya akan lenyap saat itu juga, baik itu menyakiti Della atau Azka, Bian emang tidak bisa menerima Azka sepenuhnya akan tetapi Bian berjanji akan memberikan yang tebaik untuk Azka, akan dia pastikan Azka mendapatkan apapun yang dia impikan, sebab salah satu cara membuat Della bahagia adalah dengan membuat Azka terlihat bahagia. Meski Bian tak bisa janji bisa memberikan Azka kasih sayang, sebab semua kasih sayang dan cinta Bian sudah menjadi hak Della dan habis untuk wanita itu, hingga tak lagi tersisa meski sedikit.
Azka Kusuma, dia bahagia lahir diekeluarga ini, mempunyai ibu yang begitu menjaga dan mencintai dirinya, mempunyai kakek dan nenek yang juga begitu memanjakan dirinya, semua yang ia impikan akan dengan muda dia raih, tentu saja dengan uang dan nama kedua orang tuanya, terlahir dari keluarga Wijaya dan Dirgantara sekaligus menjadi impian banyak orang, teman temannya bahkan banyak yang iri saat ia menyebutkan nama keluarga nya, tapi sayang di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, ayahnya memang memberikan semua yang dirinya impikan, akan tetapi Azka bahkan sadar jika sang ayah tidaklah menginginkan kehadiran dirinya. Terbukti dari ayahnya yang terlihat tidak pernah menyanyangi nya, tapi Azka sadar dia tidaklah boleh serakah, mempunya Della sang ibu saja sudah cukup, untuk wanita itu Azka berjanji akan melakukan apapun untuk membuatnya selalu bahagia.
Fredella Dirgantara, setelah banyaknya luka yang ia terima, akhirnya hari bahagia itu tiba juga, saat ini dirinya bersukur atas apa yang ia miliki, dan berjanji akan menjaga semua ini, kehilangan Yuda memang berat untuk Della akan tetapi semua harus tetap berjalan, seseorang akan datang dan pergi dalam kehidupan kita, siap tidak siap semua harus berjalan, mungkin saat itu duniamu memang tidak akan baik baik saja, akan tetapi sampai kapan?,bukankah hidup juga akan terus berlanjut, jadi lebih baik bangkit tidak mudah memang tapi akan sangat lega saat kita bisa ikhlas. Fredella bersukur dengan apa yang saat ini dia miliki dan berjanji akan menjaga semua ini dengan semampu dirinya, semoga saja kelak semesta tak lagi bercanda dengan dirinya.
Keluarga itu terlihat bahagia menikmati udara pantai, keluarga dengan banyak rahasia didalamnya, semoga saja kebahagian selalu menyertai mereka, entah apa yang akan terjadi kedepan nya, kita doakan saja semua berjalan lancar.
__ADS_1
Segala luka dan kesedihan dari Fredella Dirgantara usai disini, kisahnya kita tutup sampai disini, semoga saja tidak akan ada Della , Della yang lain lagi, biarkan mereka menikmati kebahagian yang saat ini mereka dapatkan, biarkan segala kenangan tentang luka dan kesedihan yang lalu menjadi pelajaran, dan sejarah kehidupan mereka, Fredella Dirgantara setelah ini hanya berharap agar kamu tak lagi terluka, sudah cukup semua beban yang kamu tanggung, kini saatnya kamu menikmati hidup dengan segala kebahagian, walau sayapun tak tau bertahan sampai kapan.
...END...