
Kim Namjoon pernah berkata ". "Mereka bilang orang hidup untuk bahagia. Jika kamu benar-benar berpikir tentang apa itu kebahagiaan, itu tidak seberapa. Saat kamu bisa makan ramen setelah merasa sangat, sangat lapar, itulah kebahagiaan." - RM
Mungkin memang benar jika kita harus tau dan belajar lebih banyak lagi tentang arti dari bahagia itu sendiri. Tapi Kemabli lagi pada pemikiran dan juga prinsip tiap orang tidak akan pernah sama bukan.
"Gak nyangka ya teryata Della setega itu".
"Makanya jangan ketipu sama cover".
"Dasar munafik, berani banget dia nunjukin mukanya di sekolah ini lagi, cih gak tau malu".
"Kalo gue jadi dia sih, udah bunuh diri saking malunya".
"Mungkin dia gak dianggap kali sama ortunya".
"Gak pantas banget jadi anggota keluarga Dirgantara".
Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, banyak sekali hinaan dan juga kata kata yang tidak pernah dia dengar kini masuk dengan indah kedalam pendengarnya.
Namun ia abai, sebab jika menjelaskan pun percuma, dan lagi ia rasa orang orang yang membicarakan dirinya tak ada hak untuk mengetahui apa yang harusnya memang tidak perlu dipublikasikan.
"Hei..".
Sebuah tangan bersandar dengan nyaman di bahu Della. Ia yang tadinya berjalan dengan dagu yang terangkat dan lurus kedepan mau tidak mau menoleh kearah samping.
"Ngapain?". Tanyanya bingung.
"Gak kenapa napa, cuman mau jalan sama calon istri aja".
"Ngarep".
__ADS_1
"Liat aja nanti".
Della menyingkirkan tangan yang tadinya berada di bahunya, ia kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan pemuda yang sedari tadi memandangnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
"Woii...".
Bian yang sedari tadi melihat kearah badan Della yang sudah mulai menghilang, terkejut dengan suara mengejutkan yang datang dari arah belakangnya.
"Apaan lo ngab?". Verel mencebikkan bibirnya tak suka. Tidak bisakah Bian sekali saja bersikap baik padanya.
"Gak ada, btw gue mau ngomong serius". raut wajah Bian yang tadinya menjengkelkan kini berubah menjadi serius, sebab dilihat dari raut wajah Verel hak yang akan mereka bicarakan ini memang cukup penting.
"Apa?".
Verel menatap Bian dengan serius. Ia rasa masalah yang saat ini mereka hadapi tidak akan selesai jika tidak ada yang memulai untuk menyelesaikan nya. Ditambah komunikasi diantara mereka yang sudah mulai renggang, apalagi sejak dibubarkannya geng Tiger, mereka seperti layaknya orang asing.
"Gue mau nyelesain masalah kita, dan gue harap biarpun sekarang geng Tiger udah gak ada , kita berempat khusunya harus tetap melanjutkan persahabatan kita bukan?".
"Gue mau Lo ngalah sama Yuda, lagian Lo kan tau kalo saat ini Yuda lagi punya masalah yang besar tentang penyakitnya".
"Kenapa harus gue?". Tanya Bian bingung. Memangnya apa yang salah dan apa masalahnya menurutnya dia tidak ada salah dengan Yuda.
"Lo tau, Yuda lagi gak baik sama Della, dan Lo malah dengan santainya dekat dengan Della, padahal Lo tau seberapa sayang Yuda sama Della".
"Trus?".
"Ya Lo harus minta maaf, dan mulai jauhin Della". Bian menaikkan sebelah alisnya bingung. Apa ia tak salah dengar, menurutnya apa yang saat ini sedang ia lakukan tidak lah salah, lagipula Yuda dan Della sudah putus, dan yang lebih penting Della dan juga dirinya saat ini sedang terlibat dalam sebuah perjodohan.
"Gila, gue gak mau, dan Lo gak tau apa apa tentang gue". Verel terkejut dengan nada bicara Bian yang sangat datar. Ia tidak pernah melihat raut dan nada yang keluar dari Bian hari ini, terlebih lagi perkataan dari Bian, mungkin memang benar ia memang tidak pernah tau apapun tentang Bian.
__ADS_1
"Gue pamit, dan kalo Lo minta gue untuk sama sama pertahanan persahabatan kita , Yaudah okay ayo, tapi tidak dengan gue yang minta maaf dan tidak dengan gue jauhin Della, Lo minta gue jauhin Della buat mempertahankan persahabatan ini sorry gue gak bisa, lebih baik gue kehilangan jalin daripada gue kehilangan Della".
Verel tecengang mendengar perkataan Bian, apa ia salah jika ingin mempertahankan persahabatan yang sudah terjalin begitu lama, ia hanya tak ingin kebahagian yang mereka bangun hancur begitu saja, apakah efek dari jatuh cinta memang se dahsyat ini, entahlah ia pun tak tau lagi harus bagaimana, masalah terus datang silih berganti, belum lagi gosip tentang Della , ia harus menyelesaikannya secepat mungkin. Tak mungkin ia bisa membiarkan Della terus dalam keadaan seperti ini.
"Gue capek, anjing, kenapa jadi gini sih".umpat Verel berlalu untuk mencari Yuda.
Di atap gedung sekolah ini seorang pemuda sedang sibuk menikmati angin yang berhembus, ia bisa melihat banyaknya para siswa siswi yang berlalu lalang dibawah sana.
Biasanya ia melakukan kegiatan ini bersama dengan seorang gadis yang akan selalu menempati tahta tertinggi di hatinya. Entah sedang apa gadis itu saat ini.
Apakah ia makan dengan teratur, apakah tidurnya nyenyak, dan apakah orang tua dari gadis itu tidak datang mencarinya, dan yang paling utama apakah sekarang gadis itu masih mencintainya.
Ia tak ingin semua ini terjadi, menyakiti banyak pihak, namun saat ini menurutnya hal yang paling benar untuk dilakukan adalah hal ini, membubarkan geng Tiger, menjauh dari sahabat sahabat nya, memaafkan sang papa, dan juga meninggalkan sang kekasih yang masih sangat ia cintai.
"Disini Lo ternyata".
Bian mendudukkan dirinya disamping Yuda. Tadi setelah ia berbicara dengan Verel ia langsung datang ketempat yang bisanya Yuda datangi, dan benar pria itu sedang berada disini.
"Mau apa?". Tanpa mengalihkan pandangannya, Yuda bertanya dengan datar, khas dirinya.
"Gue mau ngomong tentang masalah kita".
Perkataan Bian berhasil menarik perhatian Yuda, terbukti dengan Yuda yang langsung memfokuskan dirinya untuk mendengar lebih lanjut, dan juga pandangan nya yang sepenuhnya mengarah pada Bian.
"Gue gak tau maksud Lo lakuin semua ini apa, dan jujur gue juga gak peduli tentang itu, tapi satu hal yang gue gak nyangka adalah Lo biarin Della jadi bahan gunjingan murid murid disini". Lanjut Bian saat dirasa Yuda mendengarkan nya.
Terdiam untuk mencerna apa yang Bian ucapkan. Tapi Yuda belum juga mengerti, menjadikan Della sebagai bahan gunjingan para murid, sumpah Samapi ia matipun ia takkan pernah melakukan hal itu, terlebih lagi pada Della.
"Maksud Lo?". Tak tahan dengan rasa penasarannya Yuda bertanya dengan raut datar namun penuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Lo kan yang udah nempel foto Della sama bokap Lo yang lagi pelukan di Mading sekolah, secara semua ini bermula dari Lo sendiri, sumpah gue gak nyangka Lo setega itu". Keluar sudah rasa kekesalan yang sudah lama Bian tahan.
"Mading, Della dan papa, pelukan, oh gue ngerti menurut lo siapa lagi yang lakuin itu kalo bukan gue".