FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
KESAKITAN YUDA


__ADS_3

Entah kesalahan apa yang sudah Yuda perbuat di kehidupan sebelumnya. Hingga kehidupan ini ia menerima begitu banyak derita, akan tetapi apapun itu ia harus mempertanggungjawabkannya bukan?, Semoga saja dengan apa yang saat ini ia alami dapat menebus kesalahannya.


"Ih dada gue sesak, ini juga kenapa kepala gue ikut ikutan berat coba".


Yuda memegang kepalanya yang terasa begitu berat, matanya memandang lurus pada pantulan dirinya di cermin, jika diperhatikan lebih cermat wajahnya sudah mulai pucat, matanya sayu, dan juga tatapan yang biasanya datar kini sudah mulai meredup.


"Tuhan kenapa harus saya?".


Yuda tak lagi bisa menahan berat badannya, pandangan yang mulai berat dan tak lama setelahnya semua terasa gelap.


Bian berjalan dengan langkah yang lumayan cepat menuju kearah kamar mandi, sesuatu dalam dirinya sudah bergejolak ingin dikeluarkan, ia bahkan tak lagi menyahut sapaan dari berbagai siswa yang ia lewati, entah mulai darimana iapun kini mulai berubah, sikapnya tak lagi sehangat dulu,. Bahkan wajahnya lebih datar dari Yuda, mungkin sudah saatnya ia menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Tak lagi ada yang ditutup tutupi, dan tak perlu lagi meminta pengakuan dari orang lain. Yang saat ini ia butuh kan hanya hati dan raga Della.


Saat akan masuk kedalam toilet, Bian melihat seseorang yang tergeletak tidak berdaya, awalnya ia ingin abai, namun kakinya malah melangkah melihat sosok itu. Ia seketika merasa tidak percaya mwliaht pemilik tubuh.


"Yuda". Panggilnya begitu saja.


Terkejut tentu saja, Bian menepuk nepuk pipi Yuda guna menyadarkan pemuda itu, tak mendapatkan respon Bian pun mulai mengangkat dan menggendong Yuda menuju kearah mobilnya yang berada diparkiran.


Ia abai dengan tatapan penasaran dari sebagian besar penghuni sekolah, yang saat ini ada diotak nya adalah ia harus cepat cepat sampai di rumah sakit.


Setelah menaruh Yuda di kursi belakang Bian dengan cepat melakukan mobilnya, beruntung satpam sekolahnya cepat tanggal dan tidak banyak bertanya.


Bian sesekali melihat kearah kursi belakang memastikan Yuda tetap aman,  dan ia kian melajukan mobilnya saat dirasa wajah Yuda kian pucat.


"Suster, dokter, tolongin teman saya cepat". Bian berteriak memanggil bantuan, dan seketika merasa lega saat Yuda sudah ditangani oleh dokter


Bian memang  tidak terlalu menyukai Yuda semenjak dia tau bahwa diantar Yuda dan Della ada hubungan sepesial, namun ia juga tak menyukai situasi saat ini, dia pikir info dari teman temannya tentang penyakit Yuda hanya bualan semata, namun hari ini ia bisa melihat seorang Yuda begitu lemah.


Cklek..


"Gimana keadaan teman saya dok?".


Sang dokter yang ditanya hanya bisa menatap Bian dengan pandangan terluka, dengan berat hati ia berkata.

__ADS_1


"Kondisi pasien kian melemah, jantung koroner yang ia derita sudah kian akut, dan akan lebih baik lagi jika teman anda segera menjalani operasi".


Bian syok, ia tak pernah menyangka jika penyakit yang diderita oleh Yuda akan separah ini. Seketika ia merasa bersalah, harsunya ia tidak egois dengan memikirkan dirinya sendiri.


"Kalo gitu saya pamit duku, saya harap adek segera memberikan kabar pada keluarga pasien". Dokter itu menepuk pundak Bian guna memberikan semangat.


Sementara di salah satu gedung raksasa, Argantara sedang sibuk dengan berkas berkas yang begitu menggunung. Saat ini ia harus menyelesaikannya pekerjaan yang sudah ia abaikan beberapa hari ini.


"Tok....tok.."


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Arga, ia menatap kesal pada pelaku.


"Masuk!". pintanya dengan nada tegas.


"Maaf mengganggu pak, diluar ada pak Dirgantara ingin bertemu bapak, penting katanya".


Lapor pelaku yang mengetuk pintu setelah ia berdiri tidak jauh dari tempat duduk Arga.


Arga berpikir sejenak, untuk apa kiranya Dirgantara datang ke kantor nya, ia rasa untuk masalah bisnis ia tidak pernah terlibat dengan keluarga Dirgantara tersebut. Satu satunya hal yang membuat dirinya terlibat adalah urusan Della.


"Ada apa gerangan seorang Dirgantara datang kemari?". Arga menatap Dirga dengan pandangan remeh. Ia bisa melihat jika lawan bicaranya ini sedang menahan emosi.


"Saya ingin anda membersihkan nama baik putri saya". Ucap Dirga tanpa basa basi. Ia baru saja mendengar gosip yang tidak mengenakkan tentang Putrinya, dan ia yakin penyebab nya adalah orang yang berada di depannya ini.


"Gosip apa?".tanya Arga tidak tau. Jujur ia memang belum tau ada gosip apa tentang Della dan Yuda juga tidak ada berkata apapun.


"Anda jangan pura pura bodoh". Dirga jadi geram sendiri. Sebenarnya ia bisa saja menghilangkan gosip itu dengan mudah. Tapi ia ingin orang ini bertanggung jawab.


"Maksudnya?".Arga bertanya dengan serius. Ia bahkan bangkit dari kursinya. Ia emang tidak tau apa yang dimaksud oleh Dirga.


"Gosip tentang anda dan putri saya, gosip yang mengatakan jika Della adalah penyebab anda bercerai dengan istri anda" ucap Dirga rendah.


Jujur Arga syok, ia tidak tau ada gosip seperti itu, sekarang bagaimana dengan Della, ia yakin pasti sekarang perempuan itu sedang menjadi bulan bulanan orang lain. Dan ia yakin Yuda tidak akan membantu banyak.

__ADS_1


"Intinya, saya mau besok gosip itu sudah hilang, terimakasih Waktunya".Dirga keluar dari ruangan Arga dengan membanting pintu.


Sedangkan Arga hanya menatap datar lada pintu itu, ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Yuda, namun sudah beberapa kali tapi ponsel itu beluk juga mendapat balasan.


Dengan langkah cepat Arga bergegas dan pergi menuju ke aprtemen uang saat ini di huni oleh Della.


Ia mengabaikan pekerjaan dan juga pertanyaan penasaran dari sekretaris pribadinya.  Yang saat ini ada diotak nya adalah cepat cepat ketempat Della. Ia takut cewek itu berbuat nekat.


Arga bahkan menghiraukan umpatan yang keluar dari pengendara yang ia lewati.


Saat sudah sampai dilobi, ia memarkirkan mobilnya sembarangan, dan cepat cepat naik kearah unit milik nya.


"Brakkkk...


Della yang sedari tadi duduk dengan pandangan yang kosong hanya menatap datar pada Arga yang baru saja mendobrak kamar unit ini. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya di atas lekukan kaki yang ia lipat.


Nafas Arga tidak lagi beraturan, ia berjalan kearah Della, dan membawa perempuan itu kedalam pelukan hangatnya.


"Hei gapapa, kamu gak salah". Arga memberikan kata kata penyemangat.


"Aku bukan pelakor, bukan aku kan om, aku gak salah". Della meracau di pelukan Arga.


Mendengar itu Arga sedikit merasa hatinya berdenyut nyeri, sungguh tak pernah terlintas dibenaknya untuk membuat Della kedalam masalah yang seperti ini.


"Bukan, kamu gak gitu, siapa yang bilang hm, kasih tau saya, biar saya hukum nanti"


"Tapi kata orang itu aku yang udah buat om cerai sama istri om, dan Yuda juga makin benci sama aku". Della menangis sesenggukan. Ia bingung takut, dan banyak lagi hal hal yang hinggap diotaknya.


"Bukan Della, kamu tenang ya, besok om janji masalah ini pasti udah beres".Arga janji akan mencari pelaku dan juga tidak akan memberikan orang itu lepas begitu saja.


Bian


Om Arga , Yuda masuk rumah sakit.

__ADS_1


Belum juga satu masalah selesai sudah ada masalah baru, Arga menyimpan kembali ponselnya dan kian erat memeluk Della.


__ADS_2