FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
KEMBALI KEHILANGAN


__ADS_3

Yuda Argantara kini namanya tinggal sebuah kenangan, dia telah pergi meninggalkan orang orang terkasih, dia telah kembali ketempat dimana harusnya tiap manusia pulang z ketempat yang disebut rumah yang sebenarnya.


Kediaman Argantara yang biasa nya sepi, saat ini berubah begitu ramai, namun bukan karena kebahagiaan akan tetapi rumah itu penuh dengan Isak tangis, dan yang paling memilukan adalah tangis dari seorang ibu yang ditinggal buah hatinya.


Lusi Argantara meraung di tepi peti jenazah milik putra sulungnya, ia meratapi segala hal yang sudah ia perbuat, dan tuhan seakan sedang menghukum dirinya.


"Arga bangun mama minta maaf, ayo bangun jangan tinggalin mama".


Lusi menatap wajah putranya, ia begitu tersiksa, tersiksa dengan segala kelakuan yang ia perbuat dahulu, kenapa ia begitu tega menyia nyiakan Yuda, kenapa ia begitu bigituh hingga menelantarkan anaknya ini.


"Yud, bangun nak, kamu mau mama masakin kak, katanya kamu juga pengen tidur sama mama, ayo nanti mama janji bakal ambilin rapot kamu, nemanin saat kamu lomba atau nemanin kamu belajar, atau apapun itu, asalkan kamu bangun ayo".


Lusi berkata dengan begitu lirih, membuat siapapun yang mendengarnya merasa begitu pilu, atau mungkin kasihan pada nasib anak ini, bayangkan saja penderitaan apa yang sudah ia lewati.


"Yud, gue gak nyangka Lo pergi secepat ini, rasanya kayak mimpi, baru aja kemarin kita ketemu, yang tenang disana Yud, makasih untuk pelajaran berharga yang Lo kasih selama ini".


Verel berbicara tepat disamping kuping Yuda, matanya tidak bisa untuk tidak menangis, ia sedih dan mungkin marah, kenapa dirinya tidak tau jika sahabat atau orang yang sudah ia anggap keluarga ini berjuang dengan begitu keras, sedangkan ia tidak bisa menemani.


Saat mendengar kabar jika Yuda sudah tidak ada, ia tertawa begitu kencang, kemudian marah pada pemberi kabar, alasannya ia tidak suka ada yang bercanda dengan begitu tidak baik, namun setelah mendapat info yang valit ia langsung terjatuh dan berakhir seperti orang bodoh, badannya terasa lemas, dan pikirannya seketika kosong.

__ADS_1


Bahkan sejak sampai dirumah duka, yang ia lakukan hanya melamun melihat orang orang yang berlalu lalang, Verel merasa seperti orang bodoh ditempat ini, saat mencoba mendekati Yuda yang terbujur kaku, ia tidak kuat dan langsung berlari kearah kamar mandi, menumpahkan segala rasa sesak di dada, ia memukul mukul dadanya berharap rasa sesak itu menghilang, tapi kenapa kenangan yang lewat, menambah rasa sesak itu.


"Arghhhh, kenapa harus secepat ini tuhan, kenapa harus orang sebaik dia".


Ucap Verel pilu.


Sekitar pukul 14.45 pemakan dilakukan, banyak orang yang datang untuk mengantarkan Yuda ke tempat peristirahatan terakhirnya, anak anak geng Tiger pun turut hadir, mereka ingin memberikan penghormatan terakhir pada ketua mereka tersebut. Siapa yang menyangka orang sehebat dan sebaik Yuda pergi terlebih dahulu menghadap sang khalik.


"Yuda Argantara Bin Argantara"


Batu nisan baru yang menandakan disinilah Yuda berada saat ini, para pelayat sudah mulai kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan kedua orang tua Yuda, Verel dan juga anggota Tiger.


"Tante om kami pamit ya, dan buat bang Yuda yang tenang disana ya bang, sekarang penderitaan Abang udah berakhir gak ada lagi rasa sakit fisik maupun batin, kita pasti akan ingat Abang sebagai orang yang selalu menjadi sandaran untuk Tiger, Abang akan terkenang dalam hati kami untuk selamanya".


"Yud gue pamit ya, sesuai janji gue , sekarang tugas gue nambah satu kan, yaitu mastiin Della bersama orang lain, dulu gue pikir perkataan Lo cuman lelucon Yud, tapi hari ini gue sadar itu semua pertanda dari Lo, gue janji bakal jagain dia sepenuh hati, Lo tau dia terpukul banget, bahkan sampai sekarang dia belum sadar dari pingsannya, saat dia sadar nanti gue gak tau mau ngadain dia kek mana Yud,tapi tenang aja seberjalannya waktu semua akan baik baik aja, Lo yang tenang disana gue pamit , nanti gue mampir lagi".


Verel pergi dengan luka yang berada didalam hatinya, dan jangan lupakan tanggungjawab baru yang dipikulnya.


"Saya duluan".

__ADS_1


Arga juga ikut pergi dari sana, berada lebih lama di dekat makam Yuda semakin membuat dadanya sesak, ia seperti tau betapa gagal dirinya, betapa ia tidak becus dan tidak pantas disebut sebagai seorang ayah.


"Mama pamit ya, baik baik disini, Yud mama benar benar tidak menyangka kamu pergi secepat ini, tapi yang jelas mama minta maaf karena udah gagal jadi seorang ibu untuk kamu, mama juga minta maaf untuk segala penderita an kamu selama ini."


Lusi mengecup batu nisan anaknya, meninggalkan Yuda, beserta penyesalan yang begitu dalam di hatinya, penyesalan yang akan ia bawa sampai ia menutup usia.


Yuda terimaksih karena sudah begitu kuat, saya tau rasanya berada dalam keluarga yang tidak menganggap kita, saya juga tau betapa sakitnya saat segala usaha yang kita lakukan tidak terlihat oleh mereka, dan terlebih betapa kita iri melihat orang lain hidup harmonis dengan keluarganya. Terimakasih sudah mengajarkan untuk tetap kuat di saat badai menerpa, saat tak lagi ada yang peduli kamu tetap berdiri kokoh, dan terimakasih untuk segala kenangan yang sudah kamu berikan, namamu akan begitu kekal dalam cerita kehidupan kami.


Della bangun dari pingsannya, ia menilai kamar yang saat ini ia gunakan, bau khas Yuda tercium dengan begitu jelas, sudah pasti kamar ini milik Yuda. Della tersenyum merasa semua yang tadi ia alami hanya mimpi sesaat.


Della berjalan kearah meja belajar milik Yuda, disana masih terpasang dengan rapi potret mereka berdua. Betapa bahagianya mereka dulu, Della kemudian beralih pada lagi meja tersebut, ia mengerutkan dahi saat menemukan sebuah surat, dan disana jelas tertulis untuknya. Aha Yuda kenapa begitu sweet.


Mengambil surat itu sebelum ketahuan Yuda, Della turun ke bawah untuk mencari keberadaan Yuda, tapi yang ia temui adalah orang orang yang tidak ia kenal dengan baju hitam.


"Maaf kenapa kalian pake baju hitam?, dan kok rame sih?, ada acara kok aku gak tau?"


Salah satu ibu itu menatap Della dengan pilu, ia mendekat dan memeluk Della erat, tau jika gadis ini merupakan kekasih dari orang yang baru saja dikebumikan tersebut.


"Yang sabar ya nak, saya tau ini gak mudah , tapi kamu harus ikhlas, den Yuda sudah tenang disana".

__ADS_1


Ujar ibu itu, yang tak lain adalah orang yang juga berkerja di rumah ini.


"Hahahh becanda ibu gak lucu , saya gak suka". Ucap Della sinis.


__ADS_2