FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
BIAN YANG SEBENARNYA


__ADS_3

Nampaknya hari ini Bian kembali harus melenyapkan tikus pengganggu yang datang dengan sendirinya. Bian tidak akan pernah mengampuni orang orang yang dengan berani menyakiti sang kekasih baik itu secara sengaja atau mungkin hanya ketidak sengajaan. Baginya menyakiti Della berarti siap untuk mengakhiri kehidupan di dunia. Akan tetapi sebelum Bian membasmi tikus tersebut, dia harus lebih dulu menenangkan sang kekasih.


"Bian". Panggil Della dengan suara khas bangun tidurnya.


"Kenapa hm?". Perhatian Bian beralih pada Della yang sejak tadi tertidur di kamar yang berada dalam ruangan miliknya ini.


Tanpa kata Della berjalan dan duduk tepat menghadap Bian, matanya sembab karena menangis, namun apapun itu bagi Bian Della tetap terlihat sempurna.


"Aku mau main sama teman, aku izin ya". Della menatap takut takut kearah Bian, takut pemuda itu tidak memberikan izin, sejujurnya Della hanya berbohong, dia hanya tidak ingin diganggu untuk beberapa jam kedepan, ada satu tempat yang belum sempat Della datangi semenjak dirinya kembali dari Jepang.


Bian menatap Della sejenak, sejujurnya dia tidak begitu suka bila Della pergi tanpa ada dirinya, membayangkan Della menjadi pusat perhatian saat diluar membuat emosinya akan meledak, tetapi kembali lagi, untuk saat ini mungkin dia akan memberikan Della kebebasan, toh nantinya Della akan jarang melihat dunia luar saat mereka sudah terikat lebih serius.


"Ok, tapi ingat jangan lama lama, ponselnya juga jangan dimatikan, sama tetap hati hati". Putus Bian pada akhirnya. Diusapnya rambut lembut Della.


"Yey, makasih sayanggg". Girang Della memeluk Bian erat. Della bergegas keluar dari ruangan tersebut, sebelum sampai di depan pintu dia berbalik dan menatap Bian polos.


"Kamu gak mau nganterin aku sampe depan?". Tanyanya yang melihat Bian masih sibuk dengan ponselnya.


"Tentu saja akan baby, yok". Balas Bian bangkit dari duduknya dan langsung merangkul pinggang Della erat.


Sepanjang kantor ini Della dan Bian menjadi pusat perhatian, pasalnya selama ini tidak ada satu orang pun yang berani dekat dengan bos mereka, jangankan dekat, menatap saja tidak berani, ditambah yang mereka tau, siapapun wanita yang datang dan mengaku sebagi kekasih dari sang CEO, tidak akan pernah lagi terlihat setelah nya. Tapi hari ini bukan sang wanita yang terlihat ganjen dan menempel melainkan sang atasan yang terlihat begitu posesif dan sangat mencintai wanita itu, terlihat dari tangan yang merangkul posesif dan juga mata yang menatap tajam karyawan pria yang menatap wanita itu.


"Udah nyampe, aku pergi ya". Bian mengangguk saat miliknya ini pamit, sebelum Della pergi Bian lebih dulu mencium kening Della dengan lembut.


Cup


Tanpa diduga Della balas mencium Bian, yang membuat cowok itu tertegun, ini adalah pertama kalinya Della mencium Bian, selama ini dia lah yang selalu memulai lebih dulu, dan kalian tau Della menciumnya tepat di bibir, bibir woy, cuman sebentar memang, tapi efeknya luar biasa dahsyat, ah efek jatuh cinta memang sehebat ini.


"Manis banget sih". Gumam Bian melihat Della yang berlari setelah mencium nya, Bian yakin saat ini Della pasti sedang malu dan blushing hebat, andai dia bisa melihat raut wajah malu cewek itu sudah dipastikan dia tidak akan tahan.


Setelah melihat mobil yang Della tumpangi sudah berlalu ,Bian kembali masuk kedalam kantornya, wajah yang tadinya lembut kembali seperti sedia kala, datar dan tidak tersentuh.

__ADS_1


Sedangkan ditempat yang lain, seorang wanita terus memekik dan mengumpat, tidak terima dengan keadaan nya saat ini, bayangan akan menjadi nyonya Wijaya langsung lenyap saat beberapa jam yang lalu saat bos dengan teganya menendang dirinya.


"Lepasin gue anjing, jangan macam macam sama gue, gue itu calon nyonya Wijaya, calon bos Lo semua". Adel wanita itu terus mengumpat, sedari tadi dia sudah menjelaskan namun orang orang diruangan ini malah menertawakan keadaan nya.


"Ngimpi, bos gak mungkin mau sama modelan kayak Lo". Sahut salah satu dari mereka, para pengawal dengan badan besar itu menatap Adel dengan begitu rendah.


"Anjing, liat aja nanti". Kekeh Adel dengan tidak tau dirinya.


Tok..tok..tok..


Suara gesekan sepatu dengan lantai mengalihkan pandangan mereka, disana seorang pemuda dengan pakaian serba hitam datang dengan belati di tangannya.


Para pengawal menunduk hormat saat pemuda itu mendekat, sejujurnya mereka lebih suka mengeksekusi korban tanpa adanya campur tangan dari bosnya ini, percayalah saat bosnya turun tangan artinya semua tidak akan berjalan dengan cepat, mereka akan melihat iblis dalam bentuk malaikat. Tidak pernah ada ampun dan tidak pandang bulu.


"Bian, liat mereka jahat banget sama aku". Adu Adel dengan nada manja, berharap bosnya ini mau menolong. Adel seakan lupa jika keberadaan dirinya disini adalah kerena kehendak dari bosnya.


"Trus?". Tanya Bian santai, diangkatnya dagu Adel membuat wanita yang sedari tadi terikat di kursi itu terpaksa melihat Bian yang berdiri tepat didepannya, lehernya seakan terlepas, Bian mengangkat dagunya dengan tinggi.


Dengan sekali tarikan Bian sudah menggores bibir itu dengan pisau yang dia bawa, membuat Adel menatap tidak percaya pada ada yang terjadi, bibirnya terasa perih.


"Dan tangan ini dengan berani nya menyakiti milik gue, yang bahkan saya jaga dengan begitu ketat". Bian lanjut beralih pada tangan Adel, dengan pelan dia memotong tangan tersebut, seakan sedang memotong daging untuk disantap, pelan dan penuh dengan penghayatan.


Sing..


"Akhhh, bunuh gue, bunuh gue iblis". Ucap Adel pelan, rasanya dunianya hancur, rasa sakit akibat tangannya yang sudah tak lagi ada ditempat nya tidak membuatnya ragu.


"Oh tentu sayang, tapi bukankah kematian terlalu cepat, kenapa tidak bermain lebih dulu". Ungkap Bian dengan seringainya.


Kalo ini Bian beralih pada, tangan satu lagi, tak jauh berbeda dengan tadi, setelah puas bermain, dan Adel sepertinya juga sudah kembali ketempat seharusnya, kini Bian tidak dengan berperasaan nya memotong kepala Della dengan tidak berperasaan nya.


Tidak sampai disitu saja, Bian kini malah memotong motong tubuh itu hingga tak bersisa, tapi jelas saja seperti biasa kepalanya selalu Bian simpan dan akan dia kirim ke keluarga korban. Bukan apa apa dia hanya senang saja, jika kalian tanya kenapa tidak ada yang melaporkan dirinya tentu saja karena kekuasaan yang dia punya, terlebih lagi dia selalu menitipkan uang satu koper disamping kepala tersebut.

__ADS_1


Para pengawal yang tadinya berada disana, bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan jika dia ada diposisi itu. Dari sini para pengawal itu selalu berhati-hati dalam bertindak, jika tidak nyawa yang akan jadi taruhannya.


"Bereskan sisa nya"perintah Bian yang langsung diangguki oleh mereka, walau jijik tapi mereka harus melakukan ini, ditambah bayaran yang mereka terima pun tidak main main.


"Gadis gue ada dimana?". Tanya Bian pada Raka yang senantiasa mengikuti dirinya, noda darah pada baju Bian sudah tak lagi terlihat, jelas saja dia langsung membuang pakaian yang dia gunakan untuk menghukum manusia berdosa tadi.


"Nona sedang berada di pemakaman tuan". Jawab Raka, dia meneliti wajah bosnya yang seperti nya mengeras, tapi mau bagaimana lagi inilah kenyataan.


"Kita kesana" perintah Bian berjalan lebih dulu, dia lupa jika tadi Della meminta untuk tidak diganggu, tapi ya namanya juga Bian, mana mau dia meneurut, rasanya dia sudah rindu dengan Della.


Raka hanya bisa mengikuti kemauan bosnya, dengan telaten dia membawa mobil yang akan membawa mereka ketempat sang nona berada.


Sedangkan di pemakaman.


Della menatap makam itu dengan sendu, rasanya masih sama , menyesakkan, tiap kali dirinya berada disini air matanya pasti selalu jatuh, makam yang sudah mulai ditumbuhi rerumputan itu adalah tempat dimanakah orang paling berharga untuk Della berada. Orang yang menjadi sejarah menyenangkan sekaligus menyakitkan untuk Della.


"Hai Yud, apa kabar, gak terasa ya, udah selama ini kamu pergi ".


"Disana kamu pasti bahagia kan?,harus kamu harus bahagia, oh ya aku udah lanjutin sekolah aku tau, ketempat yang menjadi impian kita dan juga dengan jurusan impian kamu, aku ambil jurusan yang jadi mimpi kamu Yud, kamu mau Desain, itu impian kamu kan. Tapi sayang banget kayaknya aku gak bisa lanjutin impian kita, aku gak sanggup , kamu kenapa pergi secepat itu sih.". Della menghela nafas, air matanya turun tanpa bisa dicegah.


"4 tahun, dalam jangka selama itu aku masih ingat dengan jelas semua tentang kamu, tidak ada satu pun yang terlewat, hebat ya aku?, Oh ya aku juga mau ngasih tau bentar lagi aku mau tunangan sama Bian sahabat kita, dia bisa membuat aku benar benar merasa berharga setelah sempat hancur karena kepergian kamu, Yud dukung aku ya, aku harap kamu juga bahagia dengar kabar ini, aku ingat banget katanya kamu juga mau nikah sama aku saat kita udah meraih mimpi kita, akan tetapi kayak nya semua itu tinggal mimpi aja".


Lagi lagi Della tak bisa membendung air matanya, Della menenggelamkan kepalanya diatas tanah kuburan tersebut, kenangan itu akan selalu melekat, tak mudah melupakan orang yang selalu berada disisi kita saat terjatuh, tidak mudah mengganti orang lama dengan orang baru, bahkan jika orang baru itu lebih baik, akan selalu ada tempat untuk orang lama, ditambah Yuda begitu banyak peran dalam kehidupan Della.


Della masih ingat dengan betul, saat dulu Yuda berkata untuk tidak bergantung padanya, ah ternyata maksud dari kata kata itu adalah ini, cowok itu akan pergi dan Della memang harusnya bisa berdiri diatas kaki nya sendiri. Yuda terlalu berharga untuk dilupakan, dan mungkin tidak akan pernah bisa.


"Yuda Argantara kelak aku janji saat punya seorang anak ,namamu akan menjadi nama anak ku, aku mau kamu selalu dekat sama aku". Ungkap Della mengelus batu nisan itu.


"Ngapain kamu disini?"


.

__ADS_1


__ADS_2